ilustrasi
ilustrasi
“Selama ini energi dari fosil diberikan subsidi yang besar, sehingga energi lain tidak bisa berkembang. Padahal kita punya energi lain yang bisa dikemÂbangÂkan,†kata Sekretaris Ditjen Energi Baru Terbarukan dan KonÂservasi Energi (EBT-KE) Kementerian ESDM Djajang Sukarna.
Menurut Djajang, ada berbagai masalah yang dihadapi dalam mengembangkan energi baru terÂbarukan seperti pemberian inÂsentif dan fiskal serta terbaÂtasÂnya pengembangan sumber daya maÂnusia. Namun, pemerintah tetap komitmen mengatasi berÂbagai permasalahan tersebut.
Menurut Djajang, pemerintah akan mengembangkan PemÂbangÂkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan menggunakan produk lokal sebesar 40 persen. PemeÂrinÂtah juga akan memberikan inÂsenÂtif pada produk lokal tersebut.
“Pemerintah mendukung terÂciptanya energi baru terbarukan dan ada dalam Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2006,†ujarnya.
Untuk itu, pemerintah akan meÂngembangkan 150 megawatt (MW) listrik tenaga surya di seluruh Indonesia.â€150 megawatt itu Pulau Jawa tidak termasuk, tapi tergantung kebijakan menÂteri,†kata Djajang.
Dia mengaku dalam rapat kerja PLN tahun 2010-2014 dibutuhÂkan tenaga surya sebesar 142 MW, tetapi Kementerian ESDM memÂbulatkannya menjadi 150 MW.
Menurut dia, PLTS itu ditujuÂkan untuk mengganti daerah yang selama ini mengÂgunakan listrik dari diesel menjadi memanÂfaÂatkan tenaga surya.
“PLN tidak menjelaskan detail kebutuhan per tahun, misalnya pada 2010 perlu 10 megawatt. Tapi karena kami anggap ini belum jalan maka kami seleÂsaikan sekaligus,†jelasnya.
Djajang menyatakan, sehaÂrusÂÂnya PLN menyebutkan daeÂrah mana saja yang membuÂtuhkan energi tersebut karena kalau piÂhaknya yang menentuÂkan dikhaÂwatirkan sambungÂannya tidak cocok.
Kementerian ESDM, katanya, memiliki batas waktu untuk meÂnunggu jawaban PLN meÂngenai daerah mana saja yang membuÂtuhkan energi itu.
“Kalau mereka tidak jawab kan susah. Nanti kami akan konsulÂtasikan ke Pak Menteri ESDM terlebih dahulu,†katanya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36
Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04
Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29
Senin, 06 Juli 2026 | 14:49
Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53
Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00
Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14
UPDATE
Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21
Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37
Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34