Berita

ilustrasi

On The Spot

Sebulan Di Jakarta Bisa Kumpulkan Uang Rp 6 Juta

Menjelang Lebaran, Banyak Pengemis Musiman
RABU, 08 AGUSTUS 2012 | 11:05 WIB

Sumirah, 50 tahun harus membuang impiannya jauh-jauh bisa membawa pulang uang jutaan rupiah untuk Lebaran. Bersama ratusan pengemis lainnya dia akan dipulangkan ke daerah asalnya hari ini.

Wanita asal Brebes, Jawa Te­ngah ini tertangkap aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) DKI Jakarta yang menggelar Operasi Ramadhan. Sasarannya pengemis dan orang gila yang berkeliaran yang di jalan.

Sumirah tertangkap pekan lalu. “Kejadiannya saat malam hari. Saya lagi istirahat di pinggir ja­lan, datang petugas lalu diangkut ke mobil. Habis itu saya dan pu­lu­han orang lainnya dibawa ke­sini pada hari yang sama,” tutur Sumirah saat ditemui di Panti Sosial Bina Insani, Kedoya, Jakarta Barat.

Panti Sosial ini menyediakan lima barang untuk menampung penyandang masalah kesejah­te­raan sosial (PMKS) yang kena garuk aparat. Pria dan perempuan ditempatkan terpisah. Mereka yang ketangkap karena me­nge­mis, menjadi gelandangan mau­pun karena mengidap penyakit jiwa juga ditempatkan terpisah.

Siang kemarin, Sumirah ber­kum­pul di barak pengemis ber­sama puluhan orang yang sama-sama mencoba mengais rezeki dari meminta sedekah. Ia duduk bermalas-malasan di bangku kayu panjang.

Wajahnya yang dipenuhi ke­ri­put tampak sedih. Kedua kakinya yang menjuntai ke bawah di­goyang-goyangkan untuk me­ngusir jenuh.

Wanita berkulit gelap ini me­ngaku datang ke Jakarta sengaja untuk mengemis. Ia berangkat ber­sama beberapa teman sekam­pung menjelang Ramadhan.

Setiba di ibu kota, Sumirah lang­sung menuju tempat-tempat ke­ramaian yang banyak di­kun­jungi orang. Lokasi yang di­pi­lih­nya adalah perempatan lampu merah dan halaman mesjid. Ia mencoba menengadahkan tangan kepada setiap orang yang berlalu di dekatnya. Berharap mereka iba dan memberikan uang.

“Kalau (mengemis) di depan masjid orang pasti gampang kasih sedekah. Yang ngasih mah ada aja. Malah pernah ada yang nga­sih Rp 50 ribu,” tutur Sumirah.

Setiap hari dia bisa mengum­pul­kan uang Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Jumlah uang diper­oleh makin besar menjelang Le­baran. Sebab pada saat itu banyak orang berada yang bagi-bagi sedekah.

 â€œAlhamdulillah saya bisa me­ngumpulkan uang sekitar Rp 6 juta selama hampir sebulan di Ja­karta setelah dipotong biaya ma­kan hidup sehari-hari,” bebernya.

Sumirah mengaku bukan per­tama kali mengemis di Jakarta. Ia juga bukan pertama kali beruru­san dengan Satpol PP dan dibawa ke Panti Sosial Kedoya. Ia me­nyebut sudah tiga kali tertangkap karena mengemis.

“Dibilang takut sih pasti. Tapi kalau untuk kapok datang lagi ke Jakar­ta, itu yang susah. Abis di kampung nggak bisa cari uang. Makanya ya balik lagi ke sini setiap bulan puasa,” ungkap ibu tiga anak ini.

Apakah ada orang mengoor­dinir datang ke Jakarta untuk me­­ngemis? “Nggaklah. Saya me­­ngemis uangnya buat sendiri aja. Ngapain capek-capek ke Jakarta kalo duitnya buat orang lain,” ucapnya.

