Berita

ilustrasi, Bulog

Bisnis

Mindset Nggak Berubah, Bulog Nggak Jamin Tak Impor Beras

Gawat, Indonesia Diprediksi Alami Krisis Pangan Tahun 2025
JUMAT, 09 NOVEMBER 2012 | 08:09 WIB

.Indonesia dinilai sudah menjadi konsumen utama beras dunia karena gagal meningkatkan produksi dan diversifikasi pangan. Kalau begini terus, Tanah Air terancam mengalami krisis pangan pada 2025.

Direktur Utama Perum Bu­log Sutarto Alimoeso mengata­kan, kendati produksi padi tahun ini diprediksi naik 4,87 persen, tetapi pihaknya tidak dapat menjamin tahun ini nggak mengimpor beras.

“Kalau persoalan impor beras ini kan terkait dengan permintaan pemerintah agar stok beras Bulog akhir tahun ini minimal 2 juta ton. Ini juga untuk berjaga-jaga ja­ngan sampai ada gejolak harga beras,” ujarnya, kemarin.

Menurut dia, pemerintah tidak perlu impor jika peningkatan produksi padi dalam 2-3 tahun rata-rata 5 persen.

Wakil Menteri Pertanian (Wa­mentan) Rusman Heryawan me­ngatakan, saat ini Indonesia su­dah mulai mampu merea­lisasi­kan target surplus beras dalam upaya menjaga ketahanan pa­ngan na­sional. “Sampai akhir Oktober 2012, target surplus be­ras kita su­dah mencapai angka 4,5 hingga 5 juta ton,” katanya.

Angka tersebut sangat ber­arti dalam mencapai target surplus be­ras 2014 sebesar 10 juta ton. “Un­tuk mencapai angka itu berat, diperlukan upaya yang sung­guh-sungguh dari semua pihak, ter­masuk BUMN yang bergerak di bidang pangan,” tutur Rusman.

Peneliti Lembaga Ilmu Penge­tahuan (LIPI) Andy Ahmad Zae­lany memprediksi, Indonesia pa­da 2025 akan mengalami krisis pangan jika kondisi pertanian pangan masih seperti sekarang.

Saat ini, penduduk Indonesia sebanyak 240 juta jiwa, se­dang­kan produksi beras hanya 33-38 juta ton. Dengan demikian, In­do­nesia masih mengimpor beras sekitar 1-2 juta ton.

“Alih fungsi lahan pertanian secara besar-besaran setiap ta­hun men­jadi gedung, perumah­an, in­frastruktur dan pabrik men­jadi penyebab utama penu­ru­nan itu,” jelas Andy.

Selain itu, fasilitas irigasi yang buruk dan rusak mempersulit pe­ngembangan pertanian pangan. Karena itu, alih fungsi lahan se­harusnya dihentikan dan diper­lu-kan lahan-lahan untuk pertanian.

Anggota Komisi IV DPR Ma’mur Hasanuddin mengata­kan, sepanjang 2011 beras im­por yang masuk ke Indonesia seba­nyak 2,75 juta ton dengan nilai 1,5 miliar do­lar AS. Vietnam se­bagai negara terbesar pemasok be­ras sebanyak 1,78 juta ton tahun lalu. Sementara Thailand 938,7 ribu ton dengan nilai 533 juta do­lar AS dan China  4,7 ribu ton dengan nilai 15,5 juta dolar AS.

Menurut Ma’mur, pemerintah sulit mencapai target ketahanan pangan selama masih membuka kebijakan impor beras. “Capaian gabah setinggi apapun tidak akan pernah mencukupi jika mindset dan paradigma pemerintah me­ngenai importasi dan kedaulatan pangan tidak berubah,” ujarnya.

Dia menyayangkan kebijakan kontradiktif impor selalu dila­ku­kan setiap tahun oleh pemerin­tah di tengah masa panen raya dan optimisme produksi naik dari petani. Padahal, Bulog se­ring diingatkan untuk melaku­kan pe­nyerapan gabah petani di masa panen, namun tidak pernah ter­ealisasi dengan baik.

Di sisi lain, Kementan dido­rong untuk meningkatkan pro­duk­si pertanian, namun tidak ada kebijakan proteksi lahan dan re­vitalisasi infrastruktur per­ta­nian yang memadai.

Sedangkan Kementerian Per­dagangan hanya melihat beras sebagai komoditas ekonomi yang diperjualbelikan dan kecu­kupan stok, namun kurang mem­per­timbangkan keberpihakan terha­dap petani lokal.

“Selama ini rasio keter­gan­tu­ngan impor beras Indonesia ter­hadap konsumsi beras nasional terus meningkat hampir dua kali lipat,” terang Ma’mur.

Untuk diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) produksi padi 2012  diperkirakan 68,96 juta ton Gabah Kering Gi­ling (GKG) atau mengalami ke­naikan 3,20 juta ton (4,87 per­sen) dibanding 2011. Kenai­kan ter­sebut diperkirakan terjadi di Jawa 2,09 juta ton dan di luar Jawa 1,11 juta ton. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Wall Street Hijau Berkat Inflasi AS Melandai

Rabu, 15 Juli 2026 | 08:16

Danantara Dorong Hilirisasi Mineral untuk Wujudkan Indonesia Pemain Utama Global

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:55

AS Serang Iran dan Tutup Akses Pelabuhan di Selat Hormuz

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:40

Logam Mulia Melesat Didorong Melandainya Inflasi AS, Emas Tembus 4.000 Dolar AS

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:20

Bursa Eropa Rebound, Inflasi AS Melandai Redakan Kekhawatiran Investor

Rabu, 15 Juli 2026 | 07:11

PFI Dukung Zakat Jadi Pengurang Pajak

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:52

Kuliner Viral Hair Croissant Tak Bisa Disertifikasi Halal

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:21

Prancis Mati Kutu

Rabu, 15 Juli 2026 | 06:05

Karyawan BUMN Bakal Diwajibkan Salurkan Zakat Lewat Baznas

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:37

TPPU Bukan soal untuk Apa Uangnya, tapi soal Asal Usulnya

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:34

Selengkapnya