Berita

ilustrasi

Bisnis

Penjualan Tekstil Pasca Lebaran Diprediksi Cuma Naik 10 Persen

SELASA, 21 AGUSTUS 2012 | 08:11 WIB

Ketua Umum Asosiasi Pertek­stilan Indonesia (API) Ade Su­drajat mengatakan, penjualan tek­stil dan produk tekstil (TPT) pas­ca Lebaran diperkirakan hanya meningkat 10 persen. Angka tersebut mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya yakni 20-30 persen.

Menurut Ade, penurunan itu dikarenakan pola konsumsi pem­belian produk tekstil masya­rakat Indonesia sudah berubah.

“Kalau dulu orang banyak beli baju pas mendekati Lebaran. Nah, saat ini sebelum puasa saja orang sudah pada belanja,” kata­nya kepada Rakyat Merdeka.

Dikatakannya, perusahaan yang tergabung dalam API sudah mengantisipasi kenaikan permin­taan dengan memproduksi dari se­belum Ramadhan. Hal itu dila­kukan karena masa libur Lebaran tahun ini sedikit lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.

“Kami sudah nyicil persiapan­nya sejak lama karena banyak pab­rik yang libur produksi selama masa Lebaran. Selain itu supaya karyawan kami juga bisa libur,” jelasnya.

Ade menganggap maraknya produk impor yang masuk ke pasaran Indonesia, secara lang­sung membawa dampak terhadap produk tekstil lokal. Terlihat pada semester pertama 2012 menga­lami penurunan produksi sebesar 5-6 persen.

Penurunan kinerja industri TPT pada semester I tahun ini dise­babkan oleh aturan perpajakan yang belum mendukung pro­duk­tivitas industri TPT dalam negeri. Menurutnya, sistem pajak per­tambahan nilai (PPN) yang dike­nakan terhadap industri tekstil kurang cocok bagi industri karena masih berbasis pada pengeluaran.

Hal ini menyebabkan pelaku industri merasakan beban yang lebih berat pada proses produksi. Karena aturan PPN yang berbasis pada pengeluaran ini, mau tak mau industri tekstil perlu menaikkan harga jual produknya. “Ini yang menyebabkan daya saing tekstil nasional jadi tergerus,” keluhnya.

Produksi tekstil nasional saat ini masih dikuasai produk tekstil asal Bandung Raya sebesar 54 persen dan sisanya antara lain berasal dari Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sejak 2005, trend penurunan per­mintaan produk tekstil na­sional terus tergerus. Ini dise­babkan masyarakat menengah atas mulai beralih pada produk impor. “Peningkatan pembelian pada bulan puasa hanya pada masyarakat kelas menengah ke bawah,” cetus Ade. [HARIAN RAKYAT MERDEKA]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya