Berita

ilustrasi/ist

Rumah Kaca

Ke Mana Angin Berlalu? 

SABTU, 14 JULI 2012 | 10:31 WIB

SYARIFAH sudah tak muda lagi. Tak ada yang tersisa dari kecantikan masa belianya. Tak ada yang percaya seandainya aku ceritakan pada orang-orang bahwa Syarifah itu adalah bunga desa di masa mudanya. Tak akan. Mana sudi orang mempercayai kisah ini…

Tak lama setelah Ismail, suaminya yang pertama tewas pada sebuah insiden, Syarifah masih sempat menjadi incaran lelaki. Bukan saja pemuda kampung, dan Teungku Maimun juga tergila-gila padanya. Bahkan kabarnya Syarifah itu sempat pula menjadi incaran aparat yang bertugas di kampung kami. Percaya? Ada sebuah kisah di balik jalan hidup Syarifah yang sekarang ini tengah berada di depan mata saya.

Coba perhatikan matanya. Dulu mata itu telah membuat pemuda Ismail memberontak lari dari pesantren. Dia bersumpah akan membawa lari Syarifah andaikan kedua orang tuanya tidak setuju dengan hubungan mereka. Entah setan apa yang merasuki jiwa Ismail. Dia nekat membawa lari putri Haji Umar dari kampung.

Mata Syarifah telah membuat temanku itu meninggalkan akal rasionalnya. "Tidak San," ujar Ismail beberapa tahun lalu. "Aku tidak melarikan diri semata-mata karena takut pada Haji Umar," terangnya.

"Lantas karena apa? Kalau bukan karena kau takut dan telah mencoreng malu wajah orang tua?" tanyaku ketika itu.

***

Perempuan itu kini menatap padaku. Matanya berbinar-binar. Ada setitik cahaya penerang ingatan yang keluar dari sepasang mata yang indah itu. Entah dia masih mengenalku atau tidak. Yang jelas aku sudah puas menatap pada janda temanku itu.

Jilbabnya diayun-ayunkan angin siang. "Syarifah?" tanyaku. Dia tertegun. Ditariknya seorang bocah perempuan yang ada di depannya. Astaga! Aku baru sadar kalau ternyata sekarang ini dia telah punya anak. Selangkah kumundurkan kaki. Kutarik kembali kehadiran diriku yang mengejutkannya.

"Hasan?" tanyanya kembali. Aku mengangguk dan menoleh kepada gadis cilik berusia lima tahunan yang ada di gandengannya.

"Anakmu?"
"Maksudmu?’
"Apa maksudmu dengan maksudku?"
"Aku menemukannya sesaat setelah air surut."

Perempuan itu tersenyum getir. Dibuangnya pandangan ke sekeliling pasar. Ya, pasar yang sempat porak poranda itu kini telah kembali pada keramaian.

"Berapa lama kita tak bertemu?" tanyanya. Kami masih berdiri mematung, dipisahkan oleh jarak kurang dari semeter.

"Entahlah, aku pikir…"
"Aku kawin lagi," potongnya.

"Maksudmu? Kau kawin lagi?" tanyaku. Dia mematutkan wajah. Gadis kecil yang ada di gandengannnya mendengar pembicaraan kami.

"Dengan seorang tentara,"
"Seorang tentara?" aku mengulangi.
"Seorang tentara. Memangnya kenapa?" balasnya bertanya. Aku menggeleng. Kuatur langkahku untuk semakin menjauhinya.

Sekarang, siapa yang percaya bahwa ternyata perempuan yang sedang di hadapanku ini adalah istri seorang tentara? Bukan istri seorang santri yang telah mati di tangan tentara.

"Lupakah kau?"
"Maksudmu?"
"Ismail, dan…" aku terdiam sesaat. Hancur hatiku. Mengingat nasib temanku Ismail.
"Mengapa kawin dengan seorang tentara?" tanyaku lagi.
"Biar bisa membalas sakit hatiku," katanya ketus. Aku mendekat dan mengajaknya berjalan-jalan.

"Di mana rumahmu?" tanyaku.
"Tak ada. Sudah hilang dibawa air," jawabnya singkat. Kemudian dia berhenti.
"Berhenti saja. Aku tak bisa istirahat lama-lama."
"Maksudmu?" tanyaku
"Apa maksudmu dengan maksudku?" balasnya.
"Tentara itu sudah mati,"

Aku semakin tak mengerti, "Kenapa? Ditembak? Kamu racun?" tanyaku girang bercampur cemas.

"Bukan," jawabnya semakin dingin. Kemudian dia menghentikan langkahnya. Kami sudah sampai di depan masjid raya. Gadis kecil melepaskan gandengannya dari tangan Syarifah. Aku semakin melihat tajam kepadanya. Perempuan ini sangat berubah. Aku ingat kalau perkawinannya dengan Ismail tidak disetujui oleh keluarga mereka.

Aku masih ingat ketika malam itu Ismail rebah. Dia sempat berbisik padaku. "Aku difitnah. Aku difitnah. Bawa pergi Syarifah. Kutitipkan dia dan janin bayiku," kemudian Ismail menghembuskan nafasnya yang terakhir di hadapanku.