Hal sama juga dilakoni Muto­lih, 64 tahun, asal Tegal, Jawa Tengah. Alasannya datang ke Jakarta saat bulan puasa untuk mengemis karena tergiur uang besar yang bakal diperoleh.

“Selama mengemis satu minggu, saya bisa peroleh uang se­kitar Rp 1 juta. Kalau di kam­pung, boro-boro kita bisa da­pat­kan uang sebesar itu,” tuturnya.

Mutolih mengaku diajak te­man­nya ke Jakarta untuk me­ngemis. Tanpa pikir panjang ia pun berangkat dengan bekal se­dikit uang. Di ibu kota, ia mang­kal di depan Mesjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selata.

Ruminto, Kepala Tata Usaha Panti Sosial  Kedoya , Jakarta Ba­rat, kebingungan membuat jera mereka agar tak lagi datang ke Jakarta untuk mengemis. “Me­reka pintar cari alasan agar bisa keluar. Setelah keluar, akhirnya tertangkap kembali oleh pe­tugas,”ujarnya.

PMKS yang terkena razia didata. Setelah itu pihak Panti Sosial akan berdiskusi bersama psikolog dan pekerja sosial untuk menentukan langkah apa yang harus dilakukan terhadap mereka. Ada yang dipulangkan ke daerah asal. Ada juga yang dikirim ke panti jompo karena usia mereka sudah tua.

Pengemis dan gelandangan yang akan dipulangkan merupa­kan hasil operasi selama se­mes­ter. “Kuotanya 200 orang, tapi kita lihat jumlah PMKS yang ada di panti-panti. Kita gunakan se­kitar empat bus untuk mengan­tarkan mereka,” katan Rumindo.

Selama Ramadhan, pihaknya sudah dua kali memulangkan para PMKS ini. Pada 27 Juli lalu dipulangkan 155 orang. Mereka dipulangkan karena tidak memi­liki sanak famili di Jakarta juga tidak memiliki keahlian khusus. “Setelah ditampung di panti me­reka memang harus dipulang­kan,” tegasnya.

Selama Ramadhan ini, Dinas Sosial bersama Satpol PP rajin melakukan razia PMKS. Operasi ini ditargetkan bisa menjaring se­ribu orang selama Ramadhan. Ini dilakukan karena jumlah PMKS musiman di Jakarta meningkat ta­jam menjelang Lebaran.  M­e­reka datang dari berbagai daerah untuk mengharapkan belas kasihan dari warga ibu kota.

Setidaknya ada tujuh titik yang menjadi tempat razia. Yakni pe­rem­patan Fatmawati, perempatan Coca Cola, perempatan Ku­ni­ngan-Mampang, perempatan Ke­lapa Gading, perempatan TMII, perempatan Pramuka, dan per­em­patan Matraman.

Kasih Alamat Palsu, Ngakunya Mau Kunjungi Keluarga

Berbagai cara dilakukan penyandang masalah kesejah­teraan sosial (PMKS) yang ter­kena razia agar tak digiring ke panti sosial. Mulai dari ber­dalih salah tangkap hingga mengaku hendak mengunjungi sanak sau­dara yang tinggal di ibu kota.

Kepala Panti Sosial Bina In­sani (PSBI) Kedoya Jakarta Ba­rat, Akmal mengatakan, ketika para PMKS ini ditangkap me­re­ka tak ada yang mengaku se­ba­gai pengemis maupun gelan­dangan. Mereka pun kerap me­nyebut petugas salah tangkap.

“Bahkan ketika sudah bisa dibuktikan mereka pengemis, masih ada saja alasan yang di­sampaikan. Misalnya, mereka bilang baru pertama kali datang ke Jakarta,” ujarnya.

Untuk membongkar kebo­ho­ngan me­reka, petugas lalu ber­ta­nya mengenai nama-nama wi­layah di ibukota. Ternyata me­reka sangat fasih menyebutkan nama-nama lokasi yang ditanya.

“Lalu ada pula yang me­nye­butkan mereka hendak pergi ke rumah keluarganya di Jakarta. Tetapi ketika ditelusuri, ternyata alamat itu palsu,” kata Akbar.

