Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Kurang Hormon Testosteron Picu Lelaki Kelamin Ganda

Deteksi Dini Gejalanya
MINGGU, 22 JULI 2012 | 08:09 WIB

Tak hanya terjadi pada laki-laki dewasa saja, bocah laki-laki pun bisa berisiko kena gangguan hormon testosteron atau hipogonadisme yang cukup tinggi.

Gejala yang terjadi bisa ber­beda-beda, pada masa kanak-ka­nak, pubertas dan dewasa. Jika terjadi pada masa pertumbuhan dalam kandungan, maka akan mengganggu perkembangan pem­bentukan organ seks dan kelamin.

Pada janin, umumnya paling mudah untuk dideteksi adalah kelaminnya tidak terlihat jelas. Kromosom bayi harus diperiksa detil, karena bisa saja ketika di­periksa itu kromosom X ter­nyata ketika lahir berubah Y.

“Jika tidak, bisa saja saat de­wasa terjadi ambiguitas ke­lamin,” kata Kepala Divisi Me­ta­bolik Endokrinologi Depar­temen Pe­nyakit Dalam FKUI-RSCM Em Yunir saat menjadi pembicara da­lam diskusi kese­hatan mengenai hipogonadisme ada pria dan ma­salah keganasan kelenjar  tiroid di Jakarta, Jumat (15/6).

Apalagi ketika anak sudah me­masuki usia remaja pada usia SMP 11-15 tahun, biasanya di usia tersebut anak sudah meng­alami perubahan suara. Berlanjut ketika pubertas di usia 15-17 anak laki-laki biasanya sudah tumbuh kumis tipis serta rambut halus (bulu), jerawat pada wajah dan perkembangan seksual lainnya.

Bila tanda-tanda seksual ini tidak ada, orangtua harus segera me­waspadai dan melakukan peme­riksaan ke dokter, karena bisa saja hal tersebut menjadi gejala awal gangguan hipogonadisme.     

“Harus dipastikan hormon  tes­tosteron dalam darahnya ren­dah atau tidak. Jika hormonnya nor­mal, ya tidak masalah,” kata Yu­nir.

Deteksi dini yang dilakukan orangtua juga penting, apalagi jika masa pertumbuhannya anak tidak seperti kebanyakan anak seumurnya.

“Kalau sampai umurnya sudah 20 tahun tapi wajahnya masih se­perti anak-anak (baby face) juga perlu diwaspadai. Terutama jika buah dada/payudara semakin membesar (ginekomastia) seperti anak perempuan,” ucapnya.

Ginekomastia meru­pa­kan pem­bengkakan pada jari­ngan payu­dara pada laki-laki, yang dise­babkan keti­dak­se­im­bangan hor­mon es­trogen dan testosteron.

Bayi yang baru lahir, anak laki-laki memasuki masa puber dan orangtua sering mengalami gine­komastia sebagai akibat peru­bahan kadar hormon. Umumnya, ginekomastia bukan masalah serius, tetapi bisa jadi sulit untuk mengatasinya.

Laki-laki dan anak laki-laki dengan ginekomastia kadang-kadang mengalami nyeri di dada mereka dan mungkin merasa malu. Tak hanya itu, gejala yang terlihat ketika memasuki masa pubertas adalah menurunnya perkembangan massa otot, gang­guan pertumbuhan rambut, gang­guan pertumbuhan penis dan testis yang lebih kecil dari pada ukuran normalnya.

Pada prosesnya, testis ber­kem­bang di dalam perut dan biasanya bergerak turun ke tempat per­manen yang disebut skrotum. Terkadang satu atau dua testis mungkin tidak turun saat lahir.

Kondisi ini sering terlihat dalam beberapa tahun pertama keh­idupannya tanpa pengobatan. Jika tidak terdeteksi pada usia dini, maka bisa menyebabkan kerusakan testis dan ber­ku­rang­nya produksi testosteron hingga dewasa.

Penyebab hipogonadisme pada anak laki-laki, sebelumnya perlu dicari tahu dulu penyebabnya, apakah ada penyakit lain yang menyertainya, seperti kanker dan penyakit kronis lainnya.

Namun, bisa terjadi jika anak pernah mengalami cedera pada testis, mengingat letak testis dan penis yang berada di luar perut, sangat rentan terhadap cedera.

Hipogonadisme pada anak laki-laki pun bisa diobati dengan pemberian hormon testosteron,  yang mampu merangsang pu­bertas dan perkembangan karak­teristik seks sekunder.  [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Setelah 19 Kapolda Berganti, Apa yang Berubah bagi Masyarakat?

Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:19

King Indo Sah Jadi Raja ASEAN Usai Geprek Thailand 4-2

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:54

Jika Gugatan Denny Indrayana Cs Diterima MK Tak Otomatis Gibran Lengser

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:33

Ada Beking Politik, Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Jaksinema Bakal Jadi Mesin Baru Ekonomi Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:55

Bonus Timnas Indonesia Diatur Ketum PSSI

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:38

Nasib Gibran di Tangan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:19

Tak Mudah Pecat Gibran Meski Gugatan Denny Indrayana Cs Dikabulkan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:28

Festival Indonesia 2026 Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta-Seoul

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:03

Jakarta Butuh Regulasi Parkir Valet

Selasa, 06 Oktober 2026 | 02:23

Selengkapnya