Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Mendag Heran Produk Impor Kok Kuasai Pasar Tradisional

Pemerintah Diminta Proteksi Pasar Di Dalam Negeri
RABU, 15 AGUSTUS 2012 | 08:07 WIB

.Menjelang Lebaran, pasar tradisional sudah banyak diserbu oleh bahan pangan impor. Hal itu membuat heran Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan.

Mendag Gita Wirjawan me­nya­takan, ber­dasarkan hasil ins­­peksi mendadak (sidak)-nya ke be­berapa pasar tra­disional, dite­mu­kan banyak sekali pro­duk impor.

“Saat sidak puasa ke pasar in­duk banyak sekali produk asing yang dijual,” kata Gita saat ber­buka puasa dengan para pim­pin­an redaksi di rumah pribadi Menteri Perindustrian MS Hida­yat, Senin malam (13/8).

Menurut Gita, tiga minggu lalu produk impor pangan masih me­nguasai pasar-pasar tradi­sional antara lain wortel, kentang, ca­be, kedelai dan bawang putih.

Na­mun, saat ini jumlah ko­mo­­ditas bahan pangan impor mulai ber­kurang seiring dengan mulai ma­suknya masa panen raya be­berapa komoditas pa­ngan dalam negeri seperti ba­wang, kol, cabe dan beras.

Menurut Gita, saat ini bahan pangan impor yang masih dite­mukan di pasar tradisional tinggal bawang putih, wortel dan jahe. Untuk bawang putih, Indonesia me­mang sulit mencapai swasem­badanya. “Kita pernah swasem­bada bawang putih pada tahun 1980-an. Tapi ke depan masih akan sulit,” jelasnya.

Sedangkan untuk wortel dan jahe sifatnya kasuistis dan tidak rata beredar di pasar. Impor jahe ber­asal dari China. Sedangkan im­por kedelai karena produksi dalam negeri hanya mencapai 800 ribu ton dari total kebutuhan 2,6 juta ton. Karena itu, tidak heran jika Indonesia masih harus impor.

Namun, dia me­negaskan, untuk mencapai target swasem­bada kedelai 2014, pe­merintah akan menerapkan sis­tem Harga Pem­belian Pemerintah (HPP).

Gita menjamin pa­sokan bahan pangan menjelang Lebaran aman. Bahkan dia meng­klaim, harga-harga bahan pokok di pa­sar tra­disional relatif turun ka­rena pa­sokannya melimpah.

Ia mencontohkan, tahun ini pe­merintah memasok ayam seba­nyak 2 miliar ekor atau lebih ting­gi dibanding tahun lalu yang mencapai 1,6 miliar ekor. Kondisi ini membuat pasokan aman.

“Kalau kita pantau harga ayam pada awal puasa memang naik. Kita langsung panggil pedagang kenapa bisa naik,” katanya.

Gita juga sudah meminta ke­pada pedagang tidak meng­ambil untung banyak dan meng­ambil kesempatan. “Sekarang har­ga ayam sudah menurun, bah­kan telur juga sudah turun di bebe­rapa tempat menjadi 13 ribu per kilo gram,” tandasnya.

Anggota Komisi IV DPR Su­kiman mengatakan, peme­rintah harus mengurangi keter­gan­tu­ngan terhadap impor pa­ngan. Apalagi anggaran untuk per­tanian dalam Anggaran Pen­dapatan dan Belanja Negara (APBN) terus mengalami pe­ning­katan setiap tahunnya. Bah­kan, tahun ini anggarannya ham­pir men­capai Rp 20 triliun (sub­sidi pupuk dan benih).

“Sangat aneh jika impor pa­ngan kita juga terus meningkat. Ma­­sa jahe saja kita harus impor,” kata Sukiman kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Harusnya, kata dia, dengan me­ningkatnya anggaran perta­nian, impornya juga ikut berkurang. Dia membandingkan ketika era Pre­siden Soeharto, dengan ang­garan minim swasembada pa­ngan masih bisa terlaksana.

Karena itu, Sukiman meminta pemerintah memproteksi pasar dalam negeri dari serbuan impor bahan pangan. Pemerintah boleh impor, asal komoditas tersebut tidak ada di dalam negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit pangan Indonesia 2011 mencapai 9,24 miliar dolar AS atau mendekati Rp 90 triliun. Impor beras Indo­nesia mencapai 2,75 juta ton de­ngan nilai 1,5 miliar dolar AS atau 5 persen dari total kebu­tu­han da­lam negeri. Impor kedelai men­capai 60 persen dari total kon­sumsi dalam negeri dengan nilai 2,5 miliar dolar AS dan im­por ja­gung sebesar 11 persen dari konsumsi 18,8 juta ton se­nilai 1,02 miliar dolar AS.

Sedangkan impor gandum 100 persen atau senilai 1,3 miliar dolar AS, impor gula putih 18 persen senilai 1,5 miliar dolar AS, daging sapi 30 persen dengan nilai 331 juta dolar AS dan susu impor mencapai 70 persen. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya