Berita

Said Aqil Siradj

Wawancara

WAWANCARA

Said Aqil Siradj: Ini Bukan Persoalan NU Tapi Konflik Keluarga

SABTU, 01 SEPTEMBER 2012 | 09:40 WIB

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengutuk keras terulangnya kerusuhan kelompok Sunni dan Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur.

“Kami minta pihak keamanan me­nindak tegas siapa pun pela­ku­nya, tanpa terkecuali,” kata Said Aqil Siradj  kepada Rakyat Mer­deka, kemarin.

Pelaku pembunuhan dan pe­ru­sakan, lanjutnya, harus segera di­tangkap dan dihukum sesuai de­ngan aturan yang berlaku. Pe­ne­gak hukum didesak dapat men­jalankan tugas penegakan dengan baik dan cepat.  PBNU melalui per­­wakilannya di Jawa Timur lang­­sung terjun ke lo­kasi untuk melihat kejadian yang sebenarnya.

“Begitu kejadian, saya lang­sung minta kepada Pak Saefullah Yusuf sebagai Wakil Ketua PBNU yang juga Wakil Gubernur Jawa Timur untuk turun langsung ke lokasi,” katanya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Apa hasilnya?

Kami datang ke sana untuk me­no­long korban dan pengung­sian. Minimal kerusuhan itu bisa ber­henti. Saya pun sudah telepon Bu­pati Sampang Nur Cahya.


Apa benar konflik ini antara NU dan Syiah?

Ini yang harus diluruskan bah­wa konflik ini bukan antara NU dan Syiah. Melainkan konflik ke­luarga dan kriminal murni, bukan antar aliran. Itu yang sebenarnya.

Kasus ini kriminal murni, bu­kan NU dan Syiah, tapi kakak bera­dik yang beradu pengaruh, yakni Tajul Muluk dan Rois Al­hukama.

 Kedua pihak yang ber­tikai ini kakak beradik yang sama-sama memiliki pengikut.

Keduanya memiliki masalah yang tak terselesaikan, ke­mu­dian menjalar ke para pengi­kutnya.


Anda yakin seperti itu?

Ya dong. NU itu tidak mento­le­rir sama sekali terhadap keke­ra­san. Apalagi sampai terjadi pem­bunuhan atau membakar ru­mah. Alasan apapun tidak dibe­narkan oleh NU.

    

Bagaimana jika ada warga NU terlibat?

Siapa pun yang terlibat harus tetap diproses secara hukum. Ka­lau ada warga NU yang mem­bu­nuh, ya harus ditangkap dan di­hukum. Di lain tempat da­mai-damai saja. Di Jakarta, Jawa Barat, dan daerah lain ada Syiah. Tapi tidak ada kejadian apa-apa. Bahkan, berdampingan dengan baik dan rukun-rukun saja.

   

Kenapa kejadian ini kembali terjadi?

Kejadian ini memang yang kedua kalinya. Artinya, rekon­si­lia­si yang sudah dibentuk itu ti­dak tuntas. 

   

Bukan karena adanya perbe­daan antara NU dengan Syiah?

NU dan Syiah jelas beda, ter­lebih lagi dengan Ahmadiyah, je­las berbeda. Tapi dalam pergau­lan, kami menolak adanya keke­rasan.

Makanya saya sangat me­nye­salkan dan mengutuk semua tin­dakan kriminal. 

Jangankan dengan Syiah, dengan non muslim pun tidak bo­leh melakukan kekerasan. Apa­lagi sampai membunuh. Me­nempeleng dan mengancam pun nggak boleh.

Itu sudah jelas ada dalam hadits. Yakni, barang siapa yang melakukan kekerasan maka akan dikutuk oleh Allah SWT dan Malaikat-Nya.

     

Anda sudah bertemu dengan Presiden, apa yang dibicara­kan?

Pertama soal NU yang akan me­laksanakan Mu­nas 15 Sep­­tember di Ci­re­­bon. NU meng­­­ajak kem­bali ke khit­tah, UUD 1945. ­Ar­­ti­nya, per­k­uat per­sau­da­raan sesa­ma bangsa dan se­tanah air.

Saat memperjuangkan bangsa ini, para tokoh agama ini tidak melihat agamanya apa, sukunya apa, yang penting semangat un­tuk merdeka. Selain itu, juga mem­bi­carakan masalah kerusu­han yang terjadi di Sampang, Madura. Pre­siden SBY sendiri menga­kui bah­wa intelijen kita kecolongan.

Saya melihatnya, apa­rat kita ini kurang me­­nang­gapi se­rius dari ke­ja­dian sebe­lum­­nya. Ka­rena itu, kea­ma­nan dan ke­mam­puan intel harus ditingkatkan.


Apa lagi yang dikatakan Presiden?

Presiden mengakui bahwa Ma­dura belum ada penanganan se­cara khusus karena saat ini se­dang mengurusi Papua dan NTT. Namun,  sekarang mulai mengu­rusi Madura secara khusus baik dari sisi pendidikan maupun ke­se­hatan.

Ini kegagalan intel dan aparat kepolisian dalam melihat indikasi atau kurang peka dengan suasana yang panas. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya