Berita

joko widodo/ist

Bukan Fitnah, Manuver Jokowi Merusak Demokrasi

MINGGU, 29 JULI 2012 | 09:24 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Memilih pemimpin sebaiknya tidak didasarkan pada elemen identitas dan latar belakang, melainkan catatan kapasitas kandidat dan kompleksitas tanggung jawab yang akan dihadapi.

"Menurut saya sesungguhnya memilih pemimpin tidak ada hubungannya dengan Muslim dan tidak Muslim. Pemilih harus cerdas dan mendasarkan pilihan pada rekam jejak masing-masing kandidat," demikian disampaikan Gurubesar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Prof. Bahtiar Effendy, kepada Rakyat Merdeka Online, baru-baru ini (Jumat, 29/7).

Untuk konteks pemilihan gubernur DKI Jakarta, ujar Prof. Bahtiar Effendy, pemilih seharusnya memahami bahwa DKI Jakarta tidak sama dengan daerah lain Indonesia.

"Ini adalah daerah khusus. Kenyataan bahwa Jakarta telah berkembang menjadi metropolis, kenyataan bahwa perwakilan luar negeri ada disini, dan kenyataan bahwa himpitan antara pemerintah pusat dan pemerintah DKI Jakarta begitu kental, memerlukan pemimpin yang mempunyai kemampuan memadai," ujarnya.

"Apa jaminan dengan pengalaman mengelola 500 ribu sampai 600 ribu orang di sebuah kota, seseorang dapat mengelola Jakarta yang sangat kompleks dan memiliki 9 sampai 10 juta penduduk," tanya Prof. Bahtiar.

Dia menyarankan agar masyarakat Jakarta tidak hanya terpengaruh pada pencitraan kandidat. Sebab kalau hanya terpengaruh pada pencitraan kelak warga Jakarta akan rugi dan membayar mahal.

Ia juga mengatakan, dirinya memang mengharapkan pemimpin tingkat nasional dibangun dari daerah. Tetapi hal itu hanya dapat terjadi bila pemimpin di tingkat daerah mampu dan berhasil memperlihatkan komitmennya, termasuk dalam hal memenuhi janji politik, pada masyarakat lokal.

Bagaimanapun juga, sambungnya, demokrasi hanya bisa dijalankan dengan etika. Karena itu sejak putaran pertama pemilihan gubernur DKI Jakarta dia menilai kandidat-kandidat yang meninggalkan komitmen mereka pada konstituen tidak layak untuk dipilih warga Jakarta. Dimanakah moral kandidat seperti itu, tanya Prof Bahtiar lagi.

"Prilaku yang diperlihatkan Joko Widodo dan Basuki Purnama memperlihatkan keinginan mereka memperalat demokrasi hanya sebagai alat untuk merebut kekuasaan. Kalau ini dibiarkan, demokrasi di Indonesia tidak akan pernah berkembang dengan baik," masih katanya.

"Kita tidak memfitnah, tetapi inilah demokrasi tanpa etika. Dari sudut pandang ini Jokowi ikut merusak demokrasi Indonesia," demikian Prof. Bahtiar. [guh]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya