ASEAN
ASEAN
RMOL. Aturan kepemilikan saham perbankan yang akan diterbitkan Bank Indonesia (BI) akhir Juli nanti, sebaiknya diikuti revisi Peraturan Pemerintah (PP) yang memperbolehkan kepemilikan saham hingga 99 persen.
Demikian dikatakan Presiden Center for Banking Crisis (CBC) Ahmad Deni DaÂruri. Ia meneÂgaskan, sebaiknya PP Nomor 29 Tahun 1999 Tentang Pembelian SaÂham Bank Umum harus segera direvisi.
“PP tersebut sudah sepatutnya segera direvisi, karena sudah tiÂdak sesuai lagi dengan kebutuÂhan nasional baik saat ini mauÂpun ke depan. Revisi itu harus mengatur bahwa saham yang boleh dibeli asing maksimal 49 perÂsen dan dilakukan secara berÂtahap dalam kurun waktu lima taÂhun ke deÂpan,†ujarnya di Jakarta kemarin.
Ia juga menyarankan, agar atuÂran baru BI nanti tidak meÂnimÂbulkan huru-hara perbankan. AturÂan itu tidak boleh berlaku surut. “Harus diterapkan per Juli 2012 ke depan. Karena kalau aturan itu berlaku surut, bisa terjadi huru-hara perbankan,†ujarnya.
Ia berpesan, jika aturan baru tersebut sudah terbit, PerÂaturan Bank Indonesia (PBI) juga harus ada. “Ini untuk menjadi ruang investor mengembangkan bisÂnis perbankannya di InÂdoÂnesia guna menggerakkan peÂrÂekonomian,†tutur Deni.
EkoÂnom Indef Ahmad Erani Yustika mengatakan, BI sebagai regulator di sektor perbankan haÂrusnya bisa melihat kenyataan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum bisa memÂbedakan anÂtara bank asing dan bank nasional.
“Kan banyak juga perbankan asing tetapi membawa nama InÂdonesia di belakang perusahaÂanya. Jadi seakan-akan mereka ini adalah bank nasional. Hal ini juga merupakan strategi dari perÂbankan tersebut,†jelas Erani keÂpada Rakyat Merdeka.
Terkait dengan kepemilikan saÂham asing pada perbankan di InÂdonesia, Erani menjelaskan, seÂhaÂrusnya Indonesia bisa mengÂikuti perbankan yang ada di ASEAN.
“Saat ini perbankan di ASEAN telah menerapkan aturan untuk kepemilikan asing hanya 30 perÂsen. Hal ini bisa saja terjadi pada Indonesia. Jika melihat pertumÂbuhan ekonomi Indonesia, keÂpemilikan saham asing 30 persen cukup pas,†ujarnya.
Terkait aturan kepemilikan saÂham asing yang saat ini mencapai 99 persen, Erani menyarankan agar PP tersebut segera direvisi.
“Tapi bank-bank asing yang terkena dampak dari aturan ini perlu diberikan waktu untuk bisa menyesuaikan karena aturan ini cukup berdampak bagi mereka yang saham asingnya besar. BuÂtuh waktu antara 5-6 tahun,†tuturnya.
Namun Wakil Ketua Komisi IX DPR Harry Azhar Azis meÂngaÂku belum memahami bebeÂraÂpa poin terkait aturan baru BI tersebut. Ia mempertanyakan apakah otoritas moneter memiliki aturan jika induk usaha negara asing punya anak usaha di InÂdonesia dan melakukan pembeÂlian saham atau merger akuisisi tetapi induknya tak punya cabang di sini.
“Contoh hangatnya Bank DaÂnamon dan DBS. Induknya kan Temasek yang sebenarnya tidak punya perwakilan di Indonesia. Sekarang lagi proses transaksi jual beli di wilayah hukum Indonesia. Apakah ini diperbolehkan? BI belum jawab itu. Ini akan jadi contoh bagi bank-bank asing lainnya,†tandas Harry. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16