ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
“Setidaknya 5 sampai 6 peÂrusahaan yang terkait koÂmoÂditas pertanian dan peterÂnaÂkan bisa digabungkan meÂlaÂlui opsi merger ataupun memÂbentuk satu induk usaha (holÂding) BUMN Pangan,†kata Dahlan usai Rapat PimÂpinan KemenÂterian BUMN di KanÂtor PT PerÂtani (PerÂsero), kemarin.
Menurut Dahlan, pengÂgaÂbungan tersebut selain menÂciptakan kekuatan besar di biÂdang pangan, juga agar peÂrusahaan-perusahaan itu lebih fokus dan efisien.
“Jenis kelamin (kekhuÂsuÂsan BUMN-red) harus diperÂjelas, sehingga tidak ada yang memiliki bisnis tumÂpang tinÂdih dengan yang lainÂnya. Dengan begitu, BUMN yang bersangkutan kaÂpasitasÂnya bisa lebih diÂtingkatkan,†tegas Dahlan.
Sejak 2011, pemerintah menÂÂcanangkan program berÂtajuk Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis KorÂÂporasi (GP3K), yang berÂtujuan mendukung target surÂplus produksi beras sebesar 10 juta ton pada 2014.
Dalam jangka pendek, meÂnurut dia, para BUMN PaÂngan tersebut juga akan menÂcetak sawah baru seluas 100.000 hektar, 30.000 hektar digarap PT Pertani, 40 hektar Syang Hyang Seri dan 30.000 oleh Pusri.
Meski pembentukan BUMN Pangan tersebut sudah masuk dalam rencana program rightÂsizing (penyesuaian jumlah) BUMN, namun Dahlan belum memastikan nama perusahaan hasil merger (holding) BUMN Pangan yang dimaksud.
Dahlan hanya menjelaskan, untuk mencapai target-target terÂsebut pada tahap awal yang menjadi prioritas dalam jangÂka menengah adalah mengÂgaÂbungkan PT Pertani dan PT Sang Hyang Seri.
“Dua BUMN ini bisnisnya hampir mirip, pengembangan benih dan distribusi pupuk. Nantinya setelah merger Pertani fokus pada gabah. Sedangkan Sang Hyang Seri fokus pada pengembangan benih. Intinya masing-masing BUMN akan memiliki speÂsialisasi,†terangnya
Selanjutnya, BUMN lainÂnya seperti PT Berdikari akan difoÂkuskan pada pengemÂbaÂngan peternakan, dari seÂbelumnya menjadi distributor pupuk.
Sedangkan Perum Bulog sesuai dengan kapasitasnya, bisa menjadi perusahaan yang selalu siap menampung proÂduksi gabah dan beras petani dan bisa dikembangkan deÂngan komoditas lainnya.
“Kalau perusahaan-peruÂsaÂhaan tersebut disinergikan, maÂka masalah ketahanan paÂngan nasional bisa dijamin,†ujarnya.
Untuk itu, lanjut bekas diÂrut PLN ini, yang diÂbutuhkan saat ini adalah baÂgaimana secepatnya masing-maÂsing BUMN dapat meÂmiliki keÂkhuÂsusan sehingga unggul pada setiap komoditas dilakoninya.
BUMN Dhuafa Sulit Dikubur
Selain itu, Dahlan mengaku nasib BUMN dhuafa saat ini masih menunggu keputusan DPR untuk selanjutnya meÂngeÂluarkan perusahaan-peÂruÂsahaan ini dari daftar BUMN.
Dia pun menyebutkan beÂbeÂÂrapa perusahaan seperti RuÂkindo, Perum PPD, PT Balai Pustaka, Kertas Padalarang, maÂsih harus menunggu terÂbitnya Peraturan Pemerintah.
Dahlan mengibaratkan peÂruÂsahaan-perusahaan yang suÂdah kehilangan nyawa ini baÂgaikan mayat yang sulit diÂkubur. “Meski sudah jadi maÂyat, tapi mayatnya belum bisa terkubur. Udah mati kok nggak dikubur-kubur, kubur aja sulit,†curhatnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39