Berita

PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum)

Bisnis

Kasih Ke BUMN Saja, DPR Tolak PIP Ambil Alih Inalum

Tingkatkan Produksi Alumunium, Pemerintah Butuh 1,4 Miliar Dolar AS
SENIN, 19 NOVEMBER 2012 | 09:30 WIB

DPR tetap menolak Pusat Investasi Pemerintah (PIP) mengambilalih PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum).

Anggota Komisi XI DPR Achsanul Qosasih mengatakan, sebaiknya pengambilalihan Ina­lum dilakukan Badan Usaha Mi­lik Negara (BUMN). Kalau me­lalui PIP, ditakutkan bakal terjadi polemik seperti Newmont.

“Tapi kami tetap dukung pe­merintah mengambil Inalum dari Jepang,” katanya kepada Rakyat Merdeka, Kamis (15/11).

Menurut dia, jika pemerintah dalam hal ini Kementerian Ke­uangan (Kemenkeu) tetap mau mengambil Inalum melalui PIP, harus didiskusikan terlebih da­hu­lu. Apalagi tujuan PIP untuk pembiayaan pemba­ngun­an in­frastruktur.

“Saat ini PIP terkesan peru­sa­haan yang khusus ngusurin tam­bang. Kami serahkan tek­nisnya kepada pemerintah,” cetusnya.

Ditanya apa pemerintah perlu membuat BUMN baru untuk Ina­lum, politisi Partai De­mokrat itu berpendapat tidak perlu. Achsa­nul me­nga­takan, sebaiknya pe­merintah menggunakan BUMN yang su­dah ada saat ini.

Dia juga menyatakan, du­ku­ngan DPR terhadap pe­me­rintah dengan disetujuinya anggaran Rp 5 triliun pada APBN 2013 un­tuk mengambil Inalum.

Dirjen Kerja Sama Industri In­ternasional Kementerian Per­in­dustrian (Kemenperin) Agus Tja­hajana mengatakan, pihaknya siap ambil alih Inalum pada 2013.

“Pemerintah tetap ingin meng­ambil kepemilikan itu dari Pe­me­rintah Jepang. Kita tetap ingin Inalum dimiliki Indonesia dan perusahaan tersebut terus ber­kembang,” katanya kepada Rak­yat Merdeka.

Persoalan siapa yang nanti me­ngambilalih, dia menye­rah­kan se­penuhnya kepada Kemen­keu. Menurut Agus, saat ini tugas Ke­menperin hanya me­lakukan ne­go­siasi dengan Jepang.

“Apakah itu melalui PIP atau BUMN, kita serahkan kepada pemerintah. Kami hanya ingin Inalum bisa dikelola Indonesia,” ujarnya.

Untuk pengembangan Inalum, pemerintah membutuhkan ang­garan 1,2-1,4 miliar dolar AS yang akan digunakan untuk me­ningkatkan kapasitas produksi alumunium dari 200.000 ton menjadi 410.000 ton.

Agus menambahkan, produksi Inalum sepenuhnya untuk me­menuhi kebutuhan dalam negeri. Seiring bertumbuhnya sektor in­dustri, Inalum akan memasok bahan baku alumunium bagi pa­sar dalam negeri pasca peng­am­bilalihan dari pihak Jepang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa me­ngatakan, tidak penting siapa yang nantinya akan mengelola Inalum. Menurutnya, yang lebih penting adalah pada 2013 Ina­lum sepenuhnya kembali ke stake­holder Indonesia.

“Kalau sudah untuk sendiri kita bisa gampang memilihnya bisa Antam, bisa BUMN baru, bisa macam-macam,” kata Hatta.

Dia menambahkan, nantinya yang akan menjalankan Inalum memang harus dari BUMN. Se­bab, ada kewajiban untuk mem­bayar sisa aset sekitar 500-700 juta dolar AS. “Ini pe­m­bi­aya­annya bisa dari PIP, bisa langsung BUMN. Opsi itu ter­buka saja,” ucap Hatta.

 Untuk diketahui, rapat tim perumus (Timus) draf RUU APBN tahun anggaran 2013 antara Badan Anggaran (Bang­gar) dengan pemerintah tidak menyetujui usulan pemerintah agar pembelian dan penge­lolaan aset Inalum dilakukan langsung PIP.

 Namun, setelah melalui ne­gosiasi yang alot akhirnya Ba­dan Anggaran (Bang­­gar) me­nye­tujui peme­rin­tah mem­beli saham Inalum. Untuk meng­akui­sisi 58,9 per­sen saham dari Jepang, pem­e­rintah telah meng­­alokasikan dana Rp 7 triliun.

Dalam kesepakatan dengan DPR, pembelian Inalum tidak akan menggunakan PIP, namun akan langsung melalui peme­rintah sendiri.

Saat ini kepemilikan Inalum terbagi antara Pemerintah Indo­nesia 41,12 persen dengan kon­sorsium swasta-Pemerintah Je­pang yang tergabung dalam Nippon Asahan Alumunium (NAA) 58,88 persen. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Wall Street Hijau Berkat Inflasi AS Melandai

Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16

Danantara Dorong Hilirisasi Mineral untuk Wujudkan Indonesia Pemain Utama Global

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55

AS Serang Iran dan Tutup Akses Pelabuhan di Selat Hormuz

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40

Logam Mulia Melesat Didorong Melandainya Inflasi AS, Emas Tembus 4.000 Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20

Bursa Eropa Rebound, Inflasi AS Melandai Redakan Kekhawatiran Investor

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11

PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52

Kuliner Viral Hair Croissant Tak Bisa Disertifikasi Halal

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21

Prancis Mati Kutu

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05

Karyawan BUMN Bakal Diwajibkan Salurkan Zakat Lewat Baznas

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37

TPPU Bukan soal untuk Apa Uangnya, tapi soal Asal Usulnya

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34

Selengkapnya