Karena itu, Akmal berpen­dapat keterangan para PMKS tidak bisa dipercaya. Kesim­pulan itu diperoleh dari penga­lamanan melakukan identifikasi para PMKS selama ini.

“Pengalaman itu pula, sam­bungnya, membuat para petu­gas PBSI bisa mengenali mana keterangan yang benar dan mana keterangan yang bo­hong,” katanya.

Akmal tidak membantah, se­­lama ini selalu saja ada orang yang berusaha menjem­put PMKS yang tertangkap. Bila yang menjemput adalah pihak keluarga dan memiliki alamat yang jelas, pihaknya akan me­le­paskan mereka yang ter­tang­kap.  “Ada prosedurnya. Tapi pe­tu­gas tidak akan me­nye­rah­kan begitu saja jika yang men­jemput tidak jelas identitasnya,” ujarnya.

MUI Bakal Keluarkan Fatwa Soal Mengemis

Majelis Ulama Indonesia (MUI) prihatin dengan feno­mena meningkatnya jumlah pengemis di Jakarta menjelang Lebaran. Untuk itu, MUI akan me­ngeluarkan fatwa untuk me­ne­kan jumlah orang yang men­cari penghasilan dari pengemis.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asroun Niam mengimbau warga Muslim menyalurkan sedekahnya ke tempat yang te­lah ditentukan. Sebab bila memberikan sedekah tidak pada tempatnya bakal mengundang pengemis berdatangan.

“Kemiskinan tidak boleh di­eksploitasi, dan meminta-minta juga tidak boleh jadi profesi. Un­tuk itu, negara harus hadir. Ne­gara berperan untuk mem­fa­silitasi dan menjamin simbiosa mutualistik,” ujarnya.

Membayar zakat pada tempat yang ditentukan, tentu akan ter­cipta jaminan terlaksananya ke­wajiban orang kaya dalam ber­se­dekah. Tak hanya itu, soal pen­distribusian kepada yang berhak juga akan tepat sasaran. Menurut Niam, distribusi zakat dan sedekah yang tepat akan menjawab akar masalah ke­miskinan.

Mengemis, kata dia, tidak di­anjurkan karena bisa me­ngang­gu ketertiban. “Untuk itu, pe­me­rintah perlu melakukan pener­ti­ban dan saat yang sama mem­berikan solusi atas kebutuhan da­sarnya, berbasis pada prinsip kemanusiaan dan solidaritas sosial,” tuturnya.

Niam menambahkan, adalah kewajiban setiap manusia untuk berbagi sebagai bentuk kese­tia­kawanan sosial dan tanggung jawab sosial. Salah satu pra­na­ta­nya adalah dengan kewajiban zakat, anjuran infak, dan sede­kah untuk membantu saudara-saudara kita.

“Sedang meminta-minta ada­lah bentuk mencari rezeki yang ti­dak dianjurkan, bahkan tidak di­sukai agama,” ungkapnya. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai untuk Bangun Ekonomi

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:16

7 Cara Mencegah ISPA saat Musim Kemarau

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:10

ITDC Buka Suara soal Laporan Dugaan Korupsi PPK Mandalika ke KPK

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:07

Nadiem Apresiasi Mahasiswa yang Turun ke Jalan

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:04

Usulan Penderita TB Jadi Penerima MBG Harus Dikaji Matang

Selasa, 23 Juni 2026 | 16:01

Kemenkeu Belum Berminat Miliki Saham BEI

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59

Tiga Pejabat Bea Cukai Segera Diadili Gegara Terima Suap dan Gratifikasi Rp71 Miliar

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:53

Update Harga iPhone Terbaru di Indonesia 22 Juni 2026

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:49

Kuasa Hukum Sulaiman Minta Komnas HAM Awasi Dugaan Kriminalisasi

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:45

Joko Anwar Umumkan Pengabdi Setan 3 Akan Tayang 2027

Selasa, 23 Juni 2026 | 15:32

Selengkapnya