Berita

kpu/ist

KPU Harus Tetapkan Parpol yang Lolos Sipol Jadi Peserta Pemilu

RABU, 24 OKTOBER 2012 | 19:17 WIB | LAPORAN:

. Sistem informasi partai politik (sipol) yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) banyak mendapat pujian dari kalangan pro-demokrasi dan pemerhati pemilu.

Namun demikian, KPU diminta konsisten dan tegas untuk melaksanakan aturan yang telah dibuatnya sendiri, termasuk sipol ini. Jangan sampai kredibilitas KPU anjlok, dan di saat yang sama tingkat kepercayaan publik kepada KPU juga semakin menurun.

Demikian disampaikan pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas), Irwan Hasibuan, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 24/10).


Irwan misalnya meminta KPU konsiten dan tegas menggunakan sipol sebagai pintu masuk bagi partai politik untuk menjadi peserta pemilu. Artinya, parta politik yang secara faktual sah dan lolos dalam verfikasi administrasi sipol, harus dinyatakan lolos dan sudah sah menjadi peserta pemilu.

"Sebaliknya, partai mana pun yang tidak lolos dalam verfikasi sipol, ya jangan jadi peserta pemilu, termasuk partai-partai yang ada di Senayan," tegas Irwan.

Irwan mengakui, mungkin saja berbagai tekanan kepada KPU itu pasti ada. Disinilah letak keberanian KPU dipertaruhkan. Sebab KPU lah yang mempunyai kesempatan membuka jalan menuju Indonesia yang lebih baik melalui sistem pemilu.

Bila KPU berhasil tahan godaan, dan juga tahan banting, dipastikan KPU akan mendapat hujan pujian. Sebaliknya, bila KPU mudah ditekan dan diintervensi, maka KPU akan menjadi gerbang utama kehancuran negara.

"Karena itu, KPU jangan mencla mencel," tegas Irwan.

Untuk diketahui, ada sembilan partai politik yang memanfaatkan sipol dan dinyatakan lolos verfikasi administrasi. Kesembilan partai itu adalah PAN, PBB, Gerindra, Hanura, PKPI, PKB, PKBIB, Nasdem dan PPRN. [ysa]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya