ilustrasi
ilustrasi
Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati meminta peÂmeÂrintah memperbaiki alat detektor uang palsu yang ada di maÂsyaÂrakat saat ini. “Alat detektor yang sekarang sudah nggak akurat lagi kaÂrena pemalsu juga sudah pakai alat yang canggih. Kita mengÂusulkan kepada Bank Indonesia di mall, bahkan di minimarket ada alat yang disediakan sehingga maÂsyarakat bisa ikutan ngecek,†ujarÂnya kepada Rakyat Merdeka.
Menurutnya, dengan alat deÂtektor yang saat ini peredaran uang palsu semakin mudah. ApaÂlagi kualitas kecanggihan perÂcetakan uang palsu beberapa kali terbukti lolos sensor matic. Dia berÂharap BI juga mengikuti tinÂdak kecanggihan kejahatan perbankan itu.
“Data BI boleh saja menunÂjukkan ada jumlah penurunan peÂredaran uang palsu, tapi faktanya moÂdus dan kualitas kecanggihan peniÂpuannya justru meningkat. Ini yang harus kita waspadai berÂsama,†tegas Enny.
Persoalan lain sulitnya mereÂdam gejolak peredaran uang palÂsu adalah keenganan masyarakat unÂtuk melapor apabila menjadi korÂban. Karena itu, harus ada perÂlindungan kepada si pelapor suÂpaya pendeteksian uang palsu ini cepat diatasi.
“Sekarang kan serba sulit kalau masyarakat yang dapat uang palsu itu melapor, takutnya malah dia yang ditanya macam-macam. Jadi merasa dipersulit. Akhirnya lebih baik diikhlaskan daripada lapor malah ditanya yang maÂcam-macam. Pola pikir keÂbaÂnyakan seperti gitu,†katanya.
Enny juga mengimbau maÂsyaÂrakat perlu berhati-hati bila meÂlakukan transaksi di mana pun. Uang palsu biasanya terpusat di pingÂgir kota dengan transaksi lebih banyak di malam hari.
Enny juga meminta BI memÂperketat aturan tentang layanan jasa penukaran uang untuk memiÂnimalisir konsumen menjadi korban uang palsu.
“Tempat penukaran itu mesÂtinya yang legal, harus punya izin dari BI dulu, jangan orang biasa per individu bisa buka jasa penuÂkaran uang dalam jumlah besar,†tandasnya.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar RikÂwanto memprediksi banyak uang palsu yang beredar saat Hari RaÂya Idul Fitri. Ini lantaran intenÂsitas transaksi jual beli yang diÂlakukan masyarakat akan seÂmakin meningkat.
“Biasanya uang palsu ini mulai beredar menjelang Lebaran, tahun baru dan Natal, di mana banyak orang menghabiskan uangnya untuk keperluan yang meningkat. Ini patut diwaspadai. Oleh karena itu masyarakat diimbau selalu teliti memeriksa,†kata Rikwanto.
Rikwanto mengatakan, pecaÂhan uang palsu yang akan beredar yakni nominal Rp 50.000 dan Rp 100.000. Para pengedar uang palÂsu biasanya melancarkan moÂdusnya dengan membeli bensin di SPBU atau pun membeli baÂrang di warung, pasar dan toko-toko kelontong dengan mengÂgunakan uang palsu.
Pihak Kepolisian, lanjut RikÂwanto, sudah melakukan kerja sama dengan Bank Indonesia untuk mendeteksi peredaran uang palsu tersebut.
Untuk mengantisipasi marakÂnya uang palsu beredar, masyaraÂkat diimbau selalu memeriksa keaslian uangnya. Salah satu cara paling sederhana adalah dengan melakukan tindakan 3D (dilihat, diraba dan diterawang) pada uang yang dimiliki. [HARIAN RAKYAT MERDEKA]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39