Berita

ilustrasi, LNG

Bisnis

Domestik Butuh Gas Tangguh Tapi Cuma Dijatah 40 Persen

Terkait Kabar Rencana Ekspor LNG Tangguh Ke Jepang
SELASA, 28 AGUSTUS 2012 | 08:04 WIB

.Pemerintah lebih memprioritaskan gas alam cair (LNG) dari Lapangan Tangguh, Papua, untuk diekspor. Alasannya, ekspor bisa meningkatkan penerimaan negara.

Deputi Pengendalian Operasi Badan Pelaksana Kegiatan Usa­ha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Gde Pradnyana me­nga­ta­kan, pihaknya akan meng­alo­ka­sikan 40 persen gas La­pangan Tangguh (train 3), Papua, untuk domestik.

Menurut Gde, ini pertama kali­nya pengembangan kilang LNG dikerjakan dengan mem­prio­ri­taskan domestik. “Kilang LNG sebelumnya (mulai dari Arun, Bon­tang, Tangguh-red) semua­nya mem­prioritaskan ekspor,” kata­nya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Saat ini, kata dia, pemerintah se­dang mengkaji berbagai opsi yang memberikan nilai terbaik un­tuk memenuhi berbagai kepen­tingan. Hasil kajiannya menun­juk­kan kombinasi ekspor dan do­mes­tik akan menghasilkan nilai tertinggi.

Gde mengatakan, har­ga gas do­mestik saat ini sekitar 50 persen dari harga ekspor. Namun, dia mem­bantah pemerintah sudah mem­buat nota kesepahaman (Me­morandum of Under­stan­ding/MoU) penjualan LNG Tang­­guh (train 3) ke Jepang.

“Saat di London, pemerintah (Menteri ESDM Jero Wacik) tidak membuat MoU, tapi mem­bahas hal-hal makro. Belum ada ikatan apa-apa,” tegasnya.

Menurut Gde, kalau ada pen­jualan kargo spot, semua dari diversion Sempra (train 1 dan 2). Sempra dijual di pasar spot ka­rena harganya jauh lebih baik. Dari penjualan itu, negara menda­patkan penerimaan lebih bagus.

Dirjen Basis Industri Manu­fak­tur Kementerian Perindustrian (Ke­menperin) Panggah Susanto menga­takan, pihaknya membu­tuhkan pasokan gas dari Lapa­ngan Tangguh untuk industri pet­rokimia. Menurutnya, saat ini tinggal me­nunggu kepastian pa­sokan gas dari BP Migas.

Berdasarkan kajian Kemen­perin, pemba­ngunan tahap per­tama industri pe­trokimia mem­butuhkan pa­sokan gas minimal 940 juta standar kaki ku­bik per hari (MMscfd). Se­dangkan tahap dua dibutuhkan pasokan 380 MMscfd.

Pasokan itu untuk memenuhi ke­butuhan bahan baku bagi dua pabrik urea berkapasitas 3.500 ton per hari, dua pabrik amonia ber­kapasitas 2.000 ton per hari dan pabrik metanol yang kapasi­tasnya belum bisa dipastikan.

Panggah mengakui, industri pengguna LNG masih sangat sedikit karena harganya mahal. Namun, ia minta pe­merintah le­bih memprio­ritaskan pasokan gas untuk industri dalam negeri.

Anggota Komisi VI DPR Lili Asjudiredja meminta pemerintah lebih mengutamakan kebutuhan pasokan gas dalam negeri.

“Sangat disayangkan jika pe­merintah kembali menjual gas dari Lapangan Tangguh ke Je­pang,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut politisi Golkar itu, kini peme­rintah mengaku sedang giat-giatnya melakukan renego­siasi kontrak gas untuk meme­nuhi kebutuhan dalam negeri.

Apalagi, saat ini pemerintah ju­ga sedang melakukan rene­gosiasi kontrak harga gas Tang­guh ke China karena harganya yang mu­rah dan merugikan negara.

Meskipun saat ini Indonesia mempunyai cadangan gas, na­mun kebutuhan industri dan lis­trik dalam negeri belum bisa di­penuhi. “Jangan karena har­ga­nya lebih mahal dari dalam ne­geri, kita jadi lebih mem­prio­ri­taskan ekspor,” tandasnya.

Sebelumnya, anggota Komisi VII DPR Bobby Rizaldy men­da­pat informasi adanya notulensi rapat yang menyebutkan rencana ekspor gas alam cair (LNG) Tangguh ke Jepang.

Rapat tersebut berlangsung di London, Inggris, yang dihadiri Menteri ESDM Jero Wacik dan Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo saat ber­kun­jung ke negara tersebut.

Sesuai notulensi rapat itu, kon­trak ekspor Tangguh diren­ca­na­kan berlangsung mulai 2013 hingga 2035 dengan volume se­kitar 16 kargo per tahun. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya