Berita

ilustrasi

OPERASI PIHAK KETIGA

Setelah Isu SARA dan Politisasi Kebakaran Jakarta Kini Beredar Seruan Waspada Dalang Kerusuhan 1998

MINGGU, 26 AGUSTUS 2012 | 12:23 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Menjelang putaran kedua pemilihan gubernur DKI Jakarta suhu politik di Jakarta terasa semakin panas. Berbagai isu bersilewaran di tengah masyarakat.

Entah siapa yang memulai. Mungkin dimulai salah satu dari kedua kubu yang bertarung, mungkin dimulai oleh kedua-duanya, atau mungkin juga disengaja oleh pihak ketiga yang ingin memetik keuntungan dari proses pemilihan gubernur Jakarta.

"Dalam perseteruan dua kelompok selalu ada pihak ketiga," ujar pengamat intelijen Wawan H Purwanto dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online beberapa waktu lalu.

Pihak ketiga ini, sebut Wawan, mungkin terlibat langsung atau tidak langung, mungkin juga tidak terlibat sama sekali dalam proses pemilihan gubernur.

"Yang jelas dia ingin mengail di air keruh," ujar Wawan lagi.

Wawan mengingatkan masyarakat Jakarta agar tidak terpancing pada aksi provokasi yang tidak jelas dan dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Utamakan kedewasan dalam mengiktui proses pemilihan, pesan Wawan.

Setidaknya ada tiga isu yang sedang dihembuskan ke tengah masyarakat Jakarta dan diharapkan dapat mempengaruhi peta pertarungan di putaran kedua. Pertama adalah isu SARA, terlepas dari apapun makna SARA bagi masyarakat atau apa yang dipahami masyarakat sebagai persoalan SARA.

Kedua, isu mengenai bencana kebakaran di Jakarta belakangan ini yang dipolitisasi. Politisi PDI Perjuangan, Dewi Aryani, misalnya, menyebut kebakaran-kebarakan itu sebagai teror bencana yang sistematik dan terstruktur di kantung suara Jokowi-Ahok.

Pernyataan Dewi Aryani ini dikecam berbagai pihak karena tidak didasarkan pada fakta yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP).

Adapun isu ketiga beredar belakangan ini, yang meminta agar warga Jakarta waspada terhadap kehadiran kelompok pelanggar HAM yang di tahun 1998 lalu menggoyang Jakarta dengan aksi teror. Isu terakhir ini antara lain disebarkan lewat pesan pendek secara liar ke nomor-nomor telepon genggam warga yang bahkan tidak memiliki suara dalam pemilihan gubernur Jakarta.

"Jelas pasukan kusus dan terlatih yang sering melakukann teror sudah mulai bermain. Waspadai si tokoh dalang kerusuhan 98 dan penjahat HAM ini mulai beraksi. Waspadalah, waspadalah!" demikian antara lain isi pesan pendek itu.

Kembali ke pengamat intelijen Wawan H Purwanto. Menurutnya memang tidak tertutup kemungkinan ada pihak yang ingin membuat Jakarta compang-camping. Faktanya, sebut dia, upaya menghancurkan sendi kehidupan di Jakarta terus dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab sejak akhir era 1990an lalu. Sejauh ini upaya itu gagal.

"Sekarang mau dibikin rusuh lagi. Saya ingatkan agar masyarakat hati-hati dan jangan terbawa emosi," demikian Wawan. [guh]

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Ambang Batas Parlemen Moderat Cukup 2,5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 20:04

Eks Kepala PPATK: Demutualisasi BEI Kebutuhan Mendesak, Faktor Pertemanan Permudah Penyimpangan

Senin, 02 Februari 2026 | 19:50

Ribuan Warga Kawanua Rayakan Natal dan Tahun Baru dengan Nuansa Budaya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Catat! Ini 9 Sasaran Operasi Keselamatan Jaya 2026 dan Besaran Dendanya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Prabowo Terima Dirut Garuda dan Petinggi Embraer di Istana, Bahas Apa?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:41

Menkeu Purbaya Singgung Saham Gorengan Saat IHSG Anjlok, Apa Itu?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:29

Alur Setoran Kades dan Camat ke Sudewo Ditelisik KPK

Senin, 02 Februari 2026 | 19:23

Horor Sejarah Era Jim Crow

Senin, 02 Februari 2026 | 19:14

10 Surat Tanah yang Tidak Berlaku Lagi mulai Februari 2026

Senin, 02 Februari 2026 | 19:12

5 Takjil Khas Daerah Indonesia Paling Legendaris

Senin, 02 Februari 2026 | 18:53

Selengkapnya