Gagasan pengembangan poÂtensi ekonomi kelautan (Blue Economy) yang disponsori KeÂmenterian Kelautan dan PerikaÂnan (KKP) dikritik pengamat dan akaÂdemisi.
Saat ini, potensi ekoÂnomi laut Indonesia diperkirakan menÂcapai 1,2 triliun dolar AS atau seÂkitar Rp 1.080 triliun per tahun. Angka ini setara dengan 10 kali budget nasional 2012.
Pakar ekonomi kelautan Prof. Sadono Sukirno mengÂÂatakan, data dan peran straÂtegis Indonesia seÂbagai bangsa maritim dan neÂgara keÂpuÂlauan. “Konsep ekoÂnomi biru ini bisa mengatasi maÂsalah kemisÂkinan dan meningÂkatÂkan serta memÂperÂluas kesemÂpaÂtan kerja,†ujarnya saat menjadi pemÂbicara daÂlam seminar berÂtaÂjuk “MemÂbaÂngun Blue EcoÂnomy†di Kampus UniÂversitas TriÂsakti, Jakarta kemaÂrin.
Hadir pula di acara terÂsebut Rektor Usakti Prof. Dr. Thoby Muthis dan bekas Menteri KelautÂan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri.
Thoby menambahkan, proyek ekonomi biru perlu disokong oleh lembaga pembiayaan seÂperÂti koÂperasi. Langkah ini dihaÂrapkan bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir. BahÂkan kamÂpus diharapkan juga bisa jadi pusat penelitian yang menghasilÂkan inovasi-inovasi dalam peÂngÂembangan hasil laut.
Sementara, Sekjen KKP GellÂwynn Jusuf mengakui, pihaknya mengÂadopsi konsepsi ekonomi biru untuk memaksimalkan daya dukung lingkungan dan nilai ekonomi yang berkelanjutan dari sumber daya laut bagi ketahanan paÂngan. [Harian Rakyat Merdeka]