ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan merekomendasikan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menutup perusahaan tambang yang tidak melaksanakan reklamasi dengan baik.
“Reklamasi sebagai bagian daÂri pelaksanaan kegiatan tamÂbang sangatlah penting. Oleh kaÂrena itu, setiap perusahaan yang tidak melaksanakan reklamasi dan revegetasi dengan baik haÂrusnya tidak diperpanjang izin tambangnya,†kata anggota BPK Ali Masykur Musa usai penyeÂrahan hasil pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan KemenÂterian ESDM Tahun Anggaran 2011 di Jakarta, Senin (25/6).
Atas hasil pemeriksaan laÂpoÂran keuangan Kementerian EnerÂgi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2011 itu, BPK memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
Menurut Ali Masykur, selain pemeriksaan keuangan, BPK juÂga melaksanakan pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu yang berspektif lingkungan. Antara lain peÂmeÂrikÂsaan atas pengelolaan perÂtamÂbangan mineral dan batubaÂra (miÂnerba).
Saat ini BPK juga sedang meÂlaksanakan pemeriksaan atas peÂngelolaan pertambangan miÂneral di PT Freeport Indonesia, PT Newmont Nusa Tenggara dan PT Aneka Tambang.
Selama ini, kata Ali, PeneriÂmaan Negara Bukan Pajak (PNÂBP) dari sektor sumber daya alam meningkat dari tahun ke tahun, rata-rata sebesar 26 perÂsen. NaÂmun, kerusakan lingkuÂngÂan juga diidentikkan dengan keÂgiatan pertambangan yang tiÂdak berwaÂwasan lingkungan.
Dia menyatakan, hasil peÂmeÂriksaan BPK tahun 2010 samÂpai 2011 di tiga provinsi yang menÂjadi sampel pemeriksaan diÂteÂmukan 64 pemegang Izin UsaÂha Pertambangan (IUP) beÂlum meÂnyampaikan rencana reklamasi dan rencana pasca tambang.
Selain itu, 73 pemegang IUP serta dua Pemegang PerÂjanjian Karya Pengusahaan PerÂtambaÂngan BatuÂbara (PKP2B) belum menemÂpatÂkan jaminan reklamasi dan jaÂminan pasca tambang seÂsuai ketentuan yang berlaku.
BPK mengharapkan, keberÂhaÂsilan Kementerian ESDM memÂperbaiki opini laporan keÂuangan menjadi motivasi untuk meÂningÂkatkan pengelolaan lingÂkungan pertambangan sesuai prinsip peÂngelolaan pertambaÂngan yang baik. “Ini zalim, mereka mau hasilÂnya tetapi tidak mau untuk mereÂklamasi,†tegas Ali.
Dia meminta kepada KeÂmenÂterian ESDM, jika ada peruÂsaÂhaan tambang yang belum Clean and Clear (CNC) atas perÂsyaÂraÂtan tersebut, dilaporkan saja ke BPK untuk diperiksa.
Anggota Komisi VII DPR Ali Kastela mengatakan, seharusnya BPK sudah melakukan audit lingÂkungan pertambangan sejak dulu. Menurutnya, kerugian akiÂbat keÂrusakan lingkungan oleh kegiatan pertambangan sama beÂsar dengan penerimaan negara.
Menurut Politisi Partai Hanura itu, kerusakan lingkungan perÂtambangan saat ini sudah menÂcaÂpai 70 persen. Jika dibiarkan akan mengganggu penerimaan negara. “Audit ini (lingkungan) telat,†kritiknya.
Menteri ESDM Jero Wacik menÂdukung rencana BPK yang akan melakukan audit perÂtamÂbangan. “Ini bagus sekali, kombinasi KeÂmenterian ESDM dengan BPK, karena kami juga sangat serius mengamankan lingkungan hiÂdup,†kata Wacik, kemarin.
Menurutnya, tidak boleh ada penambang atau industri migas melalaikan lingÂkungan. RenÂcana BPK terÂsebut sejalan dengan arah kebiÂjakan pemerintah.
Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Thamrin Sihite mengaku banyak peruÂsahaan yang mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) beÂlum memberikan jaminan reklaÂmasi kepada pemerintah.
Dikatakan, saat ini ada 10 ribu IUP yang diterbitkan. PeruÂsahaÂan yang masuk kategori tidak ada maÂsalah diprediksi hanya 6.000 IUP. Pemerintah pusat keÂsulitan mencaÂbut izin pertamÂbaÂngan kaÂrena keÂwenangannya berÂada di peÂmerintah daerah. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16