ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Arus modal asing yang masuk ke Indonesia lebih banyak tidak berÂÂpihak pada rakyat dan hanya meÂngunÂtungkan sekelompok orang.
“Mestinya modal asing ini bisa digunakan untuk membangun keÂpentingan rakyat, khususnya di pedesaan,†ujar Ketua Umum Gerakan Bangun Desa BahaudÂdin Tonti seusai seminar PanÂcasila & UUD 1945 Untuk MeÂrebut Kembali Kesatuan Bangsa di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, potensi bangsa ini sangat besar. Jika bersatu baik dari segi sumber daya manusia dan sumber daya alamnya, IndoÂnesia akan menjadi bangsa besar.
“Kalau ingin membangun InÂdonesia, bangun dulu desanya. Desa maju, Indonesia juga maju,†cetusnya.
Ketua Umum Komite PimpinÂan Pusat Partai Rakyat Demokrat (PRD) Agus Jabo Priyono meÂnyeÂÂrukan semua unsur kekuatan ekonomi nasional siap menghaÂdapi daÂtangnya arus modal asing.
“Sebenarnya kami tidak anti modal asing selama itu tidak berÂwatak imperial (merampok). KaÂmi hanya ingin bangsa ini menÂdapat keuntungkan dari keÂkaÂyaan yang ada,†tegasnya.
Menurut dia, bangsa ini selalu menjadi pihak yang dirugikan deÂngan keberadaan pemodal asing. Apalagi banyak yang menÂjadi peÂnguasa di sektor-sektor industri strategis. Salah satunya sektor industri pertambangan.
Padahal, menurut pasal 33 UUD 1945, sumber daya alam mesti dikelola untuk kepentingÂan rakyat. Tapi sekarang terbaÂlik, pihak asing di dalam negeri jusÂtru menjadi raja.
Situasi ini, diakui Agus, dileÂmaÂtis. Pasalnya, di satu sisi maÂsukÂnya pemodal asing itu meÂmiÂliki nilai positif terhadap pemÂbaÂngunan. Di sisi lain, kebeÂraÂdaÂannya memiliki nilai negatif lanÂtaran maÂsih terbuka lebarnya keÂsemÂpatan meraup untung besar.
“Kita harus cermat mengÂhaÂdapi modal asing itu agar menÂdapat keuntungan lebih besar dibanding mereka. Harus ada give and take. Mana yang lebih menguntungkan, harusnya kita,†ucap Agus.
Terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diklaim mengÂalami kenaikan 6 persen, Agus berpendapat, kenaikan itu tidak layak dijadikan patokan meÂningÂkatnya perekonomian bangÂsa ini. Yang terpenting adalah siaÂpa peÂnikmat dari kenaikan terÂsebut. Apakah masyarakat atau penguÂsaha. “Kalau yang menikÂmati itu pengusaha asing, ya saÂma saja bohong,†cetusnya.
Belum lagi, berdasarkan data yang ada, setiap tahun kekayaan Indonesia yang dibawa keluar negeri sekitar Rp 14.300 triliun. “Bayangkan, APBN kita cuma Rp 1.300 triliun, utang Rp 1.900 triiun, pertumbuhan ekonomi yang disampaikan pemerintah itu tidak identik dengan kemakÂmuran,†ungkapnya.
Agus menilai, banyaknya perÂsoalan bangsa ini pasca reformasi bermula dari amandemen UUD 1945 yang tidak mengindahkan bagian pembukaan, yakni prinsip kedaulatan, kemandirian dan kesejahteraan umum yang menÂjadi tujuan berbangsa.
Menurutnya, amandemen terÂseÂbut yang mengakibatkan bangÂsa ini kehilangan kedaulatan karena cenderung memberikan landasan konstitusional ekonomi bagi modal asing untuk meÂnguasai sumber daya alam negara ini. Akibatnya, ekonomi negeri hancur dan menimbulkan konflik di masyarakat.
Atas dasar itu, pihaknya akan terus bergerak, baik mengÂguÂnaÂkan metode parlementer untuk mengembalikan Pancasila seÂbaÂÂgai filosofi negara dan meÂngemÂbalikan UUD 1945 sebaÂgai dasar bangsa. “Kita menyeÂrukan kepaÂda seluruh kompoÂnen bangsa berÂsatu menegakkan keÂdaulatan bangÂsa dan menguÂsir kekuatan jahat di negeri kita,†pungkasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08