Perusahaan Gas Negara (PGN)
Perusahaan Gas Negara (PGN)
RMOL.Peran ganda Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai trader gas sekaligus transporter gas, menjadi pemicu kenaikan harga gas untuk industri. PeÂmeÂrintah kesulitan mengendalikan harga komoditi energi ini.
Badan PelakÂsana Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) mengÂungkapkan, seÂlama ini, PT PGN Tbk hanya meÂmenÂtingkan peÂngaliran gas miÂlikÂnya keÂtimbang perusahaan lain.
“Pipa transmisi yang seÂmesÂtinya open access (terbuka) leÂbih diprioritaskan melayani keÂpenÂÂtingan bisnis trading-nya (niaga) dulu sebelum memberiÂkan akses kepada pihak lain yang hanya ingin membayar toll-fee (ongÂkos angkut) dari pipa itu,†kata Juru Bicara BP Migas Gde Pradnyana di Jakarta, kemarin.
Menurut Gde, konÂdiÂsi tersebut akibat rangkap posisi PGN yang menjalankan fungsi peÂngangÂkutan (transporter) sekaÂligus niaga (trader) gas bumi meÂlalui pipa. Persoalan hilir yang tidak efisien lalu dibebankan ke hulu.
Karena itu, pihaknya setuju deÂsakan agar PGN diposisikan seÂbagai transporter saja, seÂhingÂga tata niaga gas menjadi lebih efisien.
“PGN yang semesÂtinya menÂjadi transporter, tapi deÂngan faÂsilitas jaringan transÂmiÂsi pipa yang dimilikinya malah memÂposisikan diri sebagai traÂder,†katanya.
Sebagai transporter, PGN meÂmang boleh melemparkan perÂmaÂsalahan kekurangan volume ke hulu. Tapi sebagai trader seÂmesÂtinya PGN meÂnguÂpaÂyaÂkanÂnya sendiri dari sumber lain, terÂmasuk impor gas. Jadi dalam harga gas, PGN memÂpoÂsisiÂkan diri sebagai trader, tapi dalam hal volume, BUMN itu mengklaim sebagai transporter.
Menurut dia, sekalipun PGN peÂrusahaan terbuka yang sebagiÂan saÂhamnya milik swasta nasioÂnal maupun asing, sebagai pemeÂgang saham terbesar semestinya pemeÂrintah bisa mengendalikan harga gas yang dijual PGN.
Direktur sekaligus PenÂdiri ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan, peÂmeÂrintah mesti memisahkan fungsi transporter dan trader yang seÂlama ini dijalankan PGN.
“Transporter tidak boleh sekaÂligus menjadi trader,†katanya.
Menurut dia, struktur pasar gas doÂmestik, khususnya menyangÂkut penyediaan jaringan transmisi dan distribusi, memang tidak komÂpeÂtitif, tetapi cenderung meÂngarah ke monopoli. Maka, lanÂjutÂnya, mutÂlak diperlukan interÂvensi langÂsung pemerintah dalam bentuk peÂngaturan harga (reguÂlated price) dan pemisahan yang jelas antara produsen, trader, transÂporter dan konsumen.
“TiÂdak boleh ada yang saling meÂÂrangkap satu sama lain,†ujar Pri.
Dia lantas menyebut, Pasal 19 Peraturan Menteri ESDM Nomor 19 Tahun 2009 tentang Kegiatan Usaha Gas Bumi Melalui Pipa, meÂÂlarang badan usaha pengangÂkuÂtan gas bumi melalui pipa meÂlaÂÂkukan kegiatan niaga pada fasilitas pengangkutan yang diÂmiÂliki atau dikuasainya.
Sementara Dirut PT PGN Tbk Hendi Prio Santoso justru menuÂding kenaikan harga gas yang diÂlakukannya per 15 Mei 2012 unÂtuk Jawa Barat atas perÂmintaan BP Migas. “Jadi pada tahun lalu, BP Migas menyamÂpaikan bahwa harga kami akan di-review kemÂbali,†kilah Hendi.
Hendi mengaku kaget mendaÂpatkan pemberitahuan tersebut mengingat kontrak yang telah diÂlakukannya dengan perusahaan hulu merupakan kontrak jangka panjang yang berlaku hingga tahun 2023.
“Kami kaget harga gas domesÂtik akan di-review karena konÂÂÂtrak kami adalah kontrak jangka panjang yang harganya fix. SeÂhingga waktu permoÂhoÂnonan terÂsebut, kami surprised karena seÂlain kontraknya jangka panÂjang, harganya sudah fix,†jelas Hendi. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08