ilustrasi
ilustrasi
Misalnya, hasil survei Saiful Muzani Reseach and Consulting yang dirilis kemarin. Bisa jadi, hasil survei lembaga yang didirikan Saiful Muzani itu ibarat pedang bermata-dua.
Di satu pihak, terkesan menebar umpan untuk memancing opini negatif terhadap Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie atau Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. Bisa jadi juga malah mempopulerkan dua capres terkaya itu.
"Di pihak lain, menyembunyikan calon-calon lain yang sesungguhnya justru sedang mereka godog. Bisa jadi, rilis itu hanya upaya untuk distraksi publik," ujar Direktur Komunikasi Institute Kebajikan Publik, Andar Nubuwo kepada Rakyat Merdeka Online (Senin, 9/7).
Institute Kebajikan Publik menilai, hasil survei politik memang sangat tergantung pada arah politik survei yang dimainkan lembaga yang bersangkutan. Lembaga survei mana memainkan calon mana hanya soal justifikasi metodologis.
"Institute Kebajikan Publik menyayangkan hampir semua survei politik selama ini telah mendangkalkan makna demokrasi, karena mereka menggunakan definisi minimalis dengan melihat demokrasi semata-mata sekadar sebagai kompetisi elite," ungkapnya.
"Perspektif ini pada gilirannya hanya mereproduksi diskursus demokrasi elitis," sambung kandidat doktor École des hautes études en sciences sociales (EHESS), Paris, Perancis ini.
Diakui, prediksi-prediksi kontestasi politik kepresidenan masih begitu menarik perhatian kalangan politisi, pengamat dan analis politik, dan media massa. Tapi, dia mengingatkan, prediksi-prediksi semacam itu sungguh tak banyak manfaatnya bagi upaya revitalisasi demokrasi, dan pembebasan ruang publik dari hegemoni politik elit.
Berdasarkan, survei SMRC dan Lembaga Survei Indonesia (LSI), hingga saat ini, belum ada calon presiden yang kuat secara elektoral. Hingga saat ini pula belum ada capres yang memiliki tingkat elektabilitas di atas 20 persen sebagaimana dialami SBY dalam Pemilu 2009.
Berdasarkan survei yang digelar pada 20-30 Juni 2012 dan melibatkan 1.219 responden ini, publik yang belum menentukan pilihan mencapai 60 persen. Sementara itu suara dukungan kepada Prabowo mencapai 10,6 persen, Megawati mencapai 8 persen, Aburizal mencapai 4,4 persen, Ani Yudhyono mencapai 4,3 persen, JK mencapai 3, 7 persen.
Sementara itu, tingkat elektabilitas Surya Paloh mencapai 1,4 persen, Wiranto mencapai 1,1 persen, Sultan Hamengku Buwono mencapai 0,9 persen, Dahlan Iskan mencapai 0,9 persen dan Hatta Rajasa mencapai 0,7 persen. [zul]
Populer
Sabtu, 18 April 2026 | 02:00
Senin, 20 April 2026 | 14:11
Jumat, 17 April 2026 | 17:46
Senin, 13 April 2026 | 14:18
Kamis, 16 April 2026 | 00:32
Kamis, 16 April 2026 | 18:10
Senin, 13 April 2026 | 08:21
UPDATE
Selasa, 21 April 2026 | 18:18
Selasa, 21 April 2026 | 18:17
Selasa, 21 April 2026 | 18:13
Selasa, 21 April 2026 | 18:04
Selasa, 21 April 2026 | 17:52
Selasa, 21 April 2026 | 17:43
Selasa, 21 April 2026 | 17:42
Selasa, 21 April 2026 | 17:16
Selasa, 21 April 2026 | 17:13
Selasa, 21 April 2026 | 17:10