Berita

Jusuf Kalla

Wawancara

WAWANCARA

Jusuf Kalla: Saya Melihat Bom Poso Sama Dengan Bom Solo

RABU, 24 OKTOBER 2012 | 09:15 WIB

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) langsung ke Poso begitu terjadi bom di sana.

Bekas Wakil Presiden itu me­mas­tikan bom tersebut bukan kon­flik seperti dulu. Tapi dila­kukan sekelompok orang yang ingin Poso tidak aman.

‘’Saya saat ini sedang berada di Poso meninjau tempat keja­di­an. Saya melihat bom Poso sama se­perti bom Solo, Aceh, dan Me­dan,’’ kata Jusuf Kalla kepada Rak­yat Merdeka, kemarin.


Berikut kutipan selengkapnya:

Apa reaksi Anda setelah melihat lokasi  bom itu?

Saya sangat sedih. Kedamaian yang sejak saya menjadi wapres su­dah tercipta, kini terusik. Se­ka­rang ini kepanikan memang su­dah tidak ada. Hanya saja mereka tetap khawatir. Masih berjaga-jaga agar hal serupa tidak terjadi. Artinya, kalau biasanya malam ramai, sekarang agak berkurang.

Bom ini mengusik ketenangan masyarakat yang sudah harmonis berdampingan meski berlainan agama. Ini bukan konflik antar umat beragama seperti dulu. Malah sa­ya lihat masyarakat Islam dan Kris­ten di sini sudah seperti sau­dara, sudah damai. Tapi kok ada bom yang meledak, ini kan meru­sak.


Siapa yang melakukan itu?

Ada kelompok radikal atau aliran garis keras dengan ideologi me­nyimpang. Mereka datang dari berbagai daerah, bukan dari ma­syarakat Poso.


Kenapa Anda menyim­pul­kan seperti itu?

Nyatanya memang itu bukan dari masyarakat Poso kok. Saya sudah ketemu masyarakat tadi pagi (kemarin),  baik dari pemuka adat,  tentara, dan polisi yang ber­jaga-jaga  menyatakan, bom itu bu­kan perbuatan orang-orang Poso.


Buktinya apa?

Ada buktinya, saat saya ada di sini ternyata tadi pagi juga sempat terdengar ada bom lagi di Poso.

Saya rasa ada oknum-oknum yang mau membuat pencitraan bahwa Poso itu tidak aman lagi. Pikiran itu nampaknya bukan untuk Poso saja tapi direncanakan untuk pencitraan Indonesia.


 Kenapa pemerintah tidak mam­pu menuntaskan teroris­me?

Ini disebabkan pikiran radikal itu memang tidak bisa dihapus sa­ma sekali  dari masyarakat, se­hingga terjadi seperti itu.


 Kenapa pemerintah tidak mam­pu menuntaskan teroris­me?

Ini disebabkan pikiran radikal itu memang tidak bisa dihapus sa­ma sekali  dari masyarakat, se­hingga terjadi seperti itu.


Kenapa tidak bisa dihapus?

Masalah radikalisme itu ten­tunya didasari masalah inti yang dekat dengan masyarakat dan menyebar ke mana-mana. Ideo­logi garis keras ini berdasar pada masalah ekonomi, keamanan dan kea­dilan. Makanya kita harus melakukan perbaikan satu per satu dari masalah dasar itu.


Apa bom ini berkaitan de­ngan RUU Kamnas yang se­dang dibahas di DPR?

Saya kira tidak seperti itu. Se­bab,  bom-bom ini kan muncul tidak hanya sekarang saja. Malah se­karang ini justru sedikit berku­rang.

Masalah ini juga dialami di Af­ghanistan, Lebanon, Syiria, Afrika dan lainnya. Ini tidak ada kaitannya dengan penggodokan RUU Kamnas.


Belum lama ini ada surat tan­tangan perang terbuka ke Den­sus 88, apakah bom ini ada kaitannya?

Saya tidak tahu. Bahwa ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi ini mungkin saja, tapi po­lisi dan tentara tidak boleh mun­dur. Mau ada surat tantangan atau pun tidak, pokoknya nggak boleh takut.

Untuk itulah sangat diper­lukan kolaborasi TNI dan polisi. Buk­tinya di sini ada batalion yang terlatih untuk menghadang aksi teror.


Ada yang menduga, aparat sengaja menyicil menangkap teroris, tanggapan Anda?

  Itu bisa jadi masalah juga. Kalau sudah mengetahui lokasi teroris, ya harus diambil tindakan tegas. Jangan dibiarkan.       


Saran Anda untuk meng­hen­tikan pemikiran radikal itu?

Pemerintah bisa mengawalinya dengan memperbaiki keadilan masyarakat seluruh Indonesia dan memperbaiki ekonomi masyarakat  karena saat ini banyak sekali pengangguran.

Bukan itu saja. Kebijakan pe­me­rintah juga harus benar, sehing­ga pembangunan infra­struktur atau lainnya bisa ber­manfaat bagi kesejahteraan.

Sebab seperti sudah saya ka­takan, semua pemicu radi­ka­lisme  adalah tidak adanya kea­dilan, per­ekonomian yang tidak me­rata. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya