Berita

Nusantara

Sampah di Jakarta dan Cara Mutakhir Penanganannya

SABTU, 17 NOVEMBER 2012 | 17:26 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, sampah bergerak linier dengan perkembangan kehidupan manusia itu sendiri. Semakin kompleks alur kehidupan manusia, terutama di kota-kota besar, jumlah sampah juga akan terus bertambah.

Hal itu menjadikan persoalan penanggulangan sampah sebagai prioritas Pemprov DKI Jakarta. Volume sampah di Jakarta sekitar 6.000-6.500 ton per hari. Melihat angka tersebut, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Kebersihan, mengembangkan berbagai teknologi pengolahan sampah.

Dinas Kebersihan mengembangkan pengolahan sampah lewat program 3R (reduce-reuse-recycle). Saat ini terdapat total 94 titik 3R yang tersebar di lima wilayah kota, serta mampu mereduksi sampah hingga 350 ton/hari (5 persen dari total sampah Jakarta).


Di tingkat menengah, Dinas Kebersihan mengembangkan pengolahan sampah melalui intermediate treatment facility (ITF). Selain fokus pada pengolahan sampah di dalam kota, ITF juga bertujuan mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Pola pengolahan sampah di ITF berbasis teknologi tinggi, modern, tepat guna, dan ramah lingkungan. Tujuan akhirnya, mengubah sampah menjadi sesuatu yang berguna (from waste to energy).

Saat ini terdapat tiga ITF, yakni: ITF Sunter, ITF Cakung-Cilincing, dan ITF Marunda. ITF Cakung Cilincing mulai beroperasi pada Agustus 2011, dengan teknologi Mechanical Biological Treatment. Lewat teknologi tersebut, sampah anorganik didaur ulang, sampah organik difermentasi untuk menghasilkan bahan bakar pembangkit listrik atau sumber BBG. Tahun ini, dengan total lahan seluas 7,5 ha, ITF Cakung Cilincing mampu mengolah sampah hingga 1.300 ton per hari.

ITF ini juga menghasilkan energi listrik sebesar 4,95 MW atau menghasilkan energi BBG sebanyak 445.699 MMBTU. Sementara itu, ITF Sunter akan berdiri di atas lahan seluas 3,5 ha. ITF ini direncanakan mampu mengolah sampah hingga 1.200 ton per hari. Berbeda dengan ITF Cakung Cilincing, sampah di ITF Sunter nantinya diolah dengan teknologi berbasis incinerator. Selain karena minimnya lahan, incinerator juga dinilai memiliki kelebihan, antara lain mampu mereduksi sampah hingga 90 persen dan mengurani emisi gas ruang kaca. ITF terakhir, yakni Marunda direncanakan mampu mengolah sampah hingga 1.500 ton/hari.

ITF ini rencananya akan dibangun di atas lahan seluas 12 ha dan merupakan bagian terintegrasi dari Kawasan Ekonomi Khusus Marunda. Di tingkat akhir, pengolahan sampah Jakarta dilakukan di TPST Bantar Gebang sebagai TPST regional.

Pengolahan di TPST Bantargebang juga dikelola dengan basis teknologi tinggi, terutama untuk menghasilkan energi listrik.

Salah satu teknologi yang dikembangkan saat ini yakni sanitary landfill dengan metode Gassifikasi Landfill - Anaerobic Digestion (GALFAD). Gas methane dari sampah organik dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Sementara sampah anorganik diolah dengan teknologi gassifikasi.

Saat ini, PLTS Bantargebang telah mampu memproduksi listrik sebesar 10,5 MW. Sementara itu, kapasitas penuh sebesar 26MW ditargetkan tercapai pada 2023.

Guna mendukung pencapaian target tersebut, saat ini telah dibangun gas engine, fuel skid, flare stack, dan trafo. PLN bersedia membeli listrik dari PLTS Bantargebang senilai Rp 850 per KWH, jauh dari rata-rata harga pembelian dari pembangkit konvensional.

Selain mengolah sampah menjadi energi listrik, TPST Bantargebang juga melakukan kegiatan pemilahan, pengomposan, dan daur ulang. Saat ini telah terbangun tiga hanggar pengolahan kompos dengan kapasitas 300 ton/hari. Semua langkah pengelolaan sampah di Jakarta baik tingkat sumber, menengah, atau akhir dilakukan sesuai masterplan persampahan DKI Jakarta 2012-2032. [ald]

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya