Berita

rizal ramli/ist

DR. Rizal Ramli: Pemerintahan SBY Tak Punya Otoritas Moral Hentikan Pembantaian Etnis Rohingya

MINGGU, 29 JULI 2012 | 21:35 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Pembantaian ribuan orang dari kelompok etnis Rohingya di Burma sangat tidak manusiawi dan tidak dapat ditolerir. Konflik yang merebak sejak bulan Mei lalu tersebut telah menewaskan tidak kurang dari 6.000 orang warga Rohingya. Foto-foto yang memperlihatkan kondisi korban pembantaian yang begitu mengenaskan tersebar di dunia maya.

Dari Indonesia, tokoh oposisi DR. Rizal Ramli, mengimbau dunia internasional untuk bersatu mengutuk pembantaian yang dilakukan oleh kelompok etnis Rakhine dan dibiarkan oleh tentara Burma. Upaya ekstra juga harus dilakukan agar pembantaian dapat dihentikan, dan orang-orang Rohingya yang kini hidup dalam pelarian bisa kembali ke tempat tinggal mereka.

"Pembantaian ini sangat tidak manusiawi, tidak dapat ditolerir dan jelas merupakan aksi pelanggaran HAM berat," katanya dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online Minggu petang (29/7).

Sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip perdamaian dan kemanusiaan, dan sebagai negara yang memiliki posisi strategis di kawasan Asia Tenggara, sudah sepatutnya Indonesia mengambil peran sentral untuk menghentikan pembantaian dan melindungi orang-orang Rohingya.

Karena itu, ekonom senior ini meminta agar pemerintahan SBY mengajukan protes keras kepada pemerintah Burma yang gagal menangani konflik antara etnis Rakhine dan Rohingya. Pemerintah Indonesia, sebutnya, juga harus terlibat aktif dalam upaya menggalang solidaritas nasional.

Tetapi di sisi lain, DR. Rizal Ramli menyadari bahwa sebagai pemerintahaan yang sering melakukan kekerasan terhadap warga negaranya sendiri, sudah barang tentu pemerintahan SBY kurang memiliki otoritas moral dan politik untuk memperjuangkan nasib warganegara Burma dari etnis Rohingya.

Rizal Ramli merujuk pada peristiwa bentrokan antara warga dengan anggota Brimob Polri dan PTPN VII di Limbang Jaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, yang menyebabkab korban tewas di pihak warga. Angga, anak laki-laki berusia 12 tahun, tewas karena luka tembak di bagian kepala ketika pasukan Brimob menghujani warga dengan tembakan. [guh]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Pernah Tembak Mati Perampok Toko Emas, Eks Kapolres Jakbar Kini Jabat Kapolda Papua Barat

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:17

PIEP Datangkan 450 Ribu Barel Minyak dari Aljazair

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:07

Din Syamsuddin Tawarkan Konsep Etika Global Bersama di Forum Internasional Mauritius

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:05

KSP Kawal Ketat Kopdes Merah Putih hingga Capai Target

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:04

Strategi Pertamina Trans Kontinental Jaga Stabilitas Kinerja 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:49

Lebih dari 42 Ribu Warga Ikut Pilih Logo HUT RI ke-81

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:40

Ketika Demonstrasi Punya Harga, yang Mati Bukan Hanya Integritas Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:34

Forum Bersama Raja Charles III, Jumhur Bicara Kebijakan Pengelolaan Limbah

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:30

Menkop Gandeng KSP Percepat Operasionalisasi Kopdes

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:23

AKBP Supriyanto jadi Kapolres Pertama Kawasan IKN

Jumat, 26 Juni 2026 | 13:20

Selengkapnya