Berita

proyek Jembatan Selat Sunda (JSS)

Bisnis

Investor Jepang Minati Proyek JSS

BKF Ajukan Rekomendasi Jaminan
SELASA, 03 JULI 2012 | 08:18 WIB

RMOL. Di tengah polemik tentang ja­minan proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) senilai Rp 100 tri­liun lebih, tiba-tiba ke­marin Ba­dan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan mere­komendasikan agar pe­me­rintah bisa memberikan du­kungan dan atau jaminan terhadap me­gaproyek nasional ini.

Rekomendasi tersebut di­sam­paikan Kepala BKF Bam­bang P.S. Brodjonegoro yang tertuang dalam suratnya ke­pada Sekre­taris Kementerian Koordinator Bidang Pereko­nomian, yang ditembuskan kepada Menko Perekonomian, Menkeu, Wa­menkeu, Wamen Pekerjaan Umum (PU) dan sejumlah pe­jabat eselon satu pada bebe­rapa kementerian terkait.

Rekomendasi itu merupakan masukan atas rencana amande­men Perpres Nomor 86 tahun 2011 tentang Pengembangan KSISS. Dalam surat bernomor S-305/KF/2012 dan diteken pada tanggal 30 April 2012 lalu itu, Bambang menyebut­kan beberapa poin masukan.

“Terhadap pembangunan Jem­batan Selat Sunda, peme­rintah bisa memberikan duku­ngan dan/atau jaminan peme­rintah berdasarkan usulan Ba­dan Pe­laksana kepada Presi­den,” de­mikian bunyi poin per­tama surat Kepala BKF Ke­menkeu. Badan Pelaksana yang di­maksud adalah Ba­dan Pe­lak­­sana Pengembangan Ka­wa­san Strategis dan Infra­struktur Selat Sunda (KSISS).

Investor Je­pang dikabarkan mulai tertarik dengan proyek JSS. Minat tersebut me­ru­pa­kan bagian rencana Negeri Matahari Terbit untuk mem­bangun sistem trans­por­tasi terpadu, guna mengu­rai ke­ma­­cetan di Jakarta dan me­ning­katkan konektivitas antar wi­layah di Indonesia.

Wakil Menteri PU Her­man­to Dardak sudah mene­mui Wakil Menteri La­han, Infra­struktur, Transpor­tasi dan pari­wisata Jepang Nao­yoshi Sato.

“Kami me­nyam­but baik kun­jungan pihak Jepang dan ke de­pan berharap kami dapat bekerja sama untuk sebuah ke­sepakatan terutama di bi­dang ITS (Intelligent Trans­por­ta­tion System),” ucap Her­manto, kemarin.

Badan Perencanaan Pemba­ngunan Nasional (Bap­penas) mem­perkirakan, besaran penja­minan yang diminta kon­sor­sium pem­buat studi kelayakan ditak­sir 150 juta dolar AS (se­kitar Rp 1,5 triliun). Besarnya penja­mi­nan itu jadi salah satu pertim­bangan peme­rin­tah un­tuk me­ngambil kepu­tusan.

“Jadi, kami masih mengkaji apakah untuk proyek sebesar itu layak diberikan pen­jamin­an, ya kira-kira be­gitu,” ujar Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bap­pe­nas Dedy S Priyatna. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya