Berita

ilustrasi, Aksi Sweeping Buruh

Bisnis

Aksi Sweeping Buruh Bikin Industri Alas Kaki Terpuruk

SENIN, 12 NOVEMBER 2012 | 08:19 WIB

Hingga akhir tahun kinerja ekspor industri alas kaki nasio­nal diperkirakan hanya menca­pai 3,5 miliar dolar AS akibat krisis glo­bal serta aksi sweeping oleh se­rikat kerja (SP).

“Tahun lalu kinerja ekspor alas kaki dari Indonesia hanya 3,3 mi­liar dolar AS dan hingga akhir tahun ini nilai ekspornya sekitar 3,5 miliar dolar AS. Peningkatan nilai ekspor yang hanya sedikit itu karena menurunnya permin­taan di pasar Amerika Serikat (AS) dan Eropa,” kata Sekjen Asosiasi Persepatuan Indonesia (Apresindo) Binsar Marpaung.

Selain menurunnya permintaan alas kaki di pasar internasional, menurut Binsar, aksi sweeping yang dilakukan buruh juga menghen­tikan proses produksi.

Menurut Binsar, hampir 1 bu­lan pabrik sepatu di kawasan industri tidak bisa melakukan produksi karena aksi tersebut yang menun­tut penghapusan sis­tem outsour­cing.  Ini membuat daya saing in­dustri alas kaki nasional semakin terpuruk.

“Untuk 2013, pelaku usaha pe­si­mis kinerja ekspor alas kaki nasional bisa meningkat. Sebab, industri alas kaki nasional di­ham­­bat dengan berbagai masa­lah,” ujar Binsar.

Direktur Industri Tekstil dan Aneka Kementerian Perindus­trian (Kemenperin) Ramon Ba­ngun mengatakan, industri kulit mengalami kesulitan bahan baku akibat kebijakan karantina oleh pemerintah.

Menurut Ramon, saat ini ba­han ba­ku industri kulit 60 per­sennya disumbang oleh impor dan sisa­nya dari dalam negeri. Kulit im­por itu berasal dari Ame­rika dan Australia. “Harga­nya mahal. Alhasil harga jual pro­duk­nya ikut mahal,” jelasnya.

Padahal, menurut Ramon, ma­sih ada sumber-sumber bahan baku kulit lainnya selain dari negara tersebut, yaitu Timur Tengah. Namun, pasokan kulit dari Timur Tengah terkendala kebijakan karantina.

“Sekarang bahan bakunya di­kenakan kebijakan karantina. Kalau kulit mentah tidak apa-apa, tapi ini yang diimpor kulit yang sudah diproses dan jadi bahan baku,” katanya.

Lebih aneh lagi, justru produk jadi dari luar malah dipermudah masuknya yang justru meng­gang­gu industri kulit dalam ne­geri. Ramon juga menya­yang­kan bahan kulit berkualitas dalam negeri banyak diekspor karena industrinya belum mam­pu me­ngolah.

Sebab itu, ekpor industri kulit mengalami penurunan hingga 12 persen akibat krisis global. Un­tuk mendongkrak daya saing, pihak­nya terus mendorong pe­ning­katan desain industri kulit dan alas kaki tersebut.  [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Wall Street Hijau Berkat Inflasi AS Melandai

Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16

Danantara Dorong Hilirisasi Mineral untuk Wujudkan Indonesia Pemain Utama Global

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55

AS Serang Iran dan Tutup Akses Pelabuhan di Selat Hormuz

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40

Logam Mulia Melesat Didorong Melandainya Inflasi AS, Emas Tembus 4.000 Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20

Bursa Eropa Rebound, Inflasi AS Melandai Redakan Kekhawatiran Investor

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11

PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52

Kuliner Viral Hair Croissant Tak Bisa Disertifikasi Halal

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21

Prancis Mati Kutu

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05

Karyawan BUMN Bakal Diwajibkan Salurkan Zakat Lewat Baznas

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37

TPPU Bukan soal untuk Apa Uangnya, tapi soal Asal Usulnya

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34

Selengkapnya