ilustrasi
ilustrasi
Berdasarkan pantauan di tingkat eceran dan pasar tradiÂsional, beberapa komoditas semÂbako seperti gula pasir, minyak goreng, daging ayam dan telur ayam selalu mengalami kenaikan dengan persentase bervariasi.
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian PerdaÂgaÂngan (Kemendag) Gunaryo meÂngaÂku, saat Lebaran memang terÂjadi permintaan yang meningkat taÂjam. Apalagi keluarga di InÂdonesia ingin ada semua jenis makanan saat Lebaran.
“Seberapa besar bahan yang disediakan oleh pemerintah akan diserap pasar karena permintaan yang sangat tinggi bila dibanding dengan hari biasa,†katanya.
Seiring dengan itu, pihaknya akan melakukan antisipasi keÂmungÂkinan lonjakan permintaan. Dia mengatakan, tahun ini perÂminÂtaan mulai naik pas H-6. NaÂmun, yang kita takutkan adalah di DKI. Biasanya H-6 banyak peÂdagang yang sudah pulang kamÂpung, ini membuat permintaan masyarakat tidak bisa dipenuhi.
Menurut Gunaryo, untuk meÂnganÂtisipasi itu, pemerintah suÂdah melakukan kesepakatan deÂngan para pedagang DKI untuk bisa memenuhi kebutuhan perÂminÂtaan. Misalnya, membuat kesepakatan dengan pedagang daging agar memenuhi kebutuÂhan masyarakat. Hal yang sama unÂtuk daging aman dan telur ayam. Pasokannya juga akan aman. “Operasi pasar juga akan tetap terus berlanjut,†jelasnya.
Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron menyatakan, mesÂki kenaikan harga bahan poÂkok merupakan hal yang biasa saat hari raya, dikhawatirkan keÂnaikan tersebut bukan karena prinÂsip ekonomi pasokan dan perÂmintaan, tetapi permainan para spekulan.
“Indikasinya mudah saja, silakan tanya pedagang eceran di pasar-pasar. Kalau mereka mengeluh dengan kenaikan harga-harga berarti spekulan berÂmain. Tetapi kalau kenaikan terÂsebut hanya membuat konÂsumen yang merasakannya, berarti yang terjadi adalah pesta tahunan para pedagang eceran,†jelas Herman.
Untuk itu, Herman meminta pemeÂrintah turun tangan mengaÂtasi kenaikan harga bahan pokok. Menurutnya, Indonesia bukan negara liberalis kapitalis, tetapi ekonomi Indonesia didasarkan pada Pancasila, di mana negara meÂmiliki kewajiban untuk menÂjamin stabilisasi harga-harga, utaÂmanya harga sembako.
“Jika cadangan pangan cukup dan dikuasai negara sudah pasti akan mengerem permainan para spekulan dan harapan rakyat akan ketersediaan pangan dengan harga yang stabil bisa diwuÂjudÂkan,†cetus anggota Fraksi Partai Demokrat itu.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Ahmad Erani Yustika mengatakan, proÂblem kenaikan harga saat hari raya merupakan permasalahan klaÂsik. Hingga saat ini tidak pernah bisa diselesaikan oleh pemerintah. Seharusnya, pemeÂrintah bisa menangani permasaÂlahan ini, agar tidak terus terjadi setiap tahunnya.
Menurutnya, masalah dari caÂrut marutnya harga ada tiga hal. Pertama, Indonesia harus menguÂrangi ketergantungan terhadap impor. Kedua, liberalisasi sektor pertanian itu harus dikurangi, dengan itulah orang mau masuk ke sektor pertanian lagi. Ketiga, penyangga seperti Bulog keweÂnangannya mesti diperluas.
“Saya kira jika ketiga hal tersebut bisa dilakukan oleh pemerintah, maka kenaikan harga bisa ditekan. Perlu juga dilakukan operasi pasar untuk mengawasi naik turunnya harga pasca Lebaran,†cetusnya kepada Rakyat Merdeka.
Dikatakan Erani, hampir semua komoditas penting pangan IndoÂnesia bergantung pada imÂpor. Seperti jagung, kedelai, daÂging, dan beras. “Karena impor maÂka kita sangat bergantung keÂpada harga internasional. Terlebih jika permintaan pasar domestik naik, maka harga di pasar akan ikutan naik,†jelasnya. [HARIAN RAKYAT MERDEKA]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39