Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Hindari Tumpang Tindih, Jenis Kelamin BUMN Mau Diperjelas

RABU, 29 AGUSTUS 2012 | 08:00 WIB

Menteri Badan Usaha Mi­lik Negara (BUMN) Dah­lan Iskan menargetkan pem­ben­­tukan BUMN Pangan yang menggabungkan PT Per­tani, PT Sang Hyang Seri, PT Ber­dikari, PT Pusri dan Pe­rum Bulog rampung akhir 2014.

“Setidaknya 5 sampai 6 pe­rusahaan yang terkait ko­mo­ditas pertanian dan peter­na­kan bisa digabungkan me­la­lui opsi merger ataupun mem­bentuk satu induk usaha (hol­ding) BUMN Pangan,” kata Dahlan usai Rapat Pim­pinan Kemen­terian BUMN di Kan­tor PT Per­tani (Per­sero), kemarin.

Menurut Dahlan, peng­ga­bungan tersebut selain men­ciptakan kekuatan besar di bi­dang pangan, juga agar pe­rusahaan-perusahaan itu lebih fokus dan efisien.

“Jenis kelamin (kekhu­su­san BUMN-red) harus diper­jelas, sehingga tidak ada yang memiliki bisnis tum­pang tin­dih dengan yang lain­nya. Dengan begitu, BUMN yang bersangkutan ka­pasitas­nya bisa lebih di­tingkatkan,” tegas Dahlan.

Sejak 2011, pemerintah men­­canangkan program ber­tajuk Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Kor­­porasi (GP3K), yang ber­tujuan mendukung target sur­plus produksi beras sebesar 10 juta ton pada 2014.

Dalam jangka pendek, me­nurut dia, para BUMN Pa­ngan tersebut juga akan men­cetak sawah baru seluas 100.000 hektar, 30.000 hektar digarap PT Pertani, 40 hektar Syang Hyang Seri dan 30.000 oleh Pusri.

Meski pembentukan BUMN Pangan tersebut sudah masuk dalam rencana program right­sizing (penyesuaian jumlah) BUMN, namun Dahlan belum memastikan nama perusahaan hasil merger (holding) BUMN Pangan yang dimaksud.

Dahlan hanya menjelaskan, untuk mencapai target-target ter­sebut pada tahap awal yang menjadi prioritas dalam jang­ka menengah adalah meng­ga­bungkan PT Pertani dan PT Sang Hyang Seri.

“Dua BUMN ini bisnisnya hampir mirip, pengembangan benih dan distribusi pupuk. Nantinya setelah merger Pertani fokus pada gabah. Sedangkan Sang Hyang Seri fokus pada pengembangan benih. Intinya masing-masing BUMN akan memiliki spe­sialisasi,” terangnya

Selanjutnya, BUMN lain­nya seperti PT Berdikari akan difo­kuskan pada pengem­ba­ngan peternakan, dari se­belumnya menjadi distributor pupuk.

Sedangkan Perum Bulog sesuai dengan kapasitasnya, bisa menjadi perusahaan yang selalu siap menampung pro­duksi gabah dan beras petani dan bisa dikembangkan de­ngan komoditas lainnya.

“Kalau perusahaan-peru­sa­haan tersebut disinergikan, ma­ka masalah ketahanan pa­ngan nasional bisa dijamin,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut bekas di­rut PLN ini, yang di­butuhkan saat ini adalah ba­gaimana secepatnya masing-ma­sing BUMN dapat me­miliki ke­khu­susan sehingga unggul pada setiap komoditas dilakoninya.

BUMN Dhuafa Sulit Dikubur

Selain itu, Dahlan mengaku nasib BUMN dhuafa saat ini masih menunggu keputusan DPR untuk selanjutnya me­nge­luarkan perusahaan-pe­ru­sahaan ini dari daftar BUMN.

Dia pun menyebutkan be­be­­rapa perusahaan seperti Ru­kindo, Perum PPD, PT Balai Pustaka, Kertas Padalarang, ma­sih harus menunggu ter­bitnya Peraturan Pemerintah.

Dahlan mengibaratkan pe­ru­sahaan-perusahaan yang su­dah kehilangan nyawa ini ba­gaikan mayat yang sulit di­kubur. “Meski sudah jadi ma­yat, tapi mayatnya belum bisa terkubur. Udah mati kok nggak dikubur-kubur, kubur aja sulit,” curhatnya.  [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya