Berita

ilustrasi

Syahganda Nainggolan: Persoalan yang Mendera Papua Kian Berat

RABU, 27 JUNI 2012 | 20:45 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Cicrle (SMC), Syahganda Nainggolan mengatakan persoalan yang mendera Papua semakin berat dan kompleks.

Selain akibat sikap lamban pemerintah pusat, pemahaman yang tidak menyeluruh dalam mengatasi beban di Papua juga merupakan penyebab utama.

"Pemerintah hanya mengasumsikan Papua dalam pendekatan keamanan serta melupakan akar masalah lain yang lebih penting, seperti ketidakadilan ekonomi dan pembangunan, aspek kesejahteraan masyarakat, maupun terkait persoalan pelik lain berupa kesenjangan sosial dan politik baik di masyarakatnya atau dengan daerah lain," kata Syahganda saat membuka seminar Arah Politik Nasionalisme Papua di Jakarta, Rabu (27/6).

Acara yang digelar SMC itu menghadirkan sejumlah pembicara yaitu pengamat pemerintahan, Ngadisah Dalail, peneliti SMC, Perdana W Santosa, dan tokoh masyarakat adat Papua masing-masing Yonas Alvon Nussy, Lenis Kagoya, serta Simon Petrus Metalmetty.

Menurut Syahganda, dengan penanganan tidak menyeluruh akan membuat masalah Papua menjadi melebar dan terus menyebabkan krisis. Sedangkan melalui penyelesaian antaraspek yang meliputinya, dipastikan dapat memulihkan keadaan Papua secara berangsur-angsur dan bahkan cepat.

"Masyarakat Papua juga akan memberi dukungan pada upaya penuntasan masalah yang bersifat menyeluruh, sebaliknya bila hanya mengambil jalan pintas berupa tindakan pengamanan, maka akar persoalan Papua tak akan pernah terselesaikan," ujar kandidat doktor ilmu kesejahteraan sosial Universitas Indonesia itu.

Ia menambahkan, upaya menuntaskan permasalahan Papua yang menyeluruh tidak boleh ditunda-tunda lagi, mengingat kini menjadi kebutuhan mendesak bagi warga Papua, di samping merupakan pertaruhan kepercayaan orang Papua kepada pemerintah pusat.

"Papua adalah ikatan nasionalisme Indonesia sejak lama, karena itu jangan sampai soal nasionalisme ini terganggu dan kemudian lebih mengemuka sebagai komoditas internasional. Jadi, mempercepat penyelesaian Papua identik dengan perjuangan mengukuhkan nasionalisme di tanah Papua," jelas Syahganda.

Namun demikian, ia menegaskan hakikat penyelesaian Papua harus dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, demi membuat Papua yang damai, sekaligus untuk mengedepankan jiwa nasionalisme dalam membangun kejayaan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Papua.

Keterlibatan penuh SBY sangat mendesak, Apalagi, masalah Papua memang banyak tersulut ke permukaan selama delapan tahun era kepemimpinan SBY," ungkap Syahganda. [zul]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Perpres Pelindungan Ojol Jangan Berhenti di Atas Kertas

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:29

Awasi Ketat Penggunaan Anggaran Operasi Modifikasi Cuaca

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:16

Sakelar Cahaya di Dalam Otak

Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:04

Kartu Nikah Digital Bisa Diakses melalui Simkah, Ini Caranya!

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:44

Nusron Wahid Bikin KPK Tidak Berkutik

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:24

Dulu di Depok Banyak Maling dan Begal, Sekarang Aman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 05:08

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Puluhan Korban Investasi Emas Polisikan Direksi PT DGJ

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:33

Tragedi Affan dan Bambang Jangan Terulang

Minggu, 11 Oktober 2026 | 03:14

Selengkapnya