Berita

ilustrasi, Ikan

Bisnis

Distribusi Ikan Indonesia Timur Kacau Balau Nih...

Pengusaha Pengangkut Ikan Terus Dipersulit
SENIN, 02 JULI 2012 | 08:22 WIB

RMOL.Asosiasi Pengusaha Kapal Pengangkut Ikan (APKPI) me­rasa tidak dilibatkan dalam pro­gram Sistim logistik ikan nasio­nal (SLIN) yang dicanangkan Kementerian Kelautan dan Peri­kanan (KKP). Hal itu mengaki­batkan distribusi ikan dari sentra tangkapan ikan di kawasan timur ke sentra pemasaran terhambat.

Presiden APKPI Sakiman me­nyatakan, kawasan Indonesia Ti­mur sangat minim pelelangan ikan. Selain itu. Jumlah pelabu­han juga sangat terbatas.

“Seha­rus­nya dengan kapal pe­ngangkut ikan, maka membantu logistik perikanan, yang memba­wa hasil tangkapan ikan di timur ke wila­yah pemasaran di barat,” katanya di Jakarta, kemarin.

Selain itu, regulasi yang di­te­tap­kan pemerintah dinilainya sa­ngat berbelit dan masih ada pu­ngutan yang dikenakan kepada para kapal pengangkut ikan oleh oknum yang diduga dari Angka­tan Laut. Sebagai contoh, perizi­nan mengenai surat izin kapal pengangkut ikan (SIKPI) itu mem­batasi wilayah operasi.

“Akibatnya, saat ada musim pa­nen tangkapan ikan, kapal pe­ng­angkut tidak bisa masuk. Kon­disi ini berdampak pada ter­gang­gu­nya pemasaran hasil tang­ka­pan dan harga ikan jatuh saat mu­sim pa­nen, terutama di Indone­sia Ti­mur,” curhat Sakiman.

Pihaknya meminta kepada KKP agar memberikan kemuda­han proses perizinan serta kele­lua­saan wilayah operasi untuk pengusaha kapal pengang­kut ikan. Sebab, kapal tersebut meng­angkut semua ikan hasil tangkapan nelayan ke pelabuhan dan sentra pemasaran.

Dengan dukungan kapal peng­ang­­kut ikan, maka nelayan juga bisa menghe­mat dalam operasio­nal penang­kapan ikan. Ia men­contoh­kan, nelayan tradisional di Raja Ampat membawa ikan se­besar 30 kilo­gram di pasarkan ke Sorong. Pada­hal, hasil penjualan tidak sebanding dengan ongkos perjalanan ke pasar ter­sebut.

“Jadi SLIN itu tidak berarti sa­ma sekali kalau tidak didukung kapal pengangkut, karena kapal kita juga berfungsi sebagai cold­storage,” ungkapnya.

Sakiman menjelaskan, saat ini APKPI memiliki 200 anggota pe­ngusaha dengan kepe­milikan ka­pal berkapasitas rata-rata 150 ton.

“Jadi, wilayah kita se­ba­gian besar beroperasional di kawa­san timur indonesia dan hasil tang­kapan nelayan di angkut ke Ba­nyuwangi, Bitung, Batang dan Muara Baru,” jelasnya. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya