Berita

ilustrasi, Kedelai

Bisnis

Krisis Kedelai Terjadi Karena Lahan Penanaman Nyusut

Perlu Investasi Rp 6,8 Triliun
MINGGU, 26 AGUSTUS 2012 | 08:00 WIB

Kementerian Pertanian (Kementan) optimis swasem­ba­da kedelai bisa tercapai pada 2014. Namun, pemerintah me­merlukan investasi sekitar Rp 6,8 triliun.

“Karena banyak petani pro­tes maka stakeholders mulai mem­perhatikan target swa­sem­bada kedelai,” ujar Direk­tur Aneka Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Kementan Maman Suparman.

Ia menyayangkan krisis ke­delai terjadi karena lahan pe­nanaman kedelai yang me­nyu­sut. Padahal saat ini banyak se­kali area lahan yang bisa di­gu­nakan untuk menanam kedelai.

Menurutnya, potensi lahan untuk menanam kedelai masih terbuka lebar karena banyak la­han yang kosong, kurang le­bih ada 750 ribu hektar. Lahan ke­ring 500 ribu hektar serta lahan perkebunan. Sebenarnya peluang untuk perluasan area sudah ada.

Maman mengatakan, kede­lai dalam negeri mempunyai da­ya tarik tersendiri, mulai da­ri rasanya yang khas dan bu­kan produk transgenik.

“Kedelai dalam negeri itu ra­sa­nya lebih enak karena ka­dar ren­demennya lebih tinggi. Se­lain itu risiko terkena pe­nya­kit pun lebih rendah karena bu­kan produk transgenik,” cetusnya.

Tak hanya itu, lanjut Ma­man, panen kedelai dalam ne­geri bisa lebih cepat. Kedelai luar negeri panennya setiap 6 bulan sekali, sedangkan ke­de­lai dalam negeri setiap 3 bulan se­kali. Meski begitu, kualitas ke­delai dalam negeri masih ku­rang bagus dan bentuknya yang kecil-kecil.

Terkait peran Bulog untuk men­jaga kestabilan dari komo­ditas kedelai, menurut Ma­man, peran itu sangat penting un­tuk menjaga harga kedelai tidak jatuh.

“Kedelai itu kalau panen selalu harganya jatuh ditingkat petani, tetapi ditingkat eceran har­ganya tetap stabil. Ma­ka­nya perlu peran Bulog untuk men­jadi penyangga. Jika suatu saat harga jatuh maka di ting­kat petani ada intervensi Bulog dengan pembelian harga po­kok,” tukasnya.

Untuk itu, guna mendukung program swasembada kedelai pada 2014, diperlukan inves­tasi sebesar Rp 6,8 triliun. Di si­si lain, perlu juga peran swas­ta guna mendukung swa­sembada itu.

Pengamat ekonomi Hendri Saparini menyatakan, Indo­ne­sia sulit untuk mewujudkan ke­tahanan dan kedaulatan pa­ngan karena kebijakannya tidak saling terkait.

Dia mengatakan, Indonesia me­nargetkan mewujudkan ketahanan pangan, tapi di sisi lain lebih mengutamakan impor daripada produksi pangan dalam negeri. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya