Berita

jero wacik

Bisnis

Menteri ESDM: Banyak PNS Yang Nyolong Pake Premium

Akui Program Penghematan BBM Subsidi Tidak Jalan
JUMAT, 17 AGUSTUS 2012 | 09:06 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengaku program penghematan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak berjalan maksimal.

Wacik mengatakan, anggaran subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sudah terlalu besar ka­rena mencapai Rp 300 triliun (BBM dan listrik).

“Besaran anggaran subsidi ter­­se­but sangat membebani APBN dan mengganggu angga­ran lain­nya, terutama infra­struk­tur,” katanya di Jakarta, kemarin.

Karena itu, pemerintah terus berusaha menurunkan anggaran tersebut melalui penghematan. Tapi kenyataannya kebijakan ter­sebut efeknya tidak besar dan ber­jalan lambat. Penghe­ma­tan­nya juga tidak besar, maksimal 3 juta kiloliter dan tidak begitu ber­dampak pada anggaran subsidi. Apalagi mengajak masyarakat untuk berhemat tidak mudah.

“Sekarang saja masih banyak PNS (pegawai negeri sipil) yang masih nyolong-nyolong meng­gu­nakan premium, padahal sudah ti­dak boleh gunakan itu,” cetusnya.

Menurut Wacik, satu-satunya cara yang tepat untuk mengu­rangi subsidi energi dengan menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik (TDL). Meskipun sering ditolak oleh DPR, tahun depan peme­rin­tah tetap akan mengusulkan wa­cana tersebut.

Saat ditanya, wacana ini sudah di­usulkan pemerintah berulang-ulang tapi tidak pernah terea­li­sasi, Wacik mengaku semua itu karena pemerintah tidak bisa me­naikkan sepihak dan harus ber­koordinasi dengan DPR. “Kita akan coba usulkan lagi ke DPR. Kalau tidak, subsidi kita akan membengkak. Semua pem­ba­ngu­nan akan terhambat,” tegasnya.

Menurut Wacik, kenaikannya akan dilakukan secara bertahap, tidak sekaligus. Hal itu untuk me­ngurangi beban masyarakat. Mi­salnya, kenaikan TDL akan di­lakukan per kuartal, sehingga mas­yarakat tidak merasakannya.

Kebijakan lainnya dengan me­ningkatkan penggunaan ener­gi baru dan terbarukan, seperti pa­nas bumi dan biomassa.

Dalam pidato kenegaraannya, Presiden Susilo Bambang Yu­dho­yono (SBY) juga mengaku, pe­merintah terus memikirkan ca­ra untuk menekan jumlah subsidi BBM yang membengkak.

“Kita juga terus memantau per­gerakan dan tingginya harga mi­nyak dunia. Tujuannya pasti, agar subsidi BBM tidak terus mem­bengkak dan kita dapat mela­kukan langkah-langkah antisipasi,” kata SBY di Gedung DPR, kemarin.

Dikatakan SBY, pemerintah te­rus berupaya menyehatkan sub­sidi BBM melalui pemba­ta­san dan penghematan agar beban APBN dapat dikurangi secara ber­tahap. Dengan cara itu, alo­kasi subsidi BBM dapat digu­nakan untuk peningkatan pem­bangunan infrastruktur.

Anggota Komisi XI DPR Ma­rua­rar Sirait mengatakan, pe­me­rintah tidak perlu menaikkan har­ga BBM dan TDL untuk mengan­tisipasi lonjakan anggaran subsidi dalam APBN. Yang harus dilaku­kan pemerintah adalah mening­katkan peneriman negara dan me­lakukan efisensi penggu­naan ang­garan yang tidak penting.

Menurut politisi PDIP itu, yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan nega­ra adalah meningkatkan pajak dari hasil tambang atau sumber daya alam.

“Pemerintah bisa naikkan pa­jak batubara dan menerapkan bea keluar buat hasil tambang. Jika ini bisa dilakukan maksimal pe­nerimaan negara akan bertam­bah,” katanya, kemarin.

Apalagi sektor pertambangan keuntungan sangat besar. Selain itu, Ditjen Pajak juga harus bisa meningkatkan penerimaan ne­gara dari sektor pajak.

Maruarar berpendapat, me­naik­kan harga BBM dan TDL ha­nya menambah beban masya­rakat. Karena itu, pemerintah ha­rus kreatif mencari penerimaan tambahan.

Untuk diketahui, Kementerian Keuangan memprediksi total rea­lisasi subsidi energi (BBM dan TDL) hingga akhir tahun men­capai 151,2 persen dari anggaran yang ditetapkan Rp 202,4 triliun atau tembus hingga Rp 305,9 triliun, dengan realisasi semester I-2012 sebesar Rp 124,4 triliun dan per­kiraan realisasi semester II-2012 mencapai Rp 181,5 triliun. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya