Berita

ilustrasi, kerusuhan massal terkait SARA

Wawancara

WAWANCARA

Dr Susaningtyas Kertopati: Mungkin Intel Kasih Info, Tapi Laporannya Masuk Ke Laci

SELASA, 28 AGUSTUS 2012 | 08:35 WIB

Apa yang salah terhadap pengelolaan negara ini, sehingga sering terjadi kerusuhan massal terkait SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

Kasus terbaru terjadi di Sam­pang, Madura, Minggu (26/8). Aki­bat  penyerangan dan ben­trokan warga  Syiah dengan Sun­ni menyebabkan satu orang me­ninggal dunia, dua orang kritis, dan empat luka ringan.

Bulan lalu juga terjadi aksi pe­nyerangan terhadap kampung Ah­madiyah di Kampung Ciam­pea Udik, Cisalada, Bogor. Aki­bat­nya, lima rumah rusak dan satu rumah terbakar. Selain itu, dua orang mengalami luka bacok.

Kejadian kasus SARA seperti ini terus terulang. Sepertinya be­lum ada strategi jitu untuk men­cegahnya.

Menanggapi hal itu, pakar inte­lijen Dr Susaningtyas Kerto­pati mengatakan, sudah saatnya di­evaluasi seluruh kinerja Badan Intelijen Negara (BIN) dan apa­rat teritorial, yakni kepolisian dan TNI.

“Sering terjadi konflik terkait SARA, ini tentu menimbulkan ke­risauan. Makanya perlu dieva­luasi secara menyeluruh,’’ ujar Susa­ningtyas Kertopati kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Menurut anggota DPR itu, tidak bisa selalu menyalahkan BIN. Sebab, seluruh aparat terito­rial sepertinya tidak terintegrasi.

“Intel bisa saja sudah memberi masukan akurat ke kepolisian. Tapi kalau laporannya dimasuk­kan ke laci saja, apa intel juga yang salah,” kata wanita yang se­ring disapa Nuning itu.

Berikut kutipan selengkapnya:


Anda menilai aparat kurang sigap?

Seharusnya intelijen dan aparat senantiasa melakukan penggala­ngan dan upaya preventif. Jangan sampai kalau sudah kejadian, baru kebakaran jenggot, hanya bisa melakukan tindakan represif.


Apa ya aparat kepolisian kurang merespons laporan dari BIN?

Bisa saja intel sudah membe­rikan masukan atau data akurat ke kepolisian, tapi nggak mau tahu. Karena itu harus buka pikiran, jangan selalu menyalahkan intel­nya. Jangan dibilang intel tidak berfungsi. Intel itu kan tidak bisa menangkap.

Kepolisian dipertanyakan dong. Jangan tidur saja. Kalau se­perti itu, apakah intel gagal, nggak bisa dong. BIN itu sudah memberi masukan, tetapi harus dilihat variabelnya banyak. Kan ada TNI dan Polri.

    

Barangkali SDM intelijen kita yang masih lemah?

Jika kita bicara dinamika inte­lijen maka tidak lepas dari kua­litas SDM intelijennya. Meski de­mikian, kita tidak bisa serta merta menyalahkan komunitas intel kita yang lemah.


Kenapa seperti itu?

Badan intelijen baik BIN, Bais, Baintelkam dan lainnya tentu bekerja dalam konteks pencarian informasi, penggalangan dan cipta kondisi. Eksekusi hasil kerja intel adalah aparat teritorial. Jika yang lemah pimpinan komando teritorialnya dalam pengambilan keputusan, apakah intel yang harus disalahkan.


Apa solusinya?

Yang penting ketika intelijen mendeteksi ada tercium suatu ren­cana untuk menimbulkan ke­rusu­han massal, seharusnya aparat men­­support temuan inteli­jen tersebut.

Sunni dan Syiah itu di mana saja ada. Tetapi tidak terjadi se­perti di Sampang, Madura. Kita harus mulai menelusuri embrio kejadian dari faktor budaya mau­pun kepentingan kelompok.

Potensi gangguan itu seha­rusnya bisa dibaca ketika banyak titik keamanan yang menerima pesan-pesan khusus dari otak kejadian.

Seharusnya aparat sigap me­nangkap embrio masalah konflik seperti yang terjadi di Sampang, Madura. Sebab, belum tentu masalah aliran semata. Bisa jadi ada masalah pribadi para pim­pinan aliran tersebut.

 

Kenapa sih masih sering terjadi konflik?

Kejadian ini sebagai bukti nya­ta bahwa mekanisme kehar­mo­­nisan warga belum terbina de­ngan baik. Kemudian aparat juga kurang tanggap bertindak.

Tapi jangan BIN saja yang disalahkan.  Kehormatan suatu negara dapat dilihat dari kemam­puan intelijen dalam menga­pli­kasikan tugas pokok dan fung­sinya. Di mana pun, tak peduli sistem pemerintahannya otoriter atau demokratis, dinas intelijen selalu menjadi kebutuhan negara.

Intelijen dibutuhkan negara sebagai upaya pencegahan ter­hadap berbagai hakikat ancaman yang dihadapinya. Bukan men­jadi bagian dari terciptanya an­caman.


Apa yang harus dilakukan BIN agar ke depan tidak terjadi lagi konflik?

 Sebagai Intelijen profesional penting untuk fokus pada anca­man yang menantang sendi-sendi bernegara. Makanya BIN perlu memproduksi dan menggunakan intelijen untuk melindungi bang­sa dari ancaman, baik internal maupun eksternal.


Apa yang harus dilakukan BIN agar ke depan tidak terjadi lagi konflik?

 Sebagai Intelijen profesional penting untuk fokus pada anca­man yang menantang sendi-sendi bernegara. Makanya BIN perlu memproduksi dan menggunakan intelijen untuk melindungi bang­sa dari ancaman, baik internal maupun eksternal.


Hanya itu saja?

Tidak. Selain nilai-nilai kese­tiaan terhadap negara, keberanian dan integritas, perlu dikem­bang­kan nilai-nilai yang menjunjung profesionalisme, yaitu kepatuhan yang ketat pada konstitusi Indo­nesia, menghormati martabat mereka yang dilindungi, kasih, keadilan, tanpa kompromi terha­dap integritas pribadi dan inte­gritas kelembagaan, akuntabilitas dan bertanggung jawab dengan menerima akibat.

 Konflik komunal terutama ber­kaitan dengan SARA tentu saja tidak bisa kita pandang dari sudut aparat negara saja, baik TNI maupun Polri. Sebab, situasi dan kondisi yang ada tak lepas juga dari peran serta masyarakat maupun pemuka agama serta tokoh adat dan tokoh masyarakat. Makanya, aparat TNI, Polri, dan intelijen sepatutnya menguasai komunikasi massa dan komu­nikasi antar budaya. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya