Djoko Kirmanto
Djoko Kirmanto
RMOL.Pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang dicanangkan oleh pemerintah dan swasta justru jadi polemik. Terlebih setelah bocornya surat Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo kepada Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto. Surat Agus Marto perlu dibahas.
Dalam surat tersebut, Menkeu menyebutkan semua biaya yang diperlukan dalam penyiapan proÂyek pembangunan infraÂstrukÂtur Selat Sunda bersumber dari AngÂgaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Disebutkan MenÂÂkeu bahÂwa seÂlaku peÂnanggung jawab proyek kerja sama, Menteri PU menyiÂapkan proyek pembanguÂnan inÂfrastrukÂtur Selat Sunda yang terÂdiri dari studi kelayakan, renÂcana bentuk kerja sama dan renÂcana penaÂwaran kerja sama yang menÂÂcakup jadwal, proses dan caÂra peÂnilaian.
Menanggapi hal itu, Djoko KirÂÂmanto menyatakan, siap jika haÂrus melakukan studi kelayakan JSS. Menurutnya, hal tersebut meÂrupakan salah satu tanggung jawabnya sebagai Menteri.
“Saya ini kan menteri. Kalau diÂtugaskan negara, saya pasti siap,†kata Djoko kepada wartaÂwan di kantornya, kemarin.
Dia menilai, pendanaan pemeÂrinÂtah untuk uji kelayakan baru berdasarkan usulan dari Menteri Keuangan dan belum ada pemÂbaÂhasan lebih lanjut. “Itu baru akan kita bahas sekarang,†jeÂlasnya.
Mengenai pembahasan terseÂbut, dia mengaku belum mengeÂtahuinya. Sebab, sampai saat ini pihaknya baru akan melapor ke Menteri Sekretaris Negara untuk melaporkan hal tersebut. Djoko mengakui, dirinya memang meÂneÂrima suÂrat dari Menkeu meÂnyoal pemÂbiayaan JSS ini.
Ditanya soal revisi PerÂaturan PreÂsiden (PerÂpres) Nomor 86 tahun 2011, yang menekankan pengaÂlihÂan studi kelayakan dilaÂkukan pemerintah, bukan konÂsorÂÂsium pemrakarsa, bekas KomiÂÂsaris Bumi Serpong Damai ini menuturkan, hal itu perlu terÂmuat di Perpres. “Yaitu dengan memÂpelajari dulu apa dampakÂnya,†kata Djoko.
Djoko mengatakan, bukan tiÂdak mungkin nanti kalau pemÂbiayaan studi kelayakan ini diÂbiayai pemerintah. “Kalau preÂsiden sudah putuskan, kita akan selalu siap,†ujarnya.
UnÂtuk keputusan pastinya, dia mengatakan, mungkin minggu depan. “Kalau minggu ini tidak akan cukup dibahas, ini saja suÂdah hari Jumat,†tandasnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua KoÂmisi XI DPR Harry Azhar Azis menyatakan, jika memang benar Menkeu berkirim surat pada MenÂteri PU Djoko KirÂmanto terÂkait beban biaya peÂlakÂsanaan studi kelayakan dan basic design JSS itu dibebankan pada APBN, maka itu masuk dalam pos angÂgaran di Kementerian PU. (RakÂyat Merdeka, 28/6).
Menurut Harry, surat MenÂkeu tersebut berpotensi memicu perÂsoalan baru karena bertenÂtangan dengan PerÂpres Nomor 86 tahun 2011 tenÂtang Pengembangan KaÂwasan Strategis dan InfraÂstruktur Selat Sunda yang diÂteken PresiÂden SBY tanggal 2 Desember 2011.
Menteri Agus Marto sebeÂlumnya meÂneÂgaskan, untuk peÂlaksanaan peÂngemÂbangan kaÂwasan strategis dan infrastrukÂtur Selat Sunda, foÂkus pengemÂbangan infrastrukÂÂtur adalah pemÂbangunan jembaÂtan.
Adapun tahapan dalam rangÂka persiapan proyek pembanguÂnan infrastruktur Selat Sunda meliÂputi tiga tahap. Yaitu, perÂsiaÂpan proyek, pemberian duÂkuÂngÂan dan/jaminan pemerinÂtah, serÂta proses pengadaan baÂdan usaha kerja sama.
“badan pelaksana berÂtindak sebagai koordinator atas pengemÂbangan kawasan strategis dan infrastruktur Selat Sunda,†tukas Agus Marto. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16