***

Malam itu, ketika Ismail dieksekusi, aku dibebaskan. "Terima kasih atas laporannya, Tengku" bisik salah seorang tentara yang menginterogasi kami, sambil melepas tali yang mengingat tubuhku di atas sebuah gelondongan kayu.

Mataku ditutup dan ketika dibuka, aku baru bisa menyaksikan kondisi tubuh rekanku itu. Bagaimana mungkin santri yang baik seperti dia melakukan kebodohan dengan cara menutup mulutnya rapat-rapat?

***

Perempuan itu masih berdiri mematung di depan halaman mesjid. Sedangkan dari menara lamat-lamat terdengar suara muadzin mengumandangkan adzan. Kutatap tajam pada matanya yang sudah kehilangan sinar namun tetap menyimpan magis. Aku tertarik pada magnet tatapan matanya yang masih kuat menarikku.

Dia bekas istri temanku. Bagaimanapun aku pernah diberikan amanah untuk menjaganya. Seharusnya aku menjaganya dan tidak membiarkan amanah itu berkeliaran apalagi sampai kawin dengan orang yang telah mengambil kehidupannya.

***

Percayakah kalau dulu aku pernah jatuh hati pada bunga desa itu? Wajar saja. Aku sudah mengatakannya tadi. Beruntunglah Ismail, Syarifah lebih memilih dia menjadi suaminya.  

"Syarifah, aku salat jumat dulu. Kamu masih di sini bukan?" aku tersadar dari ketakjuban rasa yang muncul tiba-tiba. Dia menggeleng. Si Inong yang tengah bermain di sampingnya itu dipanggil. Dengan gerakan lincah gadis kecil itu menghampiri dan kembali menggengam tangan Syarifah.

"Kami harus pergi, mencari sesuap nasi," katanya. Hatiku terenyuh. Jilbabnya masih dimain-mainkan angin siang.
"Ke mana?" tanyaku kemudian.
"Ke pasar," jawabnya.

"Tapi kita belum selesai bicara,"
"Bicara? Tentang apa?" tanyanya.
"Suami keduamu. Yang tentara itu?"

Air mata mulai menetes dari pipinya. "Peduli apa, dengan itu semua? Ismail, Pratu Suryo, suami, keluarga, masa depan, perang dan perang air bah…" dia menghentikan kata-katanya. Aku masih berdiri mendengar keluh perempuan itu. "Semuanya sudah pergi, semua sudah berlalu." Dia memambalikkan badannya. Suara adzan tak terdengar lagi.

Perempuan itu sekarang telah meningalkanku. Untuk kedua kalinya dia melakukan hal yang serupa. Yang pertama, ketika dia menampik cintaku lebih dari enam tahun lalu. Dan sekarang, ketika aku mencoba hadir di dalam kehidupannya dan menjelaskan amanah yang telah diserahkan Ismail padaku…

***

Aku masih penasaran dengan isi hatinya. Bagaimana? Sekarang percayakah kalau aku bilang sampai saat ini aku masih tergila-gila padanya.

Perempuan itu telah kembali kepada kesibukannya. Dia duduk di salah satu sudut pasar yang mulai sepi. Dan meletakkan sebuah mangkok di hadapannya. Sementara gadis kecil itu tidur-tiduran di sampingnya.

Aku membalikkan badan pula dan mendekati teras mesjid. Kulangkahkan kaki ke anak tangga sambil pikiranku terus kepada Syarifah. Begitu besar penderitaan perempuan itu. Begitu dahsyat yang harus ditanggungnya. Tunggulah lihat saja. Dan semoga bisa dipercaya. Setelah salat, aku akan mencarinya dan menceritakan kebenaran sebuah kisah yang terjadi lima tahun lalu tatkala di dalam ruang interogasi bersama suaminya Ismail.

***

Setelah Ismail terbujur kaku, aku masih menyesali tindakanku. Ismail tidak bodoh, akulah yang mengambil kesempatan dari interogasi yang dilakukan tentara malam itu. Aku pikir setelah Ismail mati, maka Syarifah akan menjadi milikku. Sayang aku keliru. Keliru sekali... [***]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Malaysia Fair 2026 Jadi Ajang Perluasan Pasar Medical Tourism di Indonesia

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:12

CFD Rasuna Said Kembali Digelar, Ini Lokasi Parkir dan Rute Transportasi Umumnya

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:10

Begini Spek Bangunan SPPG di Daerah 3T yang Dibangun Kementerian PU

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:47

Sambut Nanik Deyang, APJI Minta Juknis Dapur MBG Dibenahi

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:01

Menteri PU Rampungkan 222 SPPG di Daerah 3T

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:48

KPK Panggil Motivator Ary Ginanjar Agustian di Kasus Gratifikasi IUP Kukar

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:45

Akulaku Finance Dukung Proses Hukum pada Tindakan Kecurangan

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:36

Mubes Kosgoro 1957: Berkas La Ode Beres, Sari Yuliati Belum Bayar Administrasi

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:18

Awas Kolesterol Naik! Ini 5 Tips Sehat Mengolah Daging Kurban ala Ahli Gizi UNS

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:57

AS Buka Jalur untuk 36 Kapal Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:33

Selengkapnya