proyek Jembatan Selat Sunda (JSS)
proyek Jembatan Selat Sunda (JSS)
RMOL. Di tengah polemik tentang jaÂminan proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) senilai Rp 100 triÂliun lebih, tiba-tiba keÂmarin BaÂdan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan mereÂkomendasikan agar peÂmeÂrintah bisa memberikan duÂkungan dan atau jaminan terhadap meÂgaproyek nasional ini.
Rekomendasi tersebut diÂsamÂpaikan Kepala BKF BamÂbang P.S. Brodjonegoro yang tertuang dalam suratnya keÂpada SekreÂtaris Kementerian Koordinator Bidang PerekoÂnomian, yang ditembuskan kepada Menko Perekonomian, Menkeu, WaÂmenkeu, Wamen Pekerjaan Umum (PU) dan sejumlah peÂjabat eselon satu pada bebeÂrapa kementerian terkait.
Rekomendasi itu merupakan masukan atas rencana amandeÂmen Perpres Nomor 86 tahun 2011 tentang Pengembangan KSISS. Dalam surat bernomor S-305/KF/2012 dan diteken pada tanggal 30 April 2012 lalu itu, Bambang menyebutÂkan beberapa poin masukan.
“Terhadap pembangunan JemÂbatan Selat Sunda, pemeÂrintah bisa memberikan dukuÂngan dan/atau jaminan pemeÂrintah berdasarkan usulan BaÂdan PeÂlaksana kepada PresiÂden,†deÂmikian bunyi poin perÂtama surat Kepala BKF KeÂmenkeu. Badan Pelaksana yang diÂmaksud adalah BaÂdan PeÂlakÂÂsana Pengembangan KaÂwaÂsan Strategis dan InfraÂstruktur Selat Sunda (KSISS).
Investor JeÂpang dikabarkan mulai tertarik dengan proyek JSS. Minat tersebut meÂruÂpaÂkan bagian rencana Negeri Matahari Terbit untuk memÂbangun sistem transÂporÂtasi terpadu, guna menguÂrai keÂmaÂÂcetan di Jakarta dan meÂningÂkatkan konektivitas antar wiÂlayah di Indonesia.
Wakil Menteri PU HerÂmanÂto Dardak sudah meneÂmui Wakil Menteri LaÂhan, InfraÂstruktur, TransporÂtasi dan pariÂwisata Jepang NaoÂyoshi Sato.
“Kami meÂnyamÂbut baik kunÂjungan pihak Jepang dan ke deÂpan berharap kami dapat bekerja sama untuk sebuah keÂsepakatan terutama di biÂdang ITS (Intelligent TransÂporÂtaÂtion System),†ucap HerÂmanto, kemarin.
Badan Perencanaan PembaÂngunan Nasional (BapÂpenas) memÂperkirakan, besaran penjaÂminan yang diminta konÂsorÂsium pemÂbuat studi kelayakan ditakÂsir 150 juta dolar AS (seÂkitar Rp 1,5 triliun). Besarnya penjaÂmiÂnan itu jadi salah satu pertimÂbangan pemeÂrinÂtah unÂtuk meÂngambil kepuÂtusan.
“Jadi, kami masih mengkaji apakah untuk proyek sebesar itu layak diberikan penÂjaminÂan, ya kira-kira beÂgitu,†ujar Deputi Bidang Sarana dan Prasarana BapÂpeÂnas Dedy S Priyatna. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16