Berita

Amelia Yani

Wawancara

WAWANCARA

Amelia Yani: Pancasila Tercabik-cabik, Ini Sungguh Menyedihkan

SENIN, 01 OKTOBER 2012 | 09:01 WIB

Hari ini bangsa Indonesia merayakan Kesaktian Pancasila. Tapi bagi sebagian orang, Pancasila sudah tercabik-cabik.

Sebab, nilai gotong-royong su­dah mulai hilang. Dengan gam­pangnya anak bangsa ini mela­kukan kericuhan, amuk massa, dan tawuran.

Melihat hal itu, putri Pahlawan Revolusi Ahmad Yani, Amelia Yani merasa sedih. Ini berarti ideologi Pancasila sudah me­mudar.

“Ayah saya juga pasti sedih jika ideologi Pancasila tidak sakti lagi. Sudah tercabik-cabik karena masuknya ideologi dari luar,” kata Amelia Yani kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan ideologi bangsa In­donesia  mengalami pe­mudaran. Di antaranya hilangnya rasa toleransi, sehingga muncul ke­kisruhan dari Sabang sampai Merauke. Sebab, penerapan Pan­casila yang lemah.

“Kalau Pancasila dijalankan de­ngan baik, tentu kekisruhan ti­dak akan terjadi,” ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Bagaimana nasib Pancasila ke depan?

Saya kira tidak akan ditinggal­kan. Sebab, itulah perekat bangsa ini. Sekarang ini memang dirasa­kan makin lama semakin luntur.  Bukan itu saja rasa kebangsaan pun luntur. Jika kita lihat televisi dari Sabang sampai Merauke terjadi kekerasan . Ini menunjuk­kan Indonesia menuju sebuah ne­gara yang gagal.


Kenapa Anda bilang begitu?

Moral anak bangsa mulai ter­gerus. Sebab, tidak bisa menerap­kan ideologi Pancasila secara mak­simal yang sudah dicanang­kan the founding father kita.


Dasarnya apa anda menga­takan itu?

     Lihat saja sekarang, banyak orang mengedepankan kesukuan dan ras sehingga bermunculan per­masalahan di tengah masyara­kat. Kemudian maraknya korup­si, dan kericuhan di mana-mana. Anak-anak juga tawuran.

 Sebenarnya dengan adanya Pancasila tidak boleh ada lagi pemikiran primordial berlebihan. Artinya tidak ada lagi egoisme merasa sebagai orang Jawa, Sun­da, Betawi, China, Batak, Pa­dang dan lainnya. Tapi yang ada satu, yakni bangsa Indonesia. Pan­casila yang memersatukan kita. Semua itu harus diingat betul-betul.


Apa faktor ideologi dari luar mempengaruhi?

Ya. Masuknya ideologi dari luar. Selain itu, ada ketimpangan kesejahteraan yang didasarkan atas tekanan ekonomi yang tinggi di masyarakat.

Melihat itu itu ideologi Panca­sila kita sudah tidak kuat lagi. Saat ini Pancasila hanya sebagai sampulnya saja. Tidak dijalankan dengan baik.


BNPT mengatakan 80 per­sen Mahasiswa tidak menyu­kai Pancasila, apa komentar Anda?

Wah, ini mengerikan. Pancasila itu kan ideologi negara kita dan   fal­­safah negara. Kita memiliki ke­­­wajiban untuk menjaganya te­tap ada dan tumbuh.

Maka kita harus hormati dan im­­­plementasikan dengan be­nar. Nilai-nilai luhur bangsa ada di si­tu. Sebagai bangsa yang be­sar dari berbagai macam suku dan agama, Pancasila merekat­kan kita.


BNPT mengatakan 80 per­sen Mahasiswa tidak menyu­kai Pancasila, apa komentar Anda?

Wah, ini mengerikan. Pancasila itu kan ideologi negara kita dan   fal­­safah negara. Kita memiliki ke­­­wajiban untuk menjaganya te­tap ada dan tumbuh.

Maka kita harus hormati dan im­­­plementasikan dengan be­nar. Nilai-nilai luhur bangsa ada di si­tu. Sebagai bangsa yang be­sar dari berbagai macam suku dan agama, Pancasila merekat­kan kita.


Apa memudarnya Pancasila bisa menimbulkan perpe­ca­han?

Mungkin saja. Apalagi tidak me­ra­tanya kesejahteraan rakyat. Keadi­lan sosial bagi seluruh rak­yat Indo­nesia belum terwujud, pe­ne­gakan hukum saat ini juga sangat lemah.

Memang saat ini perpecahan itu belum terlihat. Tapi kalau per­lakuan tidak adil diperton­tonkan pusat terus menerus, tentu akan menimbulkan sakit hati.

Seharusnya kalau bangsa ini su­­dah menyatakan Bhineka Tung­­gal Ika tentu kita harus me­ne­rap­kannya dalam kehidu­pan dan men­jalankannya pasal per pasal.


Itu artinya perlu diperbaiki kesejahteraan rakyat?

Ya. Saat ini kan kesejahteraan rak­­­yat mengalami penurunan. Nilai-nilai Pancasila luntur ka­rena ko­ruptor-koruptor yang tidak kun­jung tertangkap dan diperlakukan istimewa. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

Memalukan! Rismon Ajukan Restorative Justice

Kamis, 12 Maret 2026 | 02:07

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Relawan Jokowi: Rismon Sianipar Pengecut!

Jumat, 13 Maret 2026 | 01:05

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

Polisi Berlakukan One Way Sepenggal Menuju Wisata Lembang Bandung

Minggu, 22 Maret 2026 | 18:11

Status Tahanan Rumah Yaqut Buka Celah Intervensi, Penegakan Hukum Terancam

Minggu, 22 Maret 2026 | 17:38

Balon Udara Bawa Petasan Meledak, Atap Rumah Jebol

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:54

Prabowo: Lebih Baik Uang Dipakai Rakyat Makan daripada Dikorupsi

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:47

Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Terbagi Dua Gelombang

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:37

Trump Ultimatum Iran: 48 Jam Buka Hormuz atau Pusat Energi Dihancurkan

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:27

KPK Cederai Keadilan Restui Yaqut Tahanan Rumah

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:03

Prabowo Tegaskan RI Tak Pernah Janji Sumbang Rp17 Triliun ke BoP

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:01

Istana: Prabowo-Megawati Berbagi Pengalaman hingga Singgung Geopolitik

Minggu, 22 Maret 2026 | 15:46

Idulfitri di Kuala Lumpur, Dubes RI Serukan Persatuan dan Kepedulian

Minggu, 22 Maret 2026 | 14:47

Selengkapnya