Berita

Greenpeace Diminta Manfaatkan Bulan Ramadhan untuk Angkat Kaki dari Indonesia

KAMIS, 19 JULI 2012 | 16:31 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

"Uang judi itu haram. Kalau kita terima uang atau kerja dari uang judi kagak bakalan berkah. Makanya saya imbau orang Indonesia yang kerja di Greenpeace untuk tobat, cari kerjaan yang halal."

Begitu antara lain isi orasi Habib Sholeh bin Muhammad al Hadar di depan massa yang mengikuti demonstrasi damai menolak LSM asing Greenpeace di depan kantor Perwakilan Greenpeace Indonesia, kawasan Lapangan Ros, Jalan KH. Abdullah Syafi'ie No. 47, Tebet Timur, Jakarta Selatan, Kamis siang (19/7).

Pimpinan Majelis Taklim dan Barisan Pemuda Salafunassholeh Ahlussunnah wal Jama’ah dan para pengikutnya itu mempersoalkan dana judi Postcode Lottery dari Belanda yang mengalir ke Greenpeace Indonesia. Itu sebabnya demonstrasi siang bertemakan "Mengusir LSM Greenpeace Penikmat Duit Maksiat".

Habib Sholeh memberikan kesempatan kepada Greenpeace selama bulan Ramadhan untuk angkat kaki dari Indonesia.

“Kami akan memberi waktu selama Bulan Ramadhan kepada Greenpeace untuk berkemas dan hengkang dari Indonesia. Jangan kotori Indonesia dengan uang judi,” ujarnya lagi masih berapi-api.

Habib Sholeh juga mengatakan, dirinya mengantongi banyak informasi dan fakta yang akurat mengenai prilaku Greenpeace yang membuat Greenpeace layak keluar dari Indonesia.

Kementerian Dalam Negeri telah menyatakan bahwa Greenpeace adalah LSM liar karena tidak terdaftar di Kesbangpol Kemendagri dan Kesbangpol Pemprov. DKI Jakarta.

"Menteri Dalam Negeri sudah meminta Polri untuk tidak memberikan rekomendasi izin kegiatan yang dilakukan Greenpeace," katanya lagi.

Dia juga menyoroti dana judi yang diterima Greenpeace di tahun 2010 dan tahun 2012 yang masing-masing sebesar  2,25 juta poundsterling atau senilai Rp 33 miliar. Informasi mengenai data ini dapat dilihat di website resmi Greenpeace.

Pentolan-pentolan Greenpeace di Indonesia, masih sambungnya, harus mempertanggungjawabkan uang judi yang juga digunakan untuk merongrong pemerintah Indonesia itu.

"Mereka terus berkelit tidak mengantongi uang judi. Nyatanya, di situs Greenpeace Belanda, jelas-jelas (disebutkan) mendapat dana judi di tahun 2010 dan 2012. Duit itu kan masuknya dari Greenpeace Belanda ke Greenpeace Internasional, ngalir lagi ke Greenpeace Southeast Asia, baru dah nyampe kantong Greenpeace Indonesia," jelas Habib.

Dalam aksinya, Majelis Taklim dan Barisan Pemuda Salafunassholeh Ahlussunnah wal Jama’ah membentangkan spanduk berukuran 7 x 1 meter untuk dukung tandatangan menolak Greenpeace di Indonesia. Selain itu, puluhan pemuda juga membawa atribut puluhan spanduk dan poster yang berisi ‘’Terima Dana Judi Greenpeace Haram di Bumi Indonesia, Usir LSM Bejat Greenpeace Penikmat Duit Maksiat’’.

Di tengah-tengah aksi Habib Sholeh dan kawan-kawannya itu, seorang aktivis Greenpeace membagikan selebaran yang isinya menjelaskan tuduhan Habib Sholeh. Selebaran itu tak dipedulikan Habib Sholeh. Ia mengambil dan membakar selebaran tesebut.

“Selebaran surat ini tanpa kop surat, ini mengindikasikan bahwa mereka tidak ada keinginan untuk berdialog dengan kami. Greenpeace hanya memutarbalikan fakta,”  katanya.

Di sisi lain, Kepala Perwakilan Greenpeace Indonesia Nur Hidayati dalam siaran pers yang dibagikan itu membantah pihaknya pernah menerima dana judi. Ia berkilah, Postcode Lottery di Belanda bukalah judi seperti yang dituding banyak pihak.

"Di Belanda itu lazim dan karena dananya dari individu maka tidak bertentangan dengan nilai dasar Greenpeace yang tidak mau menerima dana dari pemerintah atau perusahaan mana pun. Tetapi budaya kita berbeda, tentu saja di Indonesia kami tidak akan melakukan hal serupa misalnya mendapat dana dari porkas atau SDSB dan sejenisnya," demikian Nur.

[guh]

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Penjualan LCGC di Dealer Naik, Kiriman dari Pabrik Justru Turun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 14:09

Putin-Prabowo Dijadwalkan Bertemu di Rusia pada 3 September

Minggu, 30 Agustus 2026 | 14:07

AHWA Pemilih Ketum PBNU Harus Bebas Konflik

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:40

Gegara Polis Dibatalkan, MSIG Life Hadapi Gugatan Rp20 Miliar

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:31

Kapolri Dorong Eks Anggota JI Jadi Mitra Polri Jaga Keutuhan NKRI

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:04

Gus Hans Minta AHWA Pilih Ketum PBNU Tanpa Intervensi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:45

Indonesia Desak OKI Ambil Langkah Nyata Hadapi Kejahatan Israel

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jadi Cara Kemensos Jemput Bola Putus Mata Rantai Kemiskinan

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:17

Pasar Mobil Nasional Capai Setengah Juta Unit Pada Semester I 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:46

Korut Rombak Jajaran Militer, Kim Song Gi Ditunjuk Jadi Menhan Baru

Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:20

Selengkapnya