Berita

Taufik Kiemas

Wawancara

Taufik Kiemas: Berpolitik Kok Tersinggung, Nggak Boleh Begitu Dong...

SELASA, 16 OKTOBER 2012 | 08:54 WIB

.Pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Basuki) resmi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, kemarin.

Menanggapi hal itu, Ketua MPR Taufik Kiemas meminta Jo­kowi-Basuki berhati-hati dengan penumpang gelap saat memimpin ibukota.

“Penumpang gelap ini bisa berbahaya,” kata Taufik Kiemas ke­­­pada Rakyat Merdeka, di Ja­karta, kemarin.

Seperti diberitakan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekar­no­putri pada pidato politiknya di Rakernas II PDIP di Su­ra­baya, me­nyindir sang ‘penum­pang ge­lap’ yang tanpa malu-malu me­raup keuntungan atas ke­me­na­ngan Jokowi-Basuki di Pilgub DKI.

Taufik mengaku tidak tahu siapa yang disebut penumpang ge­­lap tersebut. Sebab, itu pe­ni­laian Megawati.

“Yang tahu penumpang gelap­nya kan Bu Mega, kalau saya ti­dak tahu,” ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Masa Anda tidak tahu?

Ya, saya tidak tahu. Tanyakan saja langsung ke Bu Mega. Itu kan pidato Bu Mega, masa dita­nyakan ke saya. Itu kurang tepat.

Ada yang bilang penumpang gelap itu Prabowo, apa benar?

Ah kata siapa. Kan tidak sebut nama, sehingga bisa siapa saja. Saya tidak mau berspekulasi, tanya saja ke beliau.

Apa penumpang gelap itu pengusaha atau dari partai?

Mungkin juga pengusaha. Tapi le­bih jelasnya tanya ke Bu Mega saja.

Kenapa Prabowo tidak hadir dalam pelantikan Jokowi-Basuki?

Wah, kalau itu saya nggak tahu. Ta­pi sepengetahuan saya Bu Me­ga­wati, Mbak Puan Maharani dan be­berapa jajaran pengurus PDIP datang dalam pelantikan itu. Ka­rena ini momen yang baik buat PDIP.

Kabarnya Prabowo tidak da­tang karena tersinggung de­ngan pidato Megawati?

Masa berpolitik pakai tersing­gung-tersinggungan seperti itu. Nggak boleh begitu dong. Nggak ba­gus itu, berpolitik kok ter­singgung.

Jadi benar pernyataan itu ditu­jukan ke Prabowo?

Sekarang saya tanya. Apa be­nar pernyataan itu untuk me­nyingung Prabowo. Saya rasa ti­dak juga ah. Memang mungkin ada yang tersinggung. Tapi kan tidak disebutkan kepada siapa per­nyataan itu.

Maksudnya tidak benar itu ditujukan kepada Prabowo?

Ya. Itu tidak benar.

Kalau bukan Prabowo, siapa penumpang gelap itu?

Ke situ lagi pertanyaannya. Saya tetap tidak bisa jawab. Yang jelas, setelah pernyataan Bu Me­ga itu tidak ada yang menyatakan tersinggung.

Apa pesan Anda kepada Jo­kowi untuk menghidari adanya penumpang gelap itu?

Jokowi harus siap menghadapi semua kemungkinan, termasuk adanya penumpang gelap. Dia harus menjawabnya dengan ki­nerja yang baik dan pelayanan yang baik pada masyarakat Jakarta.

Untuk itu, Jokowi harus siap­kan pegawai yang bagus, siap­kan proyek-proyek yang ber­manfaat dan mesti mendekati orang-orng yang berpengaruh dalam kerja­nya.

Siapa saja itu?

Yang pertama Jokowi harus mendekati birokrasi yang ada di lingkungan Pemprov DKI Jakarta dan walikota-walikota, serta DPRD DKI Jakarta.

Apa itu wajib?

Biasanya memang begitu. Sia­pa pun yang menjadi kepala dae­rah harus bisa mendekati seperti itu.

Apa Jokowi mampu?

Mudah-mudahan mampu. Se­ka­rang itu dia mesti baik dengan bi­rokrasi dan DPRD supaya keli­ha­tan siapa penumpang gelap dan sia­pa pengabdi masyarakat. Ja­karta ini kan banyak bajak laut. Makanya bu­kan hanya penum­pang gelap, ta­pi bajak laut juga perlu diwaspadai.  Setiap walikota memiliki ke­mam­puan untuk mengelola dae­rahnya masing-masing. Saya rasa Jokowi mampu mengelola Ja­karta.

Rencana turun ke bawah, itu bagaimana?

Kalau menurut saya tidak bo­leh lama-lama juga di bawah. Le­bih baik langsung bekerja. Kalau sudah selesai jam kantor, sesekali turun ke bawah.

Apa itu tidak efektif?

Yang dibutuhkan rakyat itu kan hasil nyata, bukan turun ke ba­wah. Jakarta kan berbeda dengan Solo yang daerahnya kecil. Kalau Jakarta cukup luas. Jangan habis waktunya di bawah. Nanti kebobolan dong. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya