ilustrasi, Kedelai
ilustrasi, Kedelai
“Karena banyak petani proÂtes maka stakeholders mulai memÂperhatikan target swaÂsemÂbada kedelai,†ujar DirekÂtur Aneka Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Kementan Maman Suparman.
Ia menyayangkan krisis keÂdelai terjadi karena lahan peÂnanaman kedelai yang meÂnyuÂsut. Padahal saat ini banyak seÂkali area lahan yang bisa diÂguÂnakan untuk menanam kedelai.
Menurutnya, potensi lahan untuk menanam kedelai masih terbuka lebar karena banyak laÂhan yang kosong, kurang leÂbih ada 750 ribu hektar. Lahan keÂring 500 ribu hektar serta lahan perkebunan. Sebenarnya peluang untuk perluasan area sudah ada.
Maman mengatakan, kedeÂlai dalam negeri mempunyai daÂya tarik tersendiri, mulai daÂri rasanya yang khas dan buÂkan produk transgenik.
“Kedelai dalam negeri itu raÂsaÂnya lebih enak karena kaÂdar renÂdemennya lebih tinggi. SeÂlain itu risiko terkena peÂnyaÂkit pun lebih rendah karena buÂkan produk transgenik,†cetusnya.
Tak hanya itu, lanjut MaÂman, panen kedelai dalam neÂgeri bisa lebih cepat. Kedelai luar negeri panennya setiap 6 bulan sekali, sedangkan keÂdeÂlai dalam negeri setiap 3 bulan seÂkali. Meski begitu, kualitas keÂdelai dalam negeri masih kuÂrang bagus dan bentuknya yang kecil-kecil.
Terkait peran Bulog untuk menÂjaga kestabilan dari komoÂditas kedelai, menurut MaÂman, peran itu sangat penting unÂtuk menjaga harga kedelai tidak jatuh.
“Kedelai itu kalau panen selalu harganya jatuh ditingkat petani, tetapi ditingkat eceran harÂganya tetap stabil. MaÂkaÂnya perlu peran Bulog untuk menÂjadi penyangga. Jika suatu saat harga jatuh maka di tingÂkat petani ada intervensi Bulog dengan pembelian harga poÂkok,†tukasnya.
Untuk itu, guna mendukung program swasembada kedelai pada 2014, diperlukan invesÂtasi sebesar Rp 6,8 triliun. Di siÂsi lain, perlu juga peran swasÂta guna mendukung swaÂsembada itu.
Pengamat ekonomi Hendri Saparini menyatakan, IndoÂneÂsia sulit untuk mewujudkan keÂtahanan dan kedaulatan paÂngan karena kebijakannya tidak saling terkait.
Dia mengatakan, Indonesia meÂnargetkan mewujudkan ketahanan pangan, tapi di sisi lain lebih mengutamakan impor daripada produksi pangan dalam negeri. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39