ilustrasi, gas
ilustrasi, gas
Pernyataan itu menanggapi kritikan DPR terhadap KemenÂterian ESDM yang hanya memÂberikan jatah 40 persen gas LaÂpangan Tangguh dari train 3 unÂtuk dalam negeri dan sisanya akan diekspor ke Jepang.
“Saya sudah berjuang 10 buÂlan. Ini perjuangan mati-maÂtian dan sudah berhasil. Sekarang untuk train 3 akan diberikan 40 persen untuk domestik,†tegas WaÂcik saat halal bihalal di kanÂtornya, kemarin.
Wacik yang mengenakan batik biru itu mengatakan, dari kontrak gas Tangguh yang lama, dalam negeri tidak kebagian karena 100 persen diekspor. Setelah dinegoÂsiasi akhirnya dalam negeri keÂbagian pasokan gas dari LaÂpaÂngan Tangguh train 1 dan 2.
Sebab itu, dia mengaku biÂngung dengan penolakan dan riÂbut-ribut soal penjualan gas TaÂngguh tersebut. “Dapatnya beÂraÂpa harus syukuri, karena dulu kita hanya nol persen dan nggak ribut kok,†ucap Wacik dengan nada kesal.
Wakil Direktur ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro meÂngaÂtakan, pihak yang meriÂbutkan rencana ekspor gas LaÂpangan Tangguh train 3 dikaÂrenakan tidak ingin kejadian seÂperti train 1 dan train 2 terulang.
“Kalau yang lama kita tidak meributkan lagi karena sudah kontrak. Nah, sekarang kita tiÂdak mau negara rugi lagi dan meÂmeÂnuhi kebutuhan dalam negeri. Apalagi kita masih puÂnya ruang di sini,†katanya keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Komaidi mengatakan, kendala utama pemenuhan paÂsokan gas untuk domestik adalah infraÂstruktur. Menurutnya, selama ini pemerintah tidak melakukan peÂnambahan infraÂstrukÂtur gas. JiÂka itu tidak bisa dipeÂnuhi, maka paÂsokan gas yang ada tidak bisa diserap. Akhirnya, gas untuk doÂmestik kembali diÂekspor lagi.
“Padahal, sebeÂlumÂnya ada renÂcana untuk melaÂkuÂkan moÂraÂtoÂrium ekspor gas guna keÂpenÂtingan dalam negeri,†tandasnya.
Kepala Dinas Hubungan KeÂmasyarakatan dan Kelembagaan Badan Pelaksana Kegiatan UsaÂha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) A Rinto Pudyantoro meÂngatakan, pihaknya sudah meÂmenuhi kebutuhan pasokan gas untuk domestik, khususnya peÂmenuhan gas alam cair (LiÂqueÂfied Natural Gas/LNG).
Namun, kata dia, karena keterÂbaÂtasan terminal penerima (reÂceiving terminal) yang hanya terÂdapat di lepas pantai utara JaÂkarÂta, maka produksi LNG yang tak mampu diserap terpaksa diÂkirim ke pasar spot untuk mengÂhindari potensi kehilangan yang lebih beÂsar. Jika dibiarkan akan berÂdampak pada penutupan sumur.
Misalnya, kebutuhan LNG unÂtuk domestik tahun ini yang suÂdah terpenuhi adalah untuk pabÂrik pupuk PT Pupuk Iskandar Muda sebesar 8 kargo dan PT NuÂsantara Regas yang mengelola Floating Storage Regasification Unit (FSRU) Teluk Jakarta.
Secara keseluruhan, menurut Rinto, alokasi gas untuk domestik saat ini terus mengalami peningÂkatan sejak tahun 2003 yang haÂnya sebesar 2,38 triliun kaki kuÂbik, melonjak menjadi 20,52 triliun kaki kubik pada 2011.
Peningkatan terbesar adalah unÂtuk alokasi industri dari hanya 0,1 triliun kaki kubik pada tahun 2003, meningkat tajam menjadi 10,18 triliun kaki kubik pada 2011. Sementara alokasi untuk kelisÂtrikan yang pada 2003 hanya 1,18 triliun kaki kubik, pada 2011 telah mencapai 7,01 triliun kaki kubik.
Saat ini terdapat sejumlah proÂyek gas yang memiliki potensi produksi cukup besar, namun jika tidak ada infrastruktur yang diÂsiapkan sesegera mungkin unÂtuk menerima gas tersebut di doÂmestik, maka komitmen BP MiÂgas untuk memenuhi kebutuÂÂhan gas doÂmestik menjadi terÂkendala.
Bahkan, kata dia, kebijakan Menteri Jero Wacik yang memÂberikan jatah 40 persen untuk domestik dari Lapangan Tangguh train 3 akan sulit dikirim jika tiÂdak ada infrastruktur. ApaÂlagi pengembangan infaÂstrukÂtur gas dalam negeri tidak berjalan seÂsuai harapan. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39