MuÂhaÂmmad Nuh
MuÂhaÂmmad Nuh
RMOL.Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memastikan hasil audit laporan keuangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun ini mendapat rapor merah alias disclaimer (tidak memberikan pendapat).
Menteri Pendidikan dan KeÂbuÂdayaan (Mendikbud) MuÂhaÂmmad Nuh dinilai tak mau beÂlajar dari periode seÂbeÂlumnya daÂÂlam memperbaiki carut-maÂrutÂÂnya peÂngelolaan aset di seÂjumÂlah uniÂversitas yang berÂpoÂtenÂsi terÂjadinya korupsi.
Hal itu dikatakan Anggota BPK bidang Pendidikan Rizal DjaÂÂlÂil yang terlihat kecewa meÂlihat kiÂnerja M Nuh selama ini.
“Saya melihat Nuh tidak mau beÂlajar dari periode sebelumnya yang pernah mendapatkan rapor merah. MestiÂnya hasil audit BPK itu bisa segera ditindaklanjuti dan dibenahi, bukan malah dibiarkan begitu saja,†keluh Rizal kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Rizal mengatakan, rapor merah ini sudah beberapa kali diseÂmatÂkan pada Kemendikbud, mulai 2010 dan 2011. Sayangnya, lanjut RiÂzal, status merah ini tidak diÂjaÂdikan pembelajaran buat Nuh untuk bekerja lebih baik lagi.
“Mendikbud sudah berjanji unÂtuk memperbaikinya dan mestÂiÂnya itu tidak terulang lagi,†ucap bekas anggota Komisi XI DPR ini tanpa menyebutkan kaÂpan laÂporÂan keuangan disclaimer Nuh diÂumumkan ke publik.
Dijelaskan Rizal, rapor merah ini lebih disebabkan banyaknya aset universitas di KemendikÂbud yang tidak terurus yang diÂangÂgap berÂpotensi disalahguÂnakan. ApaÂlagi aset tersebut tiÂdak terÂcatat deÂngan benar.
“Aset tanah di beberapa uniÂverÂsitas mencapai ratusan hektar diÂbiarkan telantar dan dihuni masÂÂyarakat. Padahal, jika kamÂpus itu mau melakukan peÂngemÂbangan, memerlukan biaya tingÂgi untuk menariknya kemÂbali dari masyaÂrakat,†jelasnya.
Selain itu, lanjut dia, aset baÂrang dan jasa serta hibah yang diÂberikan kepada kepala daerah tiÂdak tercatat dengan baik. PaÂdaÂhal, aset itu bernilai ekonomi tingÂÂgi dan menjadi incaran invesÂtor di dalam maupun luar negeri.
Rizal menyebutkan, aset dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di Kementerian juga maÂsih bermasalah. Persoalan aset ini harus segera dirapikan, jika KeÂmendikbud ingin mendapatkan remunerasi (penggajian atau subÂsÂtitusi dari uang yang diteÂtapkan dengan peraturan tertentu sebaÂgai timbal balik yang bersifat rutin) seperti kementerian lain.
Dari temuan BPK yang terÂbeÂsar adalah PNBP yang dikelola di luar mekanisme APBN senilai Rp 23,8 triliun. Hibah yang diterima pada delapan satuan kerja (Satker) juga belum diÂlaÂporkan dalam LaÂporan Realisasi Anggaran (LRA) pada 2011 seÂnilai Rp 217,2 miliar.
Tak hanya itu, BPK menemuÂkan rekening aktif yang dibuka tanpa memberitahukan kepada Kementerian Keuangan sehingÂga dapat dikategorikan rekening ilegal dan itu belum jelas perÂtangÂgung jawabannya.
Rizal minta, KeÂmenÂdikbud meÂnindaklanjutinya seÂsuai rekoÂmendasi. Penting bagi KÂeÂmenÂÂdikbud untuk meÂmakÂsiÂmalÂkan peranan Inspektorat JenÂderal (Itjen) sebagai internal auÂditor serÂta mendidik dan melatih peÂjaÂbat pelaksana kegiatan keÂuangan.
“Mendikbud seharusnya bisa mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki sehingga hasil auÂditnya tidak disclaimer. Apalagi anggaran Kemendikbud paling besar dibandingkan dengan keÂmenterian lainnya,†tutur Rizal.
Tidak Paham
Apa tanggapan Menteri Nuh atas hasil audit BPK tersebut? “Saya heran, justru kalau yang dibilang disclaimer adalah satu persen dari total anggaran keÂmenÂterian tidak bisa diperÂtangÂgunÂgÂjaÂwabkan. Sedangkan ini, satu persÂen dari Rp 6,5 triliun, artinya seharusnya ada minimal Rp 650 miliar dana yang bermasalah, tapi sesuai pemberitahuan auditor BPK, adalah Rp 614 miliar saja, alias tak sampai satu persen dari total anggaran,†terang Nuh.
Menurutnya, dia sebenarnya tak mempermasalahkan opini disclaimer selama prosedur dan alasan pemÂberiannya lazim dan sesuai mekanisme. Nuh juga mengaku langsung meÂmeÂrinÂtahkan jajaranÂnya meminta laÂpoÂran itu ke BPK, namun pihak BPK tak memÂbeÂriÂkan.
Nuh menyatakan, hasil audit BPK tersebut tidaklah adil karena nama kementeriannya telanjur jelek di mata publik sesaat setelah opini disclaimer diumumkan. Bekas rektor ITS itu mengaku, tak paham alasan di balik disclaimer itu.
“Ketika kami minta hasilnya tak diberikan. Ini namanya tidak fair. Soal ketidakberesan sistem peÂngendalian intern juga sudah kami tanggapi. Dikasih waktu empat hari dan saya sudah sampaikan. Kami sudah beri tanggapan, kok masih disclaimer juga,†curhat Nuh.
Anggota Komisi X DPR biÂdang Pendidikan Dedi Gumelar meÂnilai, wajar jika lembaga yang diÂnaÂhÂkodai Nuh ini terus mendapat raÂpor merah, karena pengawasan peÂngelolaan aset yang ada di KeÂmenÂteriannya tak berjalan makÂsimal.
“Kasus dugaan korupsi di lingÂkungan Universitas Indonesia (UI) menunjukkan bukti burukÂnya pengaÂwasan pemerintah. Saya kira preÂdikat disclaimer suÂdah teÂpat dibeÂrikan dan keÂmenÂterian tersebut seÂbaiknya diÂevaÂluasi kembali,†tegas Dedi.
Politisi yang biasa disapa Miing ini mengusulkan agar angÂgaran sebesar 20 persen di KeÂmenÂdikÂbud lebih baik dipotong. Sebab, dengan anggaran yang besar, KeÂmendÂikÂbud dinilai tak mampu mengelola aset PerÂguÂruan Tinggi (PT) dengan baik. Buktinya kemÂbali mendapat status disclaimer. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16