Berita

kementerian Badan Usa­ha Milik Negara (BUMN)

Bisnis

Kontribusi BUMN Kok Belum Dikelola Optimal

SABTU, 25 AGUSTUS 2012 | 08:00 WIB

Pengelolaan Badan Usa­ha Milik Negara (BUMN) yang belum maksimal mem­buat ekspansinya untuk men­jadi pemain global pem­ba­ngunan dan pertumbuhan eko­nomi sulit diharapkan. Bahkan, BUMN di dalam negeri masih sulit bersaing dengan peru­sahaan asal China, Malaysia, atau Brazil.

“Pekerjaan rumah yang kru­sial bagi pengelolaan BUMN yakni melakukan efisiensi ekstrim bagi BUMN yang hanya membebani potensi penerimaan negara,” ujar pe­ngamat ekonomi Universitas Indonesia (UI) Rizal Edi Halim.

Menurutnya, keinginan peme­rintah kerap menim­bulkan ketidakjelasan arah kebijakan BUMN itu sendiri. Menurutnya, ambiguitas ini bisa ditemui pada dorongan untuk menghasilkan laba layaknya Perseroan Terbatas (PT) dan perintah untuk melayani kebutuhan publik (Public Service Obligation). Akibatnya, itu menyebabkan pengelolaan atau manajemen BUMN yang berorientasi jangka pendek.

Rizal mengatakan, kedua mo­del ini merupakan tembok ba­ja bagi governance BUMN, tran­sparansi yang rendah, model rekruitmen yang buruk dan evaluasi kinerja yang abu-abu.

“Tindakan manajemen yang tidak terkontrol oleh peme­gang saham kerap kali terjadi pa­da aktivitas BUMN di Indo­nesia seperti pengelolaan pajak, persediaan pangan dan pe­ngalihan lahan milik negara,” jelasnya.

Rizal menyatakan, kontri­busi BUMN hingga saat ini belum dikelola secara optimal. Tidak efisiennya pengelolaan BUMN me­rupakan salah satu faktor yang patut diduga men­jadi ala­san tidak opti­malnya penge­lo­laan perusahaan pelat merah itu.

Ia mencontohkan, pajak BUMN hanya menyumbang 13 persen dalam total pene­ri­maan pajak dan dividen hanya berkontribusi 9 persen ter­ha­dap total Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Rizal menambahkan, yang lebih fantastis adalah rasio divi­den (PNBP) terhadap pe­ne­rimaan 2011 hanya sebesar 2,4 persen. Stagnansi peneri­maan dividen terhadap pos­tur pene­rimaan negara juga dapat dilihat selama 2005-2011 yang hanya berkon­tribusi di rentang 2,6 persen hingga 3,4 persen.

Padahal aset BUMN hingga 2011 mencapai Rp 3.000 triliun dengan 140 BUMN di mana 18 di antaranya telah ter­ca­tat di Bursa Efek Indo­nesia (BEI) dengan kapitalisasi pasar 23 persen di tahun 2011.

“Data ini menunjukkan betapa tidak bergeraknya BUMN di tengah momentum pertumbuhan ekonomi yang kondusif dalam 2-3 tahun terakhir,” paparnya.  [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya