ilustrasi, Ikan
ilustrasi, Ikan
RMOL.Asosiasi Pengusaha Kapal Pengangkut Ikan (APKPI) meÂrasa tidak dilibatkan dalam proÂgram Sistim logistik ikan nasioÂnal (SLIN) yang dicanangkan Kementerian Kelautan dan PeriÂkanan (KKP). Hal itu mengakiÂbatkan distribusi ikan dari sentra tangkapan ikan di kawasan timur ke sentra pemasaran terhambat.
Presiden APKPI Sakiman meÂnyatakan, kawasan Indonesia TiÂmur sangat minim pelelangan ikan. Selain itu. Jumlah pelabuÂhan juga sangat terbatas.
“SehaÂrusÂnya dengan kapal peÂngangkut ikan, maka membantu logistik perikanan, yang membaÂwa hasil tangkapan ikan di timur ke wilaÂyah pemasaran di barat,†katanya di Jakarta, kemarin.
Selain itu, regulasi yang diÂteÂtapÂkan pemerintah dinilainya saÂngat berbelit dan masih ada puÂngutan yang dikenakan kepada para kapal pengangkut ikan oleh oknum yang diduga dari AngkaÂtan Laut. Sebagai contoh, periziÂnan mengenai surat izin kapal pengangkut ikan (SIKPI) itu memÂbatasi wilayah operasi.
“Akibatnya, saat ada musim paÂnen tangkapan ikan, kapal peÂngÂangkut tidak bisa masuk. KonÂdisi ini berdampak pada terÂgangÂguÂnya pemasaran hasil tangÂkaÂpan dan harga ikan jatuh saat muÂsim paÂnen, terutama di IndoneÂsia TiÂmur,†curhat Sakiman.
Pihaknya meminta kepada KKP agar memberikan kemudaÂhan proses perizinan serta keleÂluaÂsaan wilayah operasi untuk pengusaha kapal pengangÂkut ikan. Sebab, kapal tersebut mengÂangkut semua ikan hasil tangkapan nelayan ke pelabuhan dan sentra pemasaran.
Dengan dukungan kapal pengÂangÂÂkut ikan, maka nelayan juga bisa mengheÂmat dalam operasioÂnal penangÂkapan ikan. Ia menÂcontohÂkan, nelayan tradisional di Raja Ampat membawa ikan seÂbesar 30 kiloÂgram di pasarkan ke Sorong. PadaÂhal, hasil penjualan tidak sebanding dengan ongkos perjalanan ke pasar terÂsebut.
“Jadi SLIN itu tidak berarti saÂma sekali kalau tidak didukung kapal pengangkut, karena kapal kita juga berfungsi sebagai coldÂstorage,†ungkapnya.
Sakiman menjelaskan, saat ini APKPI memiliki 200 anggota peÂngusaha dengan kepeÂmilikan kaÂpal berkapasitas rata-rata 150 ton.
“Jadi, wilayah kita seÂbaÂgian besar beroperasional di kawaÂsan timur indonesia dan hasil tangÂkapan nelayan di angkut ke BaÂnyuwangi, Bitung, Batang dan Muara Baru,†jelasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16