ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
BEI dikabarkan tengah melakuÂkan aktivasi dengan menggunaÂkan sistem backup atau sistem DRC dan informasi sistem terÂseÂbut kemungkinan bisa berÂjalan sekitar 20-30 menit.
BEI melakukan perÂbaikan terhadap sistem perdagaÂngan di pasar moÂÂdal dan mengaÂkibatkan perÂdaÂgaÂngan saham sedikit mundur akiÂbat pengiriman datanya yang tiÂdak berjalan normal. Sehingga pasar saham yang seharusnya diÂbuÂka pukul 9.30 waktu JATS, kini belum berÂgerak sama sekali.
Data terakhir menunjukkan, penutupan perdaÂgangan akhir pekan lalu, yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 17,260 poin (0,41 perÂsen) ke level 4.145,399. SeÂdangkan Indeks LQ45 melemah 4,861 poin (0,68 persen) ke level 713,257. Akibat kejadian ini, transaksi diundur sekitar 30 menit dan hanya ada 84 Anggota Bursa (AB) dari 114 AB yang terkoÂneksi dengan sisÂtem tersebut.
Memasuki akhir sesi perdaÂgangan pertama, sistem transaksi kembali ngadat. Saat itu, posisi terakhir IHSG berada di level 4.144,125 turun tipis 1,274 poin (0,03 persen). Perdagangan sempat berjalan normal, namun hanya beberapa menit.
Menurut Direktur Utama BEI Ito Warsito, yang justru paling dirugikan dari kejadian tersebut adalah pihak bursa. “Kami diÂruÂgiÂkan karena jam buka warung kita tertunda,†katanya di acara halal bihalal di Jakarta, kemarin.
Untuk itu, pihaknya maÂsih mencari tahu dimana letak keÂsalahannya sehingga tidak seÂmua broker tidak tercakup daÂlam sisÂtem perdagangan.
Direktur PerdagaÂngan BEI SamÂsul Hidayat juga memastikan ada kerugian akibat sistem reÂmoÂte trading yang mengÂalami kenÂdala, kemarin. “Ya kerugian ada, tapi kita belum bisa ungkap beÂrapa kerugianÂnya,†katanya.
Melihat kejadian buruk terseÂbut, banyak broker yang dikomÂplain oleh investor langganannya Mereka mengaku kerap terkena cacian dan makian investor.
“Nggak dapat momentum, suÂdah kenyang ini makan ‘Ragunan’ dari investor,†keluh salah satu broker di pasar modal. Ragunan yang dimaksud adalah kebun biÂnatang yang terletak di Jakarta.
Ungkapan ‘Ragunan’ tersebut berarti cacian dan makian yang diberikan investor berupa nama binatang kepada para broker. PaÂdahal, yang bermasalah di sini bukanlah sistem dari broker, tapi dari BEI sendiri.
Menurut Kepala Riset RecaÂpiÂtal Securities Pardomuan SihomÂbing, sistem perdagangan yang bermaÂsalah seperti ini sangat merugikan investor karena tidak bisa berÂtranÂsaksi sama sekali.
“Sistem perdaÂgangan yang tiÂdak jalan membuat risiko likuidiÂtas bagi investor. InÂvestor yang ingin membeli atau menjual tidak dapat terpenuhi ordernya,†katanya.
Analis pasar modal dari First Asia Capital David Sutyanto meÂngÂatakan, dengan matinya sistem hingga sesi pertama perÂdagaÂngan, potensi transaksi yang hiÂlang bisa mencapai Rp 2 triliun.
Analis pasar modal dari UniÂversal Broker Indonesia Alwi Assegaf mengatakan, adaÂnya gangguan sistem perdagaÂngan pasar saham kemarin pagi memÂbuat pelaku pasar dirugikan. “PeÂngaÂruhnya cukup banyak dengan terÂhentinya perdaÂgaÂngan, teruÂtama dari nilai tranÂsaksi yang pastinya berkurang,†ujarnya.
Menurutnya, hal tersebut bisa saja akan mempengaruhi perdaÂgaÂngan saham, meskipun ada faktor lain yang saat ini menjadi sentimen bagi para pelaku pasar.
“Kalau dilihat sentimennya peÂngaruhnya masih belum berubah, tapi pengaruhnya pasti ada. MesÂkipun saat ini, pengaruh seperti faktor global dan perlambatan serta isu stimulus The Fed (FedeÂral Reserves, Bank Sentral AS) masih berpengaruh,†ungkapnya.
Alwi memastikan pelaku pasar saat ini hanya bisa wait and see sambil melihat kesempatan yang mungkin ada untuk jual maupun beli. Bahkan ia juga mengatakan, bisa saja pelaku pasar memilih libur karena kondisi yang diÂangÂgap tidak jelas seperti itu. PiÂhakÂnya berharap kejadian terseÂbut tidak terulang lagi karena hal seÂrupa juga pernah terjadi sebeÂlumÂnya. “Setidaknya kalau ada hal seperti itu lagi bisa diminiÂmaliÂsaÂsi, kalau ada trouble ada inforÂmasi sebelumnya,†tanÂdasnya.
Sementara transaksi global seperti di Bursa Wall Street AmeÂrika Serikat kembali meÂnanjak setelah European Central Bank (ECB) mempertimbangkan untuk meluncurkan program pembelian surat utang yang baru demi meÂngurangi beban utang negara-negaranya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39