ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
Wakil Ketua Komisi IV DPR FirÂman Soebagyo meragukan tercapainya rencana pemerintah mengenai swasembada pangan pada 2014. “Pemerintah harus meÂngÂubah strategi jika ingin meÂwujudkan swasembada pangan kaÂrena strategi yang ada saat ini beÂlum terbukti khasiatnya,†katanya.
Politisi Golkar ini menjelasÂkan, setidaknya ada lima hal yang haÂrus dilakukan pemerintah. PerÂtama, Kementerian Pertanian harus mempunyai data yang valid tentang ketersediaan lahan. Kedua, harus dilihat kondisi lahan dari tingkat kesuburannya.
Ketiga, petani diberikan dukuÂngan sistem. Keempat, kebijaÂkan lintas sektor harus saling menÂduÂkung. Kelima, harus ada sektor yang mendukung lancarÂnya proÂgram swasembada yakni infrastruktur.
Hal itu menjadi penting karena dari kebutuhan pangan nasional sebesar 35 juta ton, 55 persen diÂsangga dari Pulau Jawa. DiÂsamÂping itu, pemerintah harus tegas menindak aparat yang melakukan konversi lahan pertanian pangan berkelanjutan.
Menurut Firman, kunci tercaÂpainya swasembada pangan adaÂlah ketersediaan lahan. Selain itu juga ada aspek pembiayaan peÂtani dan regulasi sehingga petani dapat kemudahan untuk akses pembiayaan.
Pengamat pertanian Ahmad Yakub menambahkan, swasemÂbada pangan sudah berlangsung sejak lama dari tahun 1996. Adapun konsep ketahanan paÂngan tersebut intinya menyuplai berÂbagai komoditas di pasaran dengan berbagai mekanisme.
Namun, pemerintah terjebak cara praktis dan berbahaya deÂngan seringnya melakukan imÂpor. Akibatnya, strategi pemeÂrinÂtah mencari harga internasional yang murah untuk diimportasi buÂkan mengedepankan strategi pemÂbangunan pertanian di pedesaan.
“Infrastruktur di pedesaan banyak yang rusak, lahan pertaÂnian pangan terus berkurang. PaÂdahal itu sangat penting buat petani,†cetusnya.
Sebab itu Yakub menyarankan pemerintah mempunyai strategi perluasan lahan, juga konservasi lahan yang sudah ada. DikhaÂwaÂtirkan, situasi rawan lahan akan terus terjadi dalam beberapa tahun ke depan.
Data dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) menyebutkan, dalam setiap tahun terjadi konÂversi lahan pertanian sekitar 100 ribu hektar. Mirisnya, pemerintah hanya bisa menyediakan lahan baru sebanyak 40 ribu hektar seÂtiap tahunnya.
Selain itu, petani juga memÂbutuhkan kepastian harga dari pemerintah. Yang terjadi selama ini, pemerintah tidak bisa menÂjamin kepastian harga beras, keÂdelai, bawang merah atau jaÂminan tersedianya pupuk tepat wakÂtu saat produksi. Ini hal tekÂnis yang terus terjadi setiap tahun tanpa adanya perubahan.
“Padahal pertanian merupaÂkan sektor lapangan kerja untuk pedesaan. Mengurangi urbaniÂsaÂsi, mengurangi orang yang laÂpar dan memberikan kepastian harapan hidup di desa,†tukasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39