Berita

ilustrsi/ist

Kesehatan

Ibu Hamil Stres, Anak Rentan Terkena Gangguan Jiwa

JUMAT, 10 AGUSTUS 2012 | 08:21 WIB

Gangguan psikologi saat ibu hamil mesti diwaspadai. Pasalnya, jika ibu hamil mengalami banyak tekanan, depresi dan stress, keselamatan ibu dan janin akan terganggu bahkan berisiko melahirkan anak terkena skizofrenia (gangguan kejiwaan) karena kekurangan zat besi (Fe) saat kehamilan.

Bahkan tak jarang sang ibu bisa sampai membunuh bayinya sendiri. Kondisi depresi ini sering dialami pada masa keha­milan­nya. Sekitar 10-20 persen wanita berusaha untuk melawan gejala depresi dan seperempat sampai setengahnya terkena depresi yang berat.

Psikolog Medicare Clinic Ibu dan Anak Anna Surti Ariani me­ngatakan, terdapat tiga kondisi psikologi utama yang dialami wa­nita hamil. Yaitu, rasa bahagia, ce­mas dan depresi. Sang ibu ba­hagia karena dalam waku dekat akan memiliki keturunan. Se­dangkan ra­sa cemas muncul ka­rena proses kehamilan dan kon­disi di sekitarnya.

“Nah perasaan cemas ini kalau tidak diredam akan berkembang menjadi depresi. Fluktuasi emo­si tersebut adalah hal yang nor­mal, tetapi harus diatasi agar ti­dak berkembang menjadi dep­resi,” jelas Anna dalam diskusi kese­hatan tentang bahaya gang­guan psikologi saat kehamilan di Ja­karta, Selasa (31/7).

Namun yang paling fatal, jika keadaan depresi maupun cemas pada masa kehamilan tidak di­atasi hingga masa kelahiran. Hal itu akan menimbulkan berbagai kondisi depresi yang mengancam per­kembangan bayi. Di antara­nya, baby blues syndrome atau post­partum depression (perasaan sedih setelah melahirkan) dan post­partum psychosis.

“Terutama untuk depresi post­partum psychosis, depresi ini tergolong depresi yang paling serius yang dapat berkembang setelah melahirkan. Seperti hi­langnya kontak dengan reali­tas,” ungkap Anna.

Dia mengingatkan, depresi post­partum psychosis itu harus diper­timbangkan sebagai daru­rat me­dis. Sebab, tingginya risi­ko pasien untuk melakukan bu­nuh diri atau membunuh bayi­nya sendiri. Perawatan ru­mah sakit diperlukan untuk men­jaga ibu dan bayinya tetap aman.

“Postpartum psychosis muncul secara tiba-tiba. Biasanya dalam jangka dua minggu pertama se­telah melahirkan dan kadang dalam 48 jam,” terangnya.

Adapun gejala-gejalanya me­liputi halusinasi (melihat atau mendengar hal-hal yang tidak nyata), delusi (paranoid dan ke­yakinan yang tidak rasional), rasa gelisah dan kecemasan yang eks­trim, pikiran atau tindakan bunuh diri, perubahan mood yang ce­pat, ketidakmampuan atau pe­nolakan untuk makan dan tidur, serta pi­kiran untuk me­lukai atau mem­bunuh bayinya sendiri.

Penyebab depresi pada ibu yang sedang mengan­dung dise­babkan banyak hal. Pertama, ada­nya perubahan hor­mon yang mem­pengaruhi mood ibu secara keseluruhan sehingga sang ibu sering merasa kesal, je­nuh, atau sedih, bahkan tekanan ekonomi. Di sinilah pentingnya peran sua­mi dan keluarga bagi ibu ha­mil.

“Suami bisa mengurangi ke­ce­masan ibu hamil dengan mem­ban­tu mencari informasi seputar ke­ha­milan. Tetaplah menjadi suami siaga selama kehamilan,” sarannya.

Untuk menjadi suami siaga yang baik, yang perlu dilakukan adalah mendengarkan keluhan istri dan mengucapkan kata-kata penghiburan. “Banyak-banyak­lah memeluk, membelai, atau menemani istri,” ujar Anna.

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indo­nesia RSCM Noroyono Wibowo menjelaskan, pa­da janin dari ibu yang meng­alami depresi saat ke­hamilan, akan berisiko melahir­kan anak menderita skizofrenia (gangguan kejiwaan). Saat dep­resi, ibu kekurangan zat besi (Fe) pada masa kehamilannya.

“Ibu yang mengalami kekura­ng­an nutrisi sebelum masa keha­milan, ber­potensi menga­lami dep­resi post­partum atau pasca kela­hiran yang bisa memicu bunuh diri, dan bayi yang dilahirkan bisa meng­alami penurunan kecerda­san hingga 20 persen,” jelas Nuryono. [Harian Ralyat Merdeka]



Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya