Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Pandangan Keliru Tak Boleh Ganggu Program Imunisasi

MINGGU, 05 AGUSTUS 2012 | 08:17 WIB

Sebagian masyarakat masih berpikir keliru soal imunisasi yang bisa memic u berbagai penyakit. Pandangan keliru ini bisa mengganggu kemajuan program imunisasi di Indonesia.

Dulu, imunisasi dipercaya bi­sa mencegah anak terkena pe­nyakit infeksi. Kini, sebagian orangtua menghindarinya de­ngan alasan imunisasi tidak aman untuk mencegah berbagai penyakit infeksi.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Badriul Hegar mengungkapkan, penyebaran informasi keliru itu, telah me­nim­bulkan keresahan di masya­rakat dan ketidaknyamanan prak­tisi kesehatan dalam me­lak­sanakan tugasnya.

“Mengapa harus meng­ha­la­ng-halangi program imu­nisasi. Itu sama saja menem­patkan anak pada lingkungan yang mengancam nyawa,” ka­ta­nya dalam media edukasi Sim­posium Imunisasi IDAI ke-3 di Jakarta, Selasa (20/7).

Padahal, menurutnya, banyak anak-anak di Indonesia me­ning­gal karena penyakit yang sebe­narnya bisa dicegah lewat imu­nisasi. Karena itu, Badriul me­nyarankan, perlu upaya pe­ning­katan dan kom­petensi dok­­ter anak secara ber­kelanjutan.

Guru besar Fakultas Kedok­teran Universitas Indonesia (FKUI) dr Sri Rezeki Hadine­goro me­nambahkan, cakupan imu­nisasi yang masih rendah di In­donesia berpotensi memicu anak terkena wabah penyakit yang bisa menyebabkan cacat bahkan kematian.

“Program imunisasi sudah di­canangkan sejak 70 tahun lalu. Tapi, sampai saat ini, kita ma­sih terus bekerja keras mem­beri pemahaman kepada ma­sya­rakat soal imunisasi,” kata Sri yang juga Ketua Satuan Tu­gas (Sat­gas) Imunisasi IDAI.

Menurut Sri, diperlukan edu­kasi agar masyarakat  mendapat persepsi yang benar dan pe­nerangan secara terus-menerus.

“Ada pemikiran keliru yang banyak beredar, di antaranya isu kehalalan vaksin, efek samping yang mengan­dung zat berbaha­ya, sampai isu konspirasi dari negara barat un­tuk meracuni penduduk ne­gara berkembang melalui imunisasi,” terang Sri.

Sri menyatakan, masyarakat ti­dak perlu ragu akan keama­nan dan manfaat imunisasi. “Saat ini, 194 negara di seluruh dunia te­lah melaksanakan dan me­nya­takan, imunisasi aman dan ber­manfaat mencegah wabah, sakit berat, bahkan ke­matian pada bayi dan anak-anak,” jelas Sri.

Efek samping akibat imu­nisasi yang disebut juga dengan Kejadian Ikutan Pasca Imu­ni­sasi (KIPI) seperti bekas ke­me­rahan, gatal atau demam ringan, lanjutnya, jangan membuat para ibu takut pada efek tersebut.

Yang seharusnya ditakuti, tambah Sri, adalah penyakit yang akan ditimbulkan jika anak tidak diberikan imuni­sa­si. “Pencegahan penyakit lewat imunisasi merupakan cara per­­­­lin­dungan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh lebih mu­rah dibanding meng­obati se­seorang apabila telah ja­tuh sakit,” warning Sri.

Melalui imunisasi, tambah­nya, anak akan ter­hindar dari penya­kit infeksi yang berbaha­ya se­hingga me­mi­liki kesem­pa­tan untuk ber­akti­vitas, ber­main, be­lajar tanpa ter­ganggu dengan masalah kesehatan.

Mengenai isu kehalalan vak­sin, Ketua Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aminudin Yakub mengatakan, imunisasi dalam sudut pandang Islam pa­da dasarnya dibo­leh­kan, bahkan dianjurkan untuk mencegah penyakit. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Timur Tengah Memanas, PKB Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pupuk

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:53

Likuiditas Februari Tumbuh 8,7 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah dan Kredit

Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:38

Trump Bikin Gaduh Lagi, Hormuz Disebut “Selat Trump"

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:53

Krisis BBM Sri Lanka Mulai Mengancam Sektor Pangan

Sabtu, 28 Maret 2026 | 12:17

Arus Balik Lebaran 2026 Dorong Rekor Baru Penumpang Kereta Api

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:53

Beban Utang AS: Masalah Besar yang Masih Diabaikan Pasar

Sabtu, 28 Maret 2026 | 11:24

IHSG Lesu Pasca Libur Lebaran, Asing Ramai-ramai Jual Saham

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:52

Amerika Sesumbar Bisa Habisi Iran dalam Hitungan Minggu Tanpa Perang Darat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:40

Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz, DPR Desak Presiden Turun Tangan!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:28

Komisi XII DPR: WFH Bukan Solusi Tunggal untuk Hemat Energi!

Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:12

Selengkapnya