ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Menurut spesialis penyakit dalam dan jantung dari Rumah Sakit Harapan Kita Dr Santoso Karo Karo, penyakit ini meruÂpakan gangguan akibat irama jantung yang tidak normal. GangÂguan ini paling banyak ditemukan dan prevalensinya terus meÂningkat di dunia.
Dia menjelaskan, pada pasien fibrilasi atrium, denyut jantung yang tidak teratur dapat menimÂbulkan terbentuknya gumpalan-gumpalan darah di dalam atrium janÂÂtung yang dapat bergerak ke otak dan menghalangi aliran darah.
“Gumpalan ini dapat bergerak ke otak, menghalangi aliran darah dan menimbulkan stroke atau bahkan kematian,†kata dia.
Selain itu, stroke pada fibrilasi atrium umumnya menimbulkan dampak dan kecacatan lain, seperti kelumpuhan bahkan gangÂguan yang disebabkan biÂasaÂnya lebih parah, daripada stroke pada pasien non-penderita fibrilasi atrium.
Ia mengatakan, risiko terÂjaÂdinya stroke pada pasien fibrilasi atrium tiap tahun akan bertambah sebanyak 3-4 persen, karena penÂderita fibrilasi sekitar 15-20 perÂsen rawan terkena stroke lanÂtaran tekanan darahnya sangat tinggi.
Menurutnya, stroke yang biasa menyerang penderita fibrilasi adalah stroke kardioemboli, yakni stroke yang disebabkan oleh penyumbatan di dalam jantung, yang kemudian pecah dan terjebak dalam pembuluh arteri besar di otak.
“Penyumbatan pembuluh arteri besar di otak mengakibatkan stroke dan kerusakan yang lebih parah jika dibandingkan dengan penyumbatan arteri kecil pada jenis stroke lainnya,†jelas SanÂtoso dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Selasa (14/8).
Adapun gejala yang perlu diperhatikan, yaitu adanya penuÂrunan kesadaran pada saat onset (pendarahan mendadak) stroke, onset yang tiba-tiba dimulai dari keluhan ringan, tidak ditemukan kejang atau pun pada saat onset, otot-otot penderita mulai meÂlemah atau sering disebut heÂmiÂplegia, kemudian disusul dengan menurunnya kemampuan melihat serta membau.
“Pada saat mengalami stroke, penderita stroke kardioemboli akan mengalami hal yang sama dengan stroke lainnya, yakni adanya gangguan syaraf moÂtoÂriknya, maka penderita mengÂalami gangguan bicara atau biasa disebut pelo,†ujarnya.
Santoso memaparkan, fibrilasi atrium sangat rentan terjadi pada pasien penderita lemah jantung, hipertensi dan diabetes melitus, dan orang lanjut usia.
“Bagi mereka yang memiliki hipertensi dan diabetes melitus, sebaiknya menjaga pola makan, miÂnum obat teratur, supaya terÂhinÂdar dari fibrilasi atrium,†kata dia.
Sementara bagi orang lanjut usia, pola dan gaya hidup seÂwaktu muda akan sangat memÂpengaruhi muncul atau tidaknya fibrilasi atrium.
Dokter spesialis saraf Rumah Sakit Harapan Kita, Eka HarÂmeiwaty menambahkan, gejala awal stroke bersifat mendadak, mulai dari mulut mencong, lumÂpuh, kesemutan separuh badan, maupun berbicara cadel. Jika salah satu gejala utama muncul dan diketahui faktor risikonya, seÂgera ke rumah sakit untuk diÂtangani segera .
“Penanganan awal sangat penÂting untuk menolong pasien membuka sumbatan pembuluh darahnya, sehingga bisa terhindar dari stroke yang membahayakan bagi kesehatan,†terangnya.
Ia juga meminta pemerintah perlu melakukan edukasi dan sosialisasi yang intens akan bahaya penyakit ini ke maÂsyaÂrakat. Dengan begitu, tingkat riÂsiko stroke dapat ditekan semakÂsimal mungkin.
Ahli penyakit jantung dari Departemen Cardiologi FaÂkultas Kedokteran Universitas IndoÂnesia (FK-UI) Yoga Yuniadi meÂngaÂtakan, pasien stroke fiÂbrilasi atrium umumnya lebih berat dan buÂruk, dan peraÂwaÂtanÂnya lebih lama.
Bahkan, penderita fibrilasi punya risiko kematian pada serangan pertama stroke. TingÂginya tingkat keparahan stroke yang diderita oleh pasien fibrilasi, lanjut Yoga, mengindikasikan bahwa penderita akan mengalami penurunan kualitas hidup yang lebih drastis ketimbang mereka yang tanpa fibrilasi atrium.
“Oleh karena itu, pasien fiÂbrilasi atrium merupakan kelomÂpok yang harus mendapatkan penanganan serius untuk menguÂrangi beban stroke secara keÂseÂluruhan di masyarakat,†paÂparnya.
Ia menambahkan, kemungÂkinan terjadinya fibrilasi atrium akan meningkat seiring perÂtamÂbahan usia. Untuk mengetahui diagnosis dapat dilakukan dengan skrining rutin terutama pada usia lanjut dengan EKG (elektro kardiografi) dan periksa denyut nadi secara teratur. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03
Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50
Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53
Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28
Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12