ilustrasi, Blok Cepu
ilustrasi, Blok Cepu
RMOL.Pelaksanaan proyek Banyu Urip, Blok Cepu, masih terÂkenÂdala masalah non teknis seperti perizinan, sumber daya manusia dan penyerapan komÂponen lokal.
Perkembangan pelaksanaan kontrak engineering, procureÂment and construction (EPC) yang terhubungan dengan kondisi sosial lebih lambat dari target yang ditentukan. Seperti, EPC I yang mengerjakan fasilitas proses produksi, EPC 2 yang memÂbaÂngun jalur pipa di darat, serta EPC 5 dengan kontrak pemÂbaÂngunan fasilitas infrastruktur dan waduk penampung air injekÂsi.
Contoh kendala yang mengeÂmuka, pekerjaan EPC 5 belum dimulai karena terhalang belum keluarnya 29 Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemerintah Daerah (Pemda) Bojonegoro.
Sebaliknya, kontrak yang tidak terkait kondisi sosial, misalnya EPC 3 yang membangun jalur pipa laut dan EPC 4 yang memÂbangun fasilitas penyimpanan dan alir muat terapung realiÂsaÂsinya lebih tinggi dari target.
Menurut Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP MiÂgas) Gde Pradnyana, pihaknya terus berusaha proyek Cepu dapat seÂsuai target, yakni produksi 90.000 barel minyak per hari (bph) pada Mei 2014.
“Semua pihak, termasuk pemÂda mesti mendukung penuh seÂluÂruh kebutuhan proyek,†katanya.
Berdasarkan data BP Migas, produksi di blok Cepu pada Mei 2014 baru sekitar 50 persen dari total kapasitas fasilitas produksi. Produksi secara bertahap akan meningkat seiring bertambahnya jumlah sumur produksi. DitarÂgetkan, produksi 150.000 bph dapat terjadi pada Agustus 2014 dan akan menyentuh 185.000 bph pada November 2014.
Dengan jadwal proyek yang sangat ketat itu, BP Migas meÂminta Mobil Cepu Ltd, operator blok Cepu, melipatgandakan volume pekerjaan tanpa mengÂabaikan kualitas
Seperti diketahui, lima EPC dengan total nilai kontrak sekitar 1,3 miliar dolar AS telah ditanda tangani sepanjang tahun 2011. Dengan cadangan sekitar 450 juta barel minyak, Banyu Urip meruÂpakan lapangan dengan caÂdangan minyak terbesar yang masih beÂlum tereksploitasi.
Gde menjelaskan, melihat trend eksplorasi yang lebih banyak menemukan gas, penemuan caÂdangan minyak sebesar Banyu Urip kemungkinan belum akan terulang dalam lima tahun ke deÂpan. “Proyek inilah yang memÂbuat produksi minyak nasional daÂpat mencapai 1 juta bph,†kata Gde.
Pembangunan fasilitas proÂduksi penuh Lapangan Banyu Urip meÂrupakan pekerjaan besar deÂngan kompleksitas yang tinggi. Fasilitas itu mencakup 49 sumur yang terÂhubung pada tiga anjungÂan, seÂbuah fasilitas pusat pengoÂlahan, pipa sepanjang 95 kiloÂmeter untuk mengalirkan minyak ke fasilitas penyimpanan dan alir-muat terÂapung (Floating Storage and Offloading/FSO) bermuatan miniÂmal 1,7 juta barel, dan kapal tanker yang akan mengÂangkut minyak dari FSO tersebut.
MCL dan Ampolex (Cepu) PTE Ltd. keduanya merupakan anak perusahaan dari ExxonÂMobil Corporation merupakan pemegang 45 persen saham parÂtisipasi dalam Blok Cepu. Kedua perusahaan ini berpartner deÂngan Pertamina EP Cepu yang juga meÂmegang 45 persen saham partisipasi, serta Badan Kerja Sama (BKS) blok Cepu yang memegang 10 persen saham partisipasi. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08