Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

20 Persen Puskesmas Daerah Belum Punya Dokter Umum

MINGGU, 04 NOVEMBER 2012 | 08:14 WIB

Pelayanan Kesehatan Kurang Maksimal Sekitar 20 persen RMOL.Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di daerah pelosok belum punya dokter umum. Minimnya tenaga medis di Puskesmas jelas menghambat layanan kesehatan di masyarakat.

Puskesmas merupakan ujung tombak layanan kesehatan primer (umum) agar bisa mengatasi masalah kesehatan sebelum me­rujuk pasien ke rumah sakit lebih dulu. Secara umum, Puskesmas harus dilengkapi layanan dan fasilitas yang memadai, guna menunjang layanan kesehatan bagi masyarakat.

Hal ini berbeda dengan ke­adaan dan mutu layanan Pus­kesmas di DKI Jakarta yang jauh lebih baik dan sudah memenuhi kriteria Badan Penetap Standar Internasional (International Or­ga­nization for Standardization/ISO), yang melaksanakan sistem operasional 24 jam dan layanan rawat inap.

“Mayoritas Puskesmas di Ja­karta sudah berstandar ISO. Jadi, sistem dan prosedur layanannya sudah baik. Bahkan, fasilitas Puskesmas di Kepulauan Seribu saja sudah lengkap,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kepulauan Seribu Edison Sahputra di Jakarta, kemarin.

Begitu pula sumber daya ma­nusia (SDM) yang terus diting­katkan lewat pelatihan pe­ning­katan kemampuan tenaga medis di setiap Puskesmas di DKI Jakarta. Misalnya, para tenaga kedokteran seperti perawat dan bidan telah mengikuti kegiatan seminar pelatihan peningkatan kemampuan pada alat medis ultrasonography.

“Dari keseluruhan Puskesmas yang ada di kecamatan sudah 100 persen punya ISO dan untuk tingkat Kelurahan mencapai 80 persen. Dengan begitu Jakarta siap melaksanakan program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 2014 men­datang,” kata Edison.

Menurut Edison, angka ca­kupan keseluruhan fasilitas serta SDM untuk Puskesmas di Ja­karta, sudah cukup baik, maka tidak ada lagi kendala yang mungkin bisa menghambat prog­ram tersebut.

Saat ini, katanya, bagaimana pemerintah dan pihak terkait untuk menjalankan program pe­merataan kesehatan untuk seluruh warga Indonesia (universal co­verage) di 2014 mendatang.

Menyongsong pemberlakuan BPJS pada 2014 mendatang, tak bisa dipungkiri angka 20 persen tersebut harus segera dituntaskan. “Selama ini, Puskesmas memang berfungsi untuk membantu ma­syarakat dalam mendapatkan biaya pengobatan menjadi lebih murah. Dokter di pelayanan pri­mer harus mampu berfungsi se­bagaimana mestinya,” kata Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prijo Sudipratomo.

Menurut dia, dokter spesialis hanya bekerja sesuai ahlinya. Pasalnya, dokter umum telah lebih dulu mengatasi perma­salahan kesehatan secara umum lewat pemeriksaan di Puskesmas.

Hal tersebut mampu membantu masyarakat, untuk mendapatkan pengobatan dan layanan kese­hatan jauh lebih murah jika di­ban­dingkan berobat di rumah sakit.

Ketua Bidang Sistem Pela­yanan Kedokteran Terpadu dari IDI Gatot Soeton mengatakan, peme­rin­tah saat ini mem­bu­tuh­kan 60.000 dokter lapangan yang memiliki orientasi sebagai dokter umum.

Menurut dia, sistem pendi­dikan kedokteran saat ini harus mampu mencetak dokter yang menjadi pelayanan primer atau umum. Pelayanan sekunder atau spesialis dan sub spesialis tetap ada jika memang dibutuhkan.

“Dari 5.000-6.000 lulusan dok­ter tiap tahun belum disiapkan untuk menjadi dokter pelayanan primer,” ungkap Gatot. Apalagi, sistem pelayanan kesehatan hing­ga saat ini belum ada regulasinya.

Kondisi ini dijadikan kesem­patan dalam bisnis rumah sakit untuk memanfaatkan kurangnya pengetahuan masyarakat ter­hadap sistem pelayanan primer. “Maka terjadilah komersialisasi besar-besaran dalam pelayanan kesehatan dan ada kecen­de­rungan dokter umum tidak di­butuhkan,” katanya.

Padahal, kata Gatot, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 1974 telah menganjurkan sistem berbasis pelayanan primer. Dimana seluruh penduduk suatu negara harus mengutamakan pelayanan dokter umum dan selanjutnya menggunakan pelayanan dokter spesialis atau sub spesialis. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya