Berita

presiden sby/ist

Tiga Kebijakan Nasionalis SBY Pro Masa Depan Bila Dijalankan Konsisten

SENIN, 25 JUNI 2012 | 15:53 WIB | LAPORAN:

RMOL. Selama ini, kebijakan ekonomi Indonesia berorientasi ekonomi jangka pendek. Kebijakan jangka pendek ini diwarnai dengan kebijakan eksploitasi sumber daya alam (SDA) berlebihan demi pertumbuhan ekonomi.

"Sehingga mengalihkan kita terhadap kesediaan SDA untuk masa depan, ditambah lagi eksploitasi selama ini dilakukan oleh korporasi asing," kata ekonom Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, Dahnil Anzar Simanjuntak, kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Senin, 25/5).

Selain itu, lanjut Dahnil, selama ini hasil tambang Indonesia dibawa mentah-mentah keluar negeri sehingga tidak memiliki nilai tambah bagi ekonomi dalam negeri. Satu contoh, eksploitasi besar-besaran dilakukan secara serampangan terhadap batubara. Padaha cadangan batubara Indonesia hanya sekitar 0,5 persen dari cadangan dunia.


"Namun, berdasarkan data dari World Coal Association pada 2010, Indonesia menjadi negara pengekspor batubara nomor dua dunia setelah Australia," ungkap Dahnil.

Sedangkan Cina, lanjut Dahnil,  sebagai produsen Batubara terbesar di dunia, hanya menempati urutan ke delapan dalam produksi dan mengeksport batubara. China memang berorientasi pada hilirisasi dan impor komoditi tambang untuk menjaga cadangan SDA untuk masa depan ekonominya.

Karena itu, Dahnil mengapresiasi tiga kebijakan nasionalis SBY yang dilahirkan belakangan. Tiga kebijakan SBY tersebut adalah Peraturan Presiden (Perpres) soal Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah yang bisa mendorong penggunaan produk-produk dalam negeri secara optimal; kebijakan soal divestasi saham miberba yang tertuang dalam dalam Peraturan Pemerintah (PP) 24/2012 yang mewajibkan perusahaan tambang asing untuk mendivestasikan sahamnya minimal 51 persen  setelah 10 tahun berproduksi; dan kebijakan ketiga terkait dengan Peraturan Menteri ESDM 07/2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral, yang mewajibkan pengolahan dan pemurnian hasil tambang dilakukan di dalam negeri sebelum tahun 2014.

"Bagi saya, kalau kebijakan ini konsisten maka akan baik bagi ekonomi masa depan kita. Bagi saya, kebijakan ini pro masa depan. Begitu juga dengan kebijakan pengadaan barang dan jasa, saya pikir punya nuansa mendorong ekonomi nasional" demikian Dahnil. [ysa]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya