kementerian Badan UsaÂha Milik Negara (BUMN)
kementerian Badan UsaÂha Milik Negara (BUMN)
“Pekerjaan rumah yang kruÂsial bagi pengelolaan BUMN yakni melakukan efisiensi ekstrim bagi BUMN yang hanya membebani potensi penerimaan negara,†ujar peÂngamat ekonomi Universitas Indonesia (UI) Rizal Edi Halim.
Menurutnya, keinginan pemeÂrintah kerap menimÂbulkan ketidakjelasan arah kebijakan BUMN itu sendiri. Menurutnya, ambiguitas ini bisa ditemui pada dorongan untuk menghasilkan laba layaknya Perseroan Terbatas (PT) dan perintah untuk melayani kebutuhan publik (Public Service Obligation). Akibatnya, itu menyebabkan pengelolaan atau manajemen BUMN yang berorientasi jangka pendek.
Rizal mengatakan, kedua moÂdel ini merupakan tembok baÂja bagi governance BUMN, tranÂsparansi yang rendah, model rekruitmen yang buruk dan evaluasi kinerja yang abu-abu.
“Tindakan manajemen yang tidak terkontrol oleh pemeÂgang saham kerap kali terjadi paÂda aktivitas BUMN di IndoÂnesia seperti pengelolaan pajak, persediaan pangan dan peÂngalihan lahan milik negara,†jelasnya.
Rizal menyatakan, kontriÂbusi BUMN hingga saat ini belum dikelola secara optimal. Tidak efisiennya pengelolaan BUMN meÂrupakan salah satu faktor yang patut diduga menÂjadi alaÂsan tidak optiÂmalnya pengeÂloÂlaan perusahaan pelat merah itu.
Ia mencontohkan, pajak BUMN hanya menyumbang 13 persen dalam total peneÂriÂmaan pajak dan dividen hanya berkontribusi 9 persen terÂhaÂdap total Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Rizal menambahkan, yang lebih fantastis adalah rasio diviÂden (PNBP) terhadap peÂneÂrimaan 2011 hanya sebesar 2,4 persen. Stagnansi peneriÂmaan dividen terhadap posÂtur peneÂrimaan negara juga dapat dilihat selama 2005-2011 yang hanya berkonÂtribusi di rentang 2,6 persen hingga 3,4 persen.
Padahal aset BUMN hingga 2011 mencapai Rp 3.000 triliun dengan 140 BUMN di mana 18 di antaranya telah terÂcaÂtat di Bursa Efek IndoÂnesia (BEI) dengan kapitalisasi pasar 23 persen di tahun 2011.
“Data ini menunjukkan betapa tidak bergeraknya BUMN di tengah momentum pertumbuhan ekonomi yang kondusif dalam 2-3 tahun terakhir,†paparnